Dicegat Orang

Memberi tumpangan pada orang yang sejalan namun beda tujuan.

Memberi tumpangan pada orang yang sejalan namun beda tujuan.

Untuk memastikan sakitnya, bapak sepuh ini periksa ke rumah sakit daerah. Sehari perjalanan berangkat, sehari periksa-periksa dan administrasi-administrasi, sehari perjalanan pulang. Ditemani anaknya.

Siang tadi perjalanan baru setengah. Tumpangan awal berbelok ke arah berbeda. Mereka turun di persimpangan.

Saat saya dan teman lewat, mereka melambaikan tangan tanda minta tumpangan. Saya langsung menepikan mobil menghampiri mereka.

“Pak, numpang sampai depan ya. Rumah saya sebelum tanjakan…,” itu saja inti permintaan yang saya tangkap. Selebihnya saya tak paham. Bapak ini bercakap dengan campuran bahasa lokal.

Mendengar ia pulang dari berobat, saya memperlambat laju. Jalan berlubang di beberapa titik. Tentu menyiksanya jika saya libas lubang-lubang itu.

Saya sudah menduga. “Numpang sampai depan” pastilah tidak dekat. Kalau dekat mereka bisa jalan kaki. Dan benar, mereka sempat tidur hampir sejam sebelum alarm tubuh mereka membangunkan. “Itu rumah saya,” tunjuknya pada sebuah bangunan kayu yang berdiri sendiri di tengah-tengah bulak.

Sambil menawarkan mampir dan minum kopi, bapak itu bertanya, “Berapa, Pak?”

Saya tahu, ia tanya ongkos menumpang. Saya dan teman kompak menjawab, “Nggak usah, Pak.”

Batin saya, saya bukan taksi aplikasi. Jadi, tarif nol. Dan karena bukan taksi (alesan! Padune lali takon), saya tidak tahu nama bapak itu.

@AAKuntoA 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *