Dilema Kardi, Bikin Mandiri Malah Sendiri

Dilema Kardi Bikin MandiriParadoks kampanye kewirausahaan berbenturan di lapangan. Ketika geliat semangat “buka usaha sendiri” menyala-nyala, semangat sebagian pengusaha meredup.

Cerita Pak Kardi siang ini layak saya bagikan. Di tengah usaha yang masih bagus, dan pasar yang pasti terus membutuhkan jasanya, bengkel KARDI AC miliknya mau ia tutup.

“Begitu karyawan mahir, mereka keluar. Pamit buka usaha sendiri,” keluh Pak Kardi. Ia pun harus turun sendiri mengerjakan permintaan pelanggan.

“Saya capek, mau pulang ke Situbondo. Bertani saja,” ujar ayah tiga anak ini.

 

@AAKuntoA
CoachWriter | solusiide.com

Sayang bengkelnya, sergah saya. Ia sudah merintis sejak 1997, ketika baru puluhan usaha serupa di Denpasar, dan mau tutup ketika ratusan bisnis serupa memadati kota ini. “Karyawan terakhir sudah saya tawari sistem bagi hasil. Ia yang kelola, saya pulang kampung. Ia tinggal nerusin pelanggan lama,” belanya. Tawaran ditolak. Teknisi tetap keluar.

Saya cecar, di kampung mau hidup dari apa? Jika bertani, apa hasilnya bisa diandalkan?

Lelaki 52 tahun ini menghela napas. Ia tak lagi punya gairah bekerja. Rasanya jenuh. “Dua anak saya sudah bekerja. Tinggal satu masih sekolah. Tak ada kebutuhan yang mengharuskan saya bekerja siang-malam. Saya mau menikmati hidup,” pungkasnya.

Pak Kardi yang ahli membikin dingin mobil orang rupanya sudah pula mendinginkan hatinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *