Diplomasi Sarung

150801 Muktamar NUSemalam, dari tayangan langsung TVRI, Presiden Joko Widodo tampak bersarung saat menghadiri dan membuka Muktamar Nahdlatul Ulama ke-33 di alun-alun Kota Jombang, Jawa Timur. Bersamanya, hanya Gus Mus yang berpakaian senada: bersarung dan berjas. Pakde Karwo, Gubernur Jawa Timur, bercelana panjang dan berbaju batik lengan panjang. Ketua PB NU Kiai Said Aqil Siradj berjas lengkap dengan dasi.

Tentang sarung, Jokowi bercerita, sebelum ke lokasi acara, ia bertemu Megawati. “Sarungnya bagus,” ujar Jokowi menirukan pujian Mega. “Apanya yang bagus, Bu?” balas Jokowi. “Warnanya.” Sarung Jokowi berwarna merah.

Sebelum Jokowi naik podium, di awal sambutan, Ketua Panitia Daerah Gus Ipul, yang juga Wakil Gubernur, berseloroh, “Pak Jokowi pakai sarung untuk menghormati NU. Saya pakai celana panjang untuk menghormati presiden.”

“Maafkan saya, Pak Jokowi. Sebagai wakil gubernur beliau bisa saya kontrol. Tetapi sebagai ketua IGGI tidak bisa saya kontrol ucapannya,” kelakar Pakde Garwo begitu beroleh kesempatan sambutan. Apa itu IGGI? “Ikatan Gus-Gus Indonesia,” sambung Pakde Karwo.

Jadilah pembukaan muktamar semalam penuh canda. Di depan layar televisi saya turut terpingkal. Hanya Gus Mus yang kotbahnya semalam tak berbumbu guyon. Selebihnya mengingatkan pada sosok Gus Dur yang sakin doyan guyon tampil bercelana pendek di teras Istana Negara demi menenangkan umat yang ingin membelanya dari ancaman pemakzulan kala beliau jadi presiden.

Guyon dan sarung begitu lekat di benak saya tentang NU.

Tahun 1999, saya beroleh tugas meliput Muktamar NU ke-30 di Lirboyo, Kediri. Itu pengalaman pertama saya meliput acara sebesar muktamar. Dan itu pengalaman pertama saya terbengpng-bengong dengan sarung. Selain kyai-kyai kondang yang kerap tampil di media, tak mudah bagi saya mengenali siapa saja kyai yang perlu saya wawancarai. Berulang kali saya terkecoh. Penampilan para kyai itu begitu bersahaja dengan sarungnya. Saya yang masih suka menilai orang dari penampilannya—meski sudah sering diwanti-wanti untuk “don’t judge a book by its cover”, sungguh sulit menengarai mana kyai, mana santri, mana penggembira. Terlebih ketika mereka sudah keluar dari arena muktamar, berbaur dengan masyarakat yang membludak di pasar malam seputar arena, duhhhh… kekyaian mereka tak bisa saya kenali.

Pemandangan terbalik saya saksikan di dalam arena muktamar. Sarung-sarung itu berubah menjadi semacam alat serang. Kyai-kyai bersarung itu ternyata garang ketika berdiskusi. Di balik sarung mereka tersimpan banyak pengetahuan dan kebijaksanaan rupanya. Dan sejak itu saya belajar, salah satu tolok ukur intelektualitas kyai-kyai bersarung itu ada pada pendapat, argumentasi, dan pemaparan yang serius dibalut dengan humor. Butuh konsentrasi serius untuk menyimak sebelum terbahak-bahak.

150801 Muktamar MuhammadiyahBelajar dari peristiwa itu, saat menjalani KKN tahun 2002, saya membekali diri dengan sarung. Lokasi saya di Tegalrandu, Magelang, desa yang lebih dari sekadar semuanya berpenduduk muslim, melainkan terdapat pondok pesantren besar di sana. Hanya saya dan seorang teman yang non-muslim.

Setiap menghadiri acara warga, entah pengajian, berjanjen, maupun kumpulan saya pakai sarung, jas almamater, dan peci. Alhasil, saya pula yang selalu didapuk mewakili teman-teman memberi sambutan. Modal saya hanya sarung dan kosa kata terbatas “assalamualaikum” dan kesediaan diri hadir, duduk, dan melahap suguhan yang dihidangkan. Selebihnya? Guyon. “Gegandengan basa jawi kula grothal-grathul, kepareng kula matur mawi basa endonesa, nggih?” “Nggihhh…,” selesai sudah sambutan saya. Selebihnya ngobrol ringan.

Kepada saudara-saudara nahdliyin, saya ucapkan selamat merayakan muktamar di Jombang. Juga selamat bermuktamar di Makassar bagi saudara-saudara Muhammadiyah. Sukses.

 

Salam rindu bersarung,

@AAKuntoA | CoachWriter

www.solusiide.com | aakuntoa@solusiide.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *