Diplomat Recehan, Diplomat Pariwisata

Diplomat Recehan, Diplomat PariwisataDi kampung, rada populer ungkapan ini, “Belanda masih jauh.”

Ngapain bersiap?
Ngapain belajar?
Ngapain berlatih?

Belanda masih jauh. Jauh kita dari peperangan. Ngapain khawatir?

“Belanda” adalah metafora dari “musuh”. Rasanya, istilah itu tinggalan dari serdadu perang kemerdekaan.

Sekarang, adakah perang hanya terhadap musuh? Tidakkah musuh yang nyata kini adalah ketidaksiapan diri, sikap menyepelekan, dan perilaku menggampangkan?

Tukang betor (becak bermotor) yang saya rekam di samping Stasiun Tugu Yogyakarta, Sabtu (1/10) sore ini perkecualian. Justru karena ia tukang becak, ia tahu persis “belanda” sangat dekat. Setiap saat ia bisa mengangkut “londo”.

Percakapan yang saya kuping diam-diam, ia terdengar sabar menerangkan uang kembalian atas pembayaran yang ia terima dengan pecahan lima puluh ribu. Kembalian yang ia berikan berupa lembaran puluhan ribu, ribuan, dan recehan logam. Tak terdengar persis berapa nominalnya. Yang terang, londo-londo itu penasaran. Mereka mau memastikan kembalian yang mereka terima senilai dengan angka yang ada di kepala.

Saya merenung. Nasib Jogja sore kemarin ditentukan oleh “diplomat recehan” ini. Jika terjadi ketidakpuasan, lalu londo-londo itu enggan kembali ke Jogja, atau malah menebar kabar buruk tentang kota wisata ini, mereka tidak bisa dihibur seperti pembelanja di supermarket yang mudah ditenangkan dengan janji: “Kami kembalikan 2x kali selisihnya.”

 

@AAKuntoA
CoachWriter | solusiide.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *