Duplikasi Kepemimpinan, Sisi Lain Bisnis

Duplikasi kepemimpinan: belajar dari yang lebih muda

Duplikasi kepemimpinan: belajar dari yang lebih muda

Untuk kesekian kali saya menjumpai kisah seperti ini: orang keluar dari tempatnya bekerja untuk menekuni bisnis. Dan saya selalu terkesima dengan kisah mereka. Saya selalu menyimak tuturan mereka, dan menjumput setiap butir mutiara keberanian yang mereka keluarkan dari lumpur keraguan.

Seperti siang kemarin. Di siang yang sangat terik, saya menerima tamu. Ini kali pertama saya bersua dengan orang muda yang terpaut delapan tahun tanggal lahirnya ini. Ia datang ke Bali untuk mengikuti pelatihan “menduplikasi kepemimpinan” bertajuk LEADERSHIP INCUBATOR. Sejak kelas dua SD, ini kali kedua ia datang ke Pulau Dewata. Ojek online menolongnya, membuatnya bebas pergi ke mana pun, bahkan ke tempat yang belum pernah ia jejak.

Kami satu komunitas di WA Group sebuah entitas bisnis. Dia salah satu “leader” saya. Sudah beberapa kali kami berinteraksi di grup. Saling menyapa, saling mendukung. Dan kemarin kali pertama kami bertatap muka. Rasanya sudah seperti sobat lama.

“Saya mau masuk ke De Britto nggak jadi. Nggak boleh gondrong hahaha,” kami mulai percakapan dengan canda. Pengalaman bersekolah di Jogja jadi pencair cerita kami. Keputusannya untuk tetap di Jogja kemudian menjadi daya tarik saya untuk bertanya.

“Kantor saya pindah ke Semarang. Mestinya saya ikut pindah. Namun, saya memutuskan untuk tetap di Jogja, menemani istri,” ujarnya tentang keputusan besar dalam hidup yang diambilnya dua bulan lalu. Ia memilih untuk tidak melanjutkan bekerja di Google, dan tentu saja tidak melanjutkan jaminan penghasilan yang besar dari sana.

“Saya memutuskan full menekuni bisnis ini,” tukasnya mantap. Saat ia mengucapkan itu, dalam hati saya bertanya, apakah saya juga akan mengikuti jejaknya, meninggalkan industri media dan bisnis menulis, untuk kemudian 100% menjalankan bisnis ini? Sambil membatin, saya mengingat nama-nama para “leader” yang ada di grup saya. Mereka tinggalkan pekerjaan lama untuk sepenuhnya menjalankan bisnis ini.

Baiklah, saya simpan suara hati saya. Ada suara lain yang membisiki saya, “Kun, bisnis ini bisa kamu jalankan sekaligus dengan coaching dan training menulismu. Kan, sistem bisnis ini selaras dengan bisnis menulismu: berbagi cerita. Nggak jualan, nggak terima-antar-teruskan barang, nggak terikat tempat dan waktu… Dan untuk berbagi cerita, kamu bisa sekaligus praktik ‘copywriting’….”

Ya… ya… ya… Saya mengangguk. “Mas Kunto mau full juga seperti saya?” Saya mengangguk. Huh, orang muda ini bisa membaca pikiran saya. Sambil makan siang, menyantap makanan khas Bali, saya minta dia untuk melanjutkan ceritanya. Saya tidak mau memotong keseruan saya dengan menumpahkan isi kepala saya.

“Saya suka bisnis ini karena sistemnya sudah jadi. Saya tidak membayangkan ketika tahun 2018 nanti bisnis ini resmi diluncurkan, peminatnya pasti akan membludak. Saya dengar, di Bali saja mau didirikan kantor di setiap kabupaten untuk memudahkan orang bergabung,” lanjutnya.

Kali ini saya tidak ingin memperpanjang ceritanya tentang bisnis ini. Keputusan saya untuk bergabung dengan bisnisnya dilatari oleh pertimbangan yang sama. Bahwa bisnis ini tepercaya—diakui oleh otoritas negara yang menaunginya, sistemnya mudah dan memudahkan, dan semangatnya Indonesia sekali: gotong royong.

“Itu yang saya dapatkan di seminar sehari kemarin, Mas,” tandasnya. Aha, saya suka ini. Saya penasaran mengetahui apa gerangan yang menggerakkannya terbang khusus ke Bali hanya untuk mengikuti seminar. Biaya sendiri pula. “Pembicara kemarin, yang adalah pionir bisnis ini di Bali, dan sekarang salah satu dari enam ‘leader’ tertinggi di Indonesia, menegaskan bahwa bisnis ini bisa besar dan dibesarkan hanya jika kita yang menjalankannya siap menjadi ‘leader’ sekaligus siap bekerja dalam tim.” Ia mencontohkan, kunjungannya ke rumah saya adalah perwujudan dari semangat “pemimpin yang baik bekerja sama dengan timnya”. Dan ia mengaku hanya menirukan apa yang dilakukan sebelumnya oleh ‘leader’ terdahulunya. “Saya ditemui khusus Pak Budiaji Pranata untuk ngobrolin bisnis ini. Penghasilannya sudah ratusan juta, dan mau menemui saya yang baru memulai bisnis ini. Baru di bisnis ini saya temui adalah ‘leader’ tertinggi mau nyamperin tim pemulanya,” ungkapnya sembari meyakini bahwa teladan pemimpin menjadi faktor kunci keberhasilan bisnis.

Di detik itu saya menggarisbawahi: apa sih sejatinya esensi bisnis? Hanya sekadar untuk mencari uang? Tidak. Jika hanya mencari uang tidak perlu bisnis. Melipatgandakan uang? Hah, Kanjeng Dimas? Hahaha

Bisnis itu medium bertumbuh. Semua bertumbuh: modal bertumbuh, kapasitas bertumbuh, pasar bertumbuh, dan lebih-lebih: pebisnisnya bertumbuh. Maka, meski melibatkan uang dalam rantai alpha-omeganya, bisnis bukan semata uang. Uang itu seperti darah yang menyebar di seluruh tubuh. Karena darahlah tubuh hidup. Namun, tubuh bukan hanya darah. Demikian pula bisnis.

Maka, ketika sosok muda ini menemukan faktor “bertumbuh” yang besar dalam bisnis ini, saya mengiyakan. Di usia yang jauh lebih muda dari saya, ia hadir mengunjungi saya dengan sikap yang memancarkan pribadi bertumbuh. Bisnis yang ia ikuti sekarang menempanya menjadi pemimpin. Bukan pemimpin untuk dirinya sendiri, dan bukan pemimpin untuk orang lain, melainkan pemimpin yang menyediakan diri melahirkan pemimpin berikutnya. “Ayo, Mas, kalau ada teman Mas Kunto di Jakarta, Jogja, atau Semarang yang mau bergabung dengan bisnis kita, kabari saya. Saya bantu menemuinya,” tawarnya ringan. Saya mengiyakan dengan mantap karena sebelum ini sudah terbukti, Mas Peter Dendi, karib lama yang sudah lebih dulu tergabung di bisnis ini, dengan enteng hati menemui teman-teman saya.

Terima kasih, Mas Christian Chandra, sudah meluangkan diri mengunjungi saya. Terima kasih atas inspirasi hidup sampeyan. Dan terima kasih terutama karena pencerahan tentang bisnis DUPLIKASI KEPEMIMPINAN ini. Sukses berbagi cerita, sukses memberi… Dalam memberi kita berkelimpahan…

 

Bali, 9 Mei 2017
@AAKuntoA
bit.ly/kunto3i

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *