Editor NLP

Setiap orang bisa menjadi editor. Namun, tidak setiap editor bisa memahamkan pesan pada setiap orang secara tepat.

Suatu siang, di tengah-tengah rehat kelas pembelajaran licensed practitioner of NLP (Neuro-Linguistic Programming), Mas Ronny F. Ronodirjo, sang trainer, mengutarakan keinginan agar tulisan yang akan ia terbitkan menjadi buku disunting oleh editor yang paham NLP. Saat anda membaca akhir dari kalimat awal di depan, terlintas di benak anda bahwa ada editor yang paham NLP, sekaligus anda mulai tahu bahwa ada editor yang tidak paham NLP.

“Saya kecewa dengan penerbitan buku saya sebelumnya. Editornya tidak paham NLP. Saya butuh editor yang paham NLP,” ungkap Mas Ronny, Master Trainer NLP dari Richard Bandler, Amerika Serikat. Sambil dalam hati memahami kegusarannya, saat ia menatap mata saya, saya tahu siapa yang ia maksudkan sebagai editor yang paham NLP itu. Saat membaca tulisan ini, Mas Ronny sudah tahu kepada editor siapa naskah bukunya ia percayakan untuk disunting sesempurna penyajian NLP.

Anda penasaran, siapakah editor berkemampuan NLP itu? Teruskan membaca buku ini sambil cermati dan rasakan bagaimana penyuntingan (editing) gaya NLP sangat dibutuhkan untuk mengemas tulisan sehingga getaran komunikasinya lebih bertenaga. Saat anda temukan jawabannya nanti, anda dapatkan sekaligus kunci untuk membuka ruang gelap berbahasa supaya bangsa kita lebih ekspresif dalam berbahasa, sekaligus efektif dalam bersapa.

Tepat. Kata kunci pertama sudah anda cicipi: efektif. Ya, praktisi NLP meyakini, sebagai manifestasi dari komunikasi, ukuran keberhasilan berbahasa adalah efektivitas. Sederhana mengukurnya, yakni apakah pesan yang ditangkap penerima pesan tepat sama dengan isi pesan yang dimaksudkan oleh pengirim.

Pertanyaannya, bagaimana bisa pesan yang terkirim akan ditangkap persis sama oleh penerima pesan? Bagaimana bisa tidak terjadi penyimpangan? Bukankah setiap orang punya daya ungkap dan daya tangkap yang berbeda dalam berkomunikasi? Bukankah bahasa juga memiliki keterbatasan dalam mengungkapkan maksud yang sebenarnya?

Sekali lagi, tepat! Pertanyaan-pertanyaan yang saya lontarkan ini saja sudah memancing banyak hal di benak anda. Bisa jadi anda sedang menambahkan pertanyaan lain. Bisa jadi anda sedang mengupayakan jawabannya. Bisa jadi pula, dan ini lazim, anda sedang mengernyitkan dahi sambil berpikir keras memahami serentetan pertanyaan itu. Pun bisa jadi, orang di sebelah anda langsung beringsut pergi bersikap masa bodoh akan pertanyaan-pertanyaan itu.

Jika itu yang terjadi, apa pun itu, pikiran anda sedang bekerja. Menariknya, apa yang disebut pikiran itu oleh praktisi NLP diyakini berupa pikiran sadar (conscious mind) dan pikiran selain sadar (unconscious mind). Secara matematis, pembagiannya kurang lebih 12% : 88%. Saat anda menghitung, anda melihat bahwa ternyata sebagian kecil saja peran pikiran sadar dalam berkomunikasi. Selebihnya, komunikasi digerakkan dan diresapkan oleh pikiran selain sadar.

Oleh karena itu, dalam berkomunikasi, peran bahasa yang penting. Termasuk, dalam hal ini, bahasa tulis. Mulai kita sadari bahwa bahasa komunikasi tertulis bertugas menyapa bukan hanya pikiran sadar, melainkan juga pikiran selain sadar. Bahasa tidak sekadar membuat penerima pesan mengerti, melainkan melakukan persis sesuai pengertian tersebut. Paradoksalnya, praktisi NLP meyakini bahwa the map is not the territory—peta suatu wilayah tidak akan pernah sama persis dengan wilayah yang digambarkan.

Tugas editor yang menguasai NLP-lah untuk mendamaikan tegangan ini. Saat pengarang menulis “Boni menghidupkan lampu”, sebagai contoh, editor perlu pertama-tama paham apa yang ada di benak penulis tentang “menghidupkan”. Apakah “menghidupkan” berarti menyalakan? Apakah “menghidupkan” berarti mengisi nyawa sebagaimana menghidupkan orang mati? Apakah “menghidupkan” berarti membuat yang sudah hidup menjadi lebih hidup?

Langkah ini perlu dikuasai betul oleh editor karena baik pengarang maupun pembaca nantinya memiliki potensi perbedaan terhadap pesan yang ditulis, dalam hal ini “menghidupkan”. Pengetahuan, ingatan/pengalaman, dan kepercayaan tiap orang akan sesuatu hal berbeda sehingga perwujudannya pun beda. Diyakini oleh praktisi NLP, setiap manusia dianugerahi indera penglihatan (visual), pendengaran (auditory), perabaan (kinesthetic), penciuman (olfactory), dan pencecapan (gustatory) untuk menangkap pesan secara utuh dan sempurna.

Tentang “menghidupkan”, masih sebagai contoh, editor yang paham NLP akan menyelidiki baik di benak pengarang maupun pembaca tentang masing-masing indera tersebut. Ia harus tahu persis gambar apa yang dimaksud “hidup”: seperti apa terang-redupnya? Apakah hidup seperti manusia? Ia harus dengar persis apa yang dimaksud “hidup”: apakah bersuara seperti bunyi mesin mobil? Ia harus rasakan seperti apa lampu yang “hidup”: panas-dingin? Ia harus pula dekatkan hidung untuk cium bau lampu yang “hidup”: ada aromanya? Ia harus pula menjulurkan lidahnya untuk mendekati rasa lampu yang “hidup”: adakah manis-pahitnya?

Bagaimana, anda makin paham dengan dasar-dasar berbahasa yang efektif? Ya, kesesuaian gambar-suara-rasa dalam suatu kata-kalimat antara apa yang ada di benak pengarang dan pembaca itulah ukuran efektivitas komunikasinya. Dengan demikian, anda juga mulai tahu kenapa dibutuhkan editor yang paham NLP. Anda benar, karena editor NLP tidak ada serta-merta mengubah “menghidupkan” menjadi “menyalakan”, “meng-on-kan”, atau “menyulut” tanpa alasan dan tujuan yang jelas. Sebaliknya, jika mengganti kata-kalimat tertentu, editor tersebut juga paham tentang kata-kalimat pengganti seperti apa yang memang sungguh-sungguh tepat ditimpakan.

Ini baru sebagian kecil. Editor yang paham bahasa pikiran juga lebih utuh dan presisi dalam memoles pesan komunikasi. Ia tahu perubahan sikap pembaca saat membaca sederet teks. Ia tahu apa yang dipikirkan dan tidak dipikirkan pembaca saat membaca teks. Ia tahu konteks yang melintas di benak pembaca saat membaca teks. Ia tahu bagaimana menyusun teks yang hanya mengizinkan pembaca menjawab, “Ya, saya setuju!”

 

Salam kreatif,

@AAKuntoA | aakuntoa@solusiide.com

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *