Evita Lilies: “Don’t Cry for Me, Kutusian!”

Poster film "Evita" (1986) (image: evita-themovies.com)

Poster film “Evita” (1996) (image: evita-themovies.com)

Ada “Evita” di depan nama Lilies, ternyata. Saya baru mengetahuinya saat ikut misa pemberkatan jenasah almarhumah yang wafat 6 Agustus 2021. Selama ini saya hanya tahu nama beliau Lilies Susanti Handayani.

Belajar dari sang suami Servasius “Babe Bambang” Pranoto, saya ingin mengenang Bunda Lilies dengan mencatat warisan nilai berharga yang beliau teladankan selama hidup. “Hari ini adalah hari bahagia karena Bunda telah bertemu dengan Tuhan.”

I

Ibu Negara Eva Peron dan Presien Juan Peron menyapa warga dari balkon. (foto: The Sun)

Ibu Negara Eva Peron dan Presiden Argentina Juan Peron menyapa warga dari balkon. (foto: The Sun)

Argentina pernah punya ibu negara yang sangat dicintai rakyatnya. Ia Eva Peron, istri Juan Peron. Ia memperjuangkan hak perempuan supaya memperoleh hak suara di pemilihan umum. Ia dirikan Partai Feminin Peronista untuk membela kaum buruh.

Sebelum pindah ke Buenos Aires dan berkarier sebagai aktris sejak usia 15 tahun, ia tumbuh di kawasan miskin bernama Desa Los Todos. Ibunya penjahit, yang ketika ekonomi membaik mendirikan sekolah asrama. Eva suka ikut bermain bersama. Sejak itu pula ia suka pada sinema, hingga suatu saat ia diikutkan dalam drama kecil berjudul “Arriba Estudiantes”.

Buenos Aires mengubah hidupnya. Karier perfilmannya bersinar di ibu kota negara itu. Ia disebut aktris termahal di Argentina pada eranya.

Ia memperjuangkan hak perempuan supaya memperoleh hak suara di pemilihan umum. Ia dirikan Partai Feminin Peronista untuk membela kaum buruh.

Perubahan hidup berlanjut sejak perkenalannya dengan Juan Peron. Mereka menikah. Bakat terpendam Eva muncul tatkala langkah Juan Peron maju sebagai calon presiden dijegal lawan-lawan politiknya. Juan Peron ditangkap. Usaha pembebasan didesakkan pendukung-pendukungnya, dan berhasil.

Eva tampil dalam kampanye di radio. Retorikanya disebut-sebut mampu menyatukan para buruh. Juan Peron pun menang dan menjadi Presiden Argentina sejak 4 Juni 1946. Eva Peron sejak itu menjadi ibu negara. Ia mendirikan Yayasan Eva Peron dan mendirikan banyak rumah sakit, sekolah, panti asuhan, dan lembaga amal lain. Gerakannya ini menaikkan popularitas Juan Peron sebagai presiden kaum proletar. 1951 Juan Peron dilantik menjadi presiden untuk periode kedua.

Tak lama Eva Peron bisa mendampingi suaminya sebagai ibu negara. Setelah sempat jalani operasi kanker serviks di Amerika Serikat, pada 26 Juli 1952 ia wafat di usia 33 tahun. Jenasahnya diawetkan supaya pendukungnya bisa memberi penghormatan setiap saat.

Kisah Eva Peron kemudian difilmkan dengan judul “Evita” pada 1996. Madonna membintangi film itu sebagai pemeran utama: Evita Peron. Lewat film ini juga lagu “Don’t Cry for Me, Argentina” dipopulerkan.

 

II

Bunda Lilies bersama Babe Bambang, Ukhita, dan Arniel (foto: balihealingoil.com)

Bunda Lilies bersama Babe Bambang, Ukhita, dan Arniel (foto: balihealingoil.com)

Kutusian (sebutan untuk distributor hingga reseller Kutus Kutus) punya bunda yang sangat mereka cintai. Ia Bunda Lilies, istri Babe Bambang, penemu dan peracik Kutus Kutus. Ia menjadi sosok yang mewarnai maskulinitas Babe sehingga Kutusian terasa lebih feminin.

Bunda sosok kunci di balik nama besar Kutus Kutus. Ia bagian utama dari jatuh-bangun Babe membesarkan Kutus Kutus. Bahkan, dalam opini saya, ia penyebab dan dan tujuan Kutus Kutus dibesarkan. Panjang ceritanya namun saya kisahkan ringkasnya saja dan sejauh relevan.

Dari Bunda saya belajar bagaimana menyatakan dukungan penuhnya pada Babe: sebisa-bisa, ke mana pun Babe pergi untuk promosi Kutus Kutus, Bunda ikut serta.

Hidup Bunda Lilies di Jakarta lebih dari berkecukupan. Hasil kerja Babe Bambang dari bekerja di perusahaan multinasional lebih dari cukup untuk hidup dan bersenang-senang. Hingga suatu saat Bunda divonis suatu penyakit. Babe sudah mendalami meditasi kala itu. Lewat meditasi itulah, setelah pengobatan medis tak membuahkan hasil, Babe mendapatkan panggilan spiritual untuk menempuh “perjalanan ke timur”. Di timur ada kesembuhan.

Singkatnya, sampailah mereka “di timur”. Sejak itu mereka hijrah ke Bali, memulai hidup dari nol, berjanji hanya makan dari hasil jerih-payah mereka di sana. Babe bekerja ikut orang. Pernah mengelola studio musik, pernah jadi manajer resto. Pernah juga menganggur hingga, “Beli beras saja tak mampu.” Bunda Lilies membersamai proses itu hingga sekira 12 tahun lamanya hingga minyak Kutus Kutus ditemukan 2013.

Kehadiran Ukhita, si bungsu, adalah berkah yang mendebarkan. Bunda Lilies mengandung pada saat ia sudah sakit. Jauh sebelum Kutus Kutus ditemukan, kondisi ekonomi keluarga pun butuh infus. Babe cerita, ia bahagia sekaligus khawatir akan keselamatan atau istrinya atau bayi yang dikandung ibunya.

Kini Ukhita sudah besar, bahkan tampak dewasa dan tegar saat menyertai jenasah mamanya dari Bandung ke Bali, ke Pabrik Kutus-Kutus di Babakan-Gianyar, Sabtu, 7 Agustus 2021, hingga pemakaman, Minggu, 8 Agustus 2021 di Mumbul, Nusa Dua.

Kehadiran Bunda Lilies, yang secara official tidak mewakili jabatan apa pun di perusahaan, menjadikan Kutus Kutus berpostur lebih feminin. Lebih lembut, sekaligus lebih “berisik”.

Saya beruntung sekali-dua boleh menyimak dari dekat obrolan Bunda dan Babe sejak di rumah dan pabrik awal Desa Bona, Gianyar, di awal-awal Kutus Kutus mulai melejit, hingga di Clemie Huis, Jogja, di akhir-akhir ini ketika Kutus Kutus makin moncer. Percakapan-percakapan itu sangat emosional. Dramatik. Kadang menegangkan, kadang ada gelak tawa.

Pelajaran berharga saya petik dari percakapan-percakapan mereka. Dari Bunda saya belajar bagaimana menyatakan dukungan penuhnya pada Babe: sebisa-bisa, ke mana pun Babe pergi untuk promosi Kutus Kutus, Bunda ikut serta. Sesekali tampil di depan, menyampaikan sambutan ringan, dan lebih sering duduk di belakang sementara Babe berbicara berapi-api di depan.

Di sela-sela itu, atau sesudah acara, atau di hotel tempat menginap, dan di mana pun tempat, Bunda menyediakan diri untuk Kutusian. Lebih dari sekadar foto bersama, selfie, Bunda hadir sebagai ibu untuk anak-anaknya. Dari kesaksian Kutusian, kehadiran Bunda bukan gimmick atau gula-gula. Bunda hadir sepenuh hati untuk semua. Tak ia beda-bedakan mana Kutusian besar dan kecil. Lihat saja betapa bertaburan foto-foto Kutusian dengan Bunda. Betapa mereka kehilangan ketika bundanya berpulang.

Kehadiran Bunda Lilies, yang secara official tidak mewakili jabatan apa pun di perusahaan, menjadikan Kutus Kutus berpostur lebih feminin. Lebih lembut, sekaligus lebih “berisik”. Media sosial pun dihujani unggahan-unggahan cerita yang perempuan banget: detail, perhatian, dan gigih. Tanpa maksud khusus, sebagian besar Kutusian adalah perempuan. Bunda Lilies berperan besar pada perwajahan ini.

Diam-diam, seperti Eva Peron, Evita Lilies ada di titik utama yang mengubah nasib banyak perempuan dari ibu rumah tangga tak berpenghasilan, atau perempuan pekerja dengan upah minimum, juga banyak perempuan yang nyaris putus asa tak kunjung sembuh dari sakitnya, menjadi perempuan mandiri dan lebih berdaya setelah jadi Kutusian.

Berkat Bunda Lilies pula, Kutus Kutus tak terlampau maskulin oleh gaya Babe Bambang yang lugas dan  cenderung urakan. “Mereka pengkhianat! Itu palsu! Saya pecat!” tulis Babe sehari-hari di akun fesbuknya.

Bedanya, tanpa perlu mendirikan partai politik seperti Evita Peron, Evita Lilies sudah melakukan gerakan perubahan sosial jauh lebih konkret dan membuahkan daripada yang dilakukan partai politik di negeri ini. Jargon JOSSS (Jadikan Orang Sembuh, Sehat, dan Sejahtera) tak berhenti di panggung retorika, melainkan membumi dan mengubah lewat produk nyata yang bisa dipasarkan dan hasilnya dinikmati langsung oleh siapa pun setiap hari. Yang dilakukan Evita Lilies konsisten: menyapa, menerima, dan mendengarkan “kader-kadernya” setiap saat di mana pun.

Berkat Bunda Lilies pula, Kutus Kutus tak terlampau maskulin oleh gaya Babe Bambang yang lugas dan  cenderung urakan. “Mereka pengkhianat! Itu palsu! Saya pecat!” tulis Babe sehari-hari di akun fesbuknya. Di percakapan-percakapan mereka, yang beberapa kali saya dengar langsung, Bunda mendinginkan suasana dengan caranya—cara seseorang yang matang oleh perjalanan hidup. Usai menyatakan sedih jika ada yang menyakiti hati suaminya, sambil menghela napas, Bunda meminta suaminya, “Sudah, Pa. Maafkan mereka.”

Hening panjang. Babe menghisap kretek Dji Sam Soe-nya dalam-dalam sambil menatap langit.

III

Kutus Kutus (image: balihealingoil.com)

Kutus Kutus (image: balihealingoil.com)

Saya baru tahu ada Evita di depan nama Lilies Susanti Handayani. Saya telusuri di daftar nama orang kudus apakah Evita nama baptis. Dari referensi yang saya temukan, Evita dan Eve adalah panggilan populer untuk Evelyn. Kesemuanya berarti “kehidupan”.

Evita Lilies dan Evita Peron, dengan cara dan kisah masing-masing, dengan sakit yang dipendam masing-masing, dengan tetap tampil cantik penuh senyum di depan orang lain, menghadirkan diri untuk mengubah nasib banyak orang.

Di Bandung Bunda Lilies berpulang usai jalani operasi. Kematiannya di usia 58 tahun merupakan rahmat. Allah sudah meluluskan hambanya dari perjuangan belasan tahun setia menjalani hidup dalam sehat dan sakit.

Evita Lilies sudah memberi kehidupan, baik untuk Babe Bambang suaminya, juga Arniel dan Ukhita anak-anak biologisnya, dan untuk Kutusian anak-anak spiritualnya. Membayangkan betapa bahagia Bunda Lilies sudah berjumpa dengan Tuhan, sumber dan tujuan hidupnya, kepada kita semua ia bernyanyi dari surga, “Don’t cry for me, Kutusian!”

Don’t cry for me, Kutusian
The truth is
I never left you
All through my wild days
My mad existence
I kept my promise
Don’t keep your distance
 
Have I said too much?
There’s nothing more
I can think of
To say to you
 
But, all you have to do
Is look at me to know
That every word
Is true

 

@AAKuntoA | 09082021