Ganjuran-Sabirin, Jejak Sepeda Kayuh dari Stela Dus hingga De Britto

Dirgahayu 73 Tahun SMA Stella Duce 1 & SMA Kolese de Britto

Dirgahayu 73 Tahun SMA Stella Duce 1 & SMA Kolese de Britto

Ujian sekolah diundur, ujian kehidupan dimajukan. Inilah sebagian kisah, dan alumnae SMA Stella Duce 1 ini tokoh utamanya, hingga saya bisa sekolah di SMA Kolese de Britto.

Oktober 1965 jadwal ujian kelulusan SMP. Diundur. Pecah gestok (gerakan satu oktober); kudeta merangkak militer pada pemerintah berkuasa.

Ibu salah satu peserta ujian itu. Ia bersekolah di SMP Kanisius Ganjuran, Bantul. Masih sangat belia untuk memahami situasi. Radio transistor yang dibeli Mbah Kakung, ayah Ibu, baru layak dengar isi beritanya oleh dua kakak lelakinya: Kangmas Pertama dan Kangmas Kedua.

Walau ujian sekolah diundur, Ibu menerima soal ujian berbunyi, “Kakak Pertama ditangkap dan dipenjara, apa yang mau kamu lakukan?” Ia tidak bisa menjawab. Sepekan sekali ia pergi ke Wirogunan ngirim ransum untuk kakaknya. Naik sepeda. Berdua, dengan sepupu perempuan. Ke tengah kota Yogyakarta, kembali ke pinggiran jauh di selatan.

Kangmas Pertama, setahunya, hanya sopir mobil dinas. Kariernya meningkat dari sebelumnya ia montir. Juragannya bernama Mujiono. Jabatan Kepala DPRD Provinsi DIY. Mobil dinasnya Fiat dengan plat nomor “AB 7”. Sampai hari ini Ibu tak paham kenapa sopir mobil itu ditangkap dan dipenjara tanpa diadili.

Kangmas Kedua sedang dinas belajar. Ia dikirim dari Kalimantan, tempatnya bekerja sebagai guru, untuk studi lanjut di Jogja. “Kalau di rumah baca buku terus. Aku disuruhnya setrika baju dan celana panjangnya. Aku diupah,” kisah Ibu tentang Kakak Kedua yang sejak ia kecil sudah pergi merantau. Dinas belajar membuat mereka bertemu di rumah Mbah Kakung-Putri di Banaran, Gilangharjo (untuk memudahkan, sebut saja Ganjuran); pertemuan yang mengubah jalan hidup.

Sampai hari ini Ibu tak paham kenapa sopir mobil itu ditangkap dan dipenjara tanpa diadili.

Setengah tahun ujian sekolah diundur. Ibu dan adik sepupu, perempuan juga, sudah ancang-ancang mau sekolah di mana. Mereka diterima di STM Jetis. Adik sepupu diterima di jurusan teknik kulit; kini pensiunan pabrik sepatu Bata. Ibu diterima di jurusan teknik keramik; urung karena dihardik Kakak Kedua, “Kamu mau jadi apa?”

Ibu terdiam. Dalam hati pertimbangannya sederhana saja. Ia ingin tetap sekolah supaya tidak disuruh Mbah Kakung bantu jualan pakaian di pasar dan kemudian dikawinkan. Dengan sekolah di STM (kini SMK), Ibu berharap bisa langsung bekerja.

“Tidak,” sergah Kakak Kedua, “Sana, daftar di stela dus (orang dulu bacanya stéla dus; sekarang dan yang benar stélla ducé).” Esoknya, ia kayuh sepeda ke SMA Stella Duce (belum SMA Stella Duce 1 karena SMA Stella Duce 2 masih SPG) di Jalan Sabirin 1, Yogyakarta. Diterima.

Sesampai di rumah, Mbah Kakung mengultimatum, “Boleh sekolah tapi nglaju.” Nglaju: ulang-alik.

Sejak itu, sampai tiga tahun kemudian, ia pergi-pulang Ganjuran-Sabirin mengayuh sepeda angin. Ada sih kereta api “sepur kluthuk” yang berangkat dari Stasiun Palbapang, dekat rumah, hingga Stasiun Tugu, dekat sekolah, tapi tarifnya tak terjangkau, “Hanya jika benar-benar capek dan punya uang aku naik kereta. Seingatku, tak sampai 10 kali.”

Selebihnya, setiap hari, 36 km pergi-pulang ditempuhnya bersepeda dengan kondisi, “Uang saku sangat minim. Sering pulang nggak bawa uang sama sekali. Entah jika ban bocor di tengah jalan.” Jalan Bantul arah Samas belum semulus dan selebar sekarang; sebagian besar yang melintas pengendara pesepeda.

Ibu melukiskan, masa-masa sekolah di stela dus sungguh-sungguh sulit. Kondisi ekonomi dan mental keluarga, lima bersaudara, satu dipenjara tanpa tahu sampai kapan, sangat terdampak oleh ontran-ontran elite politik saat itu. Fokus Ibu hanya bagaimana bisa menyelesaikan sekolah di jurusan pasti alam dengan baik.

Uang saku sangat minim. Sering pulang nggak bawa uang sama sekali. Entah jika ban bocor di tengah jalan.

“Makanya aku nggak punya banyak teman,” kenang Ibu ketika bercerita kenapa tak suka datang ke reuni. Temannya relatif bisa dihitung dengan jari. Saya mengenal sebagian besar teman Ibu di kemudian hari. Satu di antaranya ibu teman baik saya Pandhu: Bu Ning.

“Hidupku hanya rumah-sekolah rumah-sekolah,” tukas Ibu. Di hari libur, Ibu membantu Mbah Kakung jualan di pasar. Bersepeda. Berpindah-pindah sesuai pasaran (hari ramai pasar: pon, wage, kliwon, legi, pahing). Terjauh Mbah Kakung dasaran (menggelar dagangan) hingga Pasar Bendungan, Kulonprogo, 46 km pergi-pulang menurut rute Google Maps yang saya buka sekarang.

Capek? Kapan istirahatnya? “Jika benar-benar sangat capek aku kost beberapa saat di dekat sekolah,” ujar Ibu sembari menyebut beberapa tempat beliau pernah kost: Bausasran, Lempuyangan, dan Jetis. “Pernah pula di rumah Bulik yang gratis. Bahkan pernah numpang di rumah Pak Bon selama ujian,” ujarnya. Bu Bon, penjual makanan di kantin, tetangga Ibu di Daleman, selatan Pasar Jodog.

Lulus dari stela dus, Ibu meneruskan kuliah di IKIP Sadhar (sekarang Universitas Sanata Dharma) jurusan pasti alam. Masih atas “beasiswa” dari Kakak Kedua. Satu semester saja. Masuk semester dua Ibu menghilang dari kampus. Kentèkan ragat! Ibu ikut kursus mengetik di kios Gondolayu, tak jauh dari stela dus. Sertifikat mengetik saat itu bisa untuk melamar kerja.

Tak dinyana, di tempat kursus, Ibu bertemu teman kuliah. Kata teman itu sungguh-sungguh, “Kamu disuruh menghadap Suster Bernadia.” Suster Bernadia CB dekan di kampus. Sebelum jadi dekan, beliau Kepala SMA Stella Duce, sebelum digantikan Suster Xaverius CB dan Bu Hartini, semasa Ibu murid. Pantas Suster Bernadia tahu ada muridnya yang menghilang dari kampus.

“Kenapa kamu tidak meneruskan kuliah?” selidik Suster Bernadia saat Ibu menghadap. Ibu cerita, saat SMA, Ibu dan beberapa teman mendaftar di Sekolah Bidan Borromeus, Bandung. Ibu ingin jadi bidan. Nasib, Ibu satu-satunya yang tidak diterima.

“Kenapa tidak mendaftar di Panti Rapih?” cecar Suster Bernadia. Ibu terperangah. Walau setiap pelajaran olahraga selalu menggunakan lapangan belakang RS Panti Rapih tapi Ibu tidak tahu bahwa ada sekolah di situ. Dengan rekomendasi Suster Bernadia, Ibu mendaftar ke SPK (Sekolah Perawat Kesehatan) Panti Rapih. Hanya bayar di empat bulan pertama. Selebihnya, termasuk biaya asrama, gratis hingga kemudian bekerja sampai pensiun sebagai perawat di RS yang di zaman stela dus berdiri masih bernama “Onder de Bogen”. Urung jadi bidan.

“Kenapa tidak mendaftar di Panti Rapih?” cecar Suster Bernadia. Ibu terperangah. Walau setiap pelajaran olahraga selalu menggunakan lapangan belakang RS Panti Rapih tapi Ibu tidak tahu bahwa ada sekolah di situ.

Bu Didik dan Bu Enggarini, teman sekelas Ibu di stela dus di kelas 1 A, pojok barat, jadi teman perawat Ibu di poli bedah. Mereka lebih senior karena selulus sekolah langsung sekolah perawat. Bu Wulan, adik kelas di stela dus, jadi teman seangkatan di sekolah perawat hingga sama-sama pensiun sebagai perawat di poli umum. Wajah stela dus saya kenal pertama-tama dan utama dari beliau-beliau yang saya kenal baik ini.

Inilah sebagian kisah Ibu, bintang penuntun (stélla ducé) saya. Teladan hidupnya, lengkap dengan cerita perjalanan hidup yang kerap beliau ceritakan di waktu luang, jadikan saya manutan terhadap apa pun yang beliau katakan. Termasuk, ketika saya gagal masuk SMA negeri, yang bagus dan murah, saya nurut ketika Ibu memboncengkan saya naik motor Astrea Star ke SMA Kolese de Britto, sekolah yang tidak saya kenal sebelumnya, “Daftar di sini.”

Diterima? Tidak langsung. Nama saya ada di daftar murid cadangan. Ibu mengajak saya menunggu, siapa tahu ada cadangan lain yang tidak mendaftar ulang. Ibu mengajak pula saya ke Jalan Garuda, Demangan, sesudah pengumuman penerimaan keesokan hari, rumah seorang pengurus yayasan, untuk wawancara keuangan susulan. Saya ikut ke dalam. Dari angka “uang gedung dan SPP” yang Ibu setujui, saya tahu, Ibu—dan Bapak tentu saja, menebus mahal proses hidup yang kini selalu saya banggakan dengan berdiri tegak menyanyi lantang Mars De Britto, “Akulah putra SMA De Britto….”

@AAKuntoA | 19082021