Hakikat Perjalanan, Saya Belajar Percaya

Hakikat Perjalanan, Belajar Percaya“Perjalanan mengajar kita untuk percaya.”

Apik sekali pernyataan ini. Saya sepakat. Sebagai penyuka perjalanan, meski belum tercapai hasrat keliling dunia, saya percaya akan hakikat perjalanan ini.

Bahwa perjalanan selalu membawa saya kepada pengalaman-pengalaman yang acap tak terduga sebelumnya. Lebih-lebih pada perjalanan yang tak setiap hal direncanakan; lebih-lebih pada perjalanan yang tak terbayangkan akhirnya.

Tempuh saja jalan yang terbentang. Nikmati saja panas yang menggantang. Syukuri saja makanan yang terhidang.

Perjalanan mengajarkan, tak semua jalan semulus dan serata di sekitar rumah; tak semua iklim sesejuk di kampung sendiri; tak semua makanan selezat masakan di rumah.

Perjalanan juga mengajarkan, tak perlulah membandingkan untuk merendahkan. Bandingkan untuk mensyukuri saja.

Tak perlu pula membandingkan dengan niatan menyulap tempat lain seperti tempat sendiri. Apa jadinya jika semua tempat sama? Perjalanan tak lagi berkesan, kan? Perjalanan itu berkesan karena keberagaman.

Begitu pula perjalanan dalam hal lain. Termasuk dalam pengetahuan dan keyakinan. Mereka yang bersedia menyeberang ke pengetahuan dan keyakinan yang berbeda dengan dirinya sendiri akan beroleh kebijaksanaan. Menyeberang tak berarti tinggal di sana.

Sebaliknya, mereka yang gampang menghakimi sambil menuding “pengetahuan itu berbahaya”, “keyakinan itu sesat”, bisa jadi tak pernah melakukan perjalanan.

@AAKuntoA
CoachWriter | solusiide.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *