Hantu Toko, Ketika Toko Buku Berhantu

Hantu Toko BukuSebagai generasi peralihan, buku cetak masih saya santap. Seperti belum makan nasi kalau belum membaca buku cetak. Teks digital yang berlimpah, meski lezat juga, tapi tak mengenyangkan. Dasar!

Maka, berkunjung ke toko buku, menjebol plastik pembungkus buku, menyibak halaman demi halaman, ‘menimbang’ bobot nilai dan berat fisik, membayar tunai di kasir, dan membungkus pulang dengan tas plastik tak ramah lingkungan adalah ritual yang jika tak ditempuh setiap bagiannya rasanya lebih berdosa daripada tidur di gereja tatkala kotbah pastor menjemukan. Ah, lebay!

Kali ini saya singgah ke Gramedia MBG, Bali. Bukan untuk ngecek buku karya saya atau terbitan penerbit saya–karena sudah empat tahun tak lagi menjual buku lewat toko buku, melainkan untuk membungkus buku bagus karya penulis dan penerbit tangguh. Masih banyakkah buku bagus? Banyak sih tidak. Ada.

Sedikit buku bermutukah di sana? Bukan. Secara keseluruhan, buku yang dipajang semakin sedikit. Kisaran 30% saja. Wajar jika dua tahun ini Gramedia tidak lagi menamakan diri toko buku. Ia toko yang sebagian dagangannya adalah buku.

Mengagetkan? Tentu tidak bagi saya. Yang mengagetkan adalah tiba-tiba disamperin pramuniaga yang bersolek wajah menyeramkan. Oh iya, Halloween!

Waduh, apa-apaan ini? Ada hantu di toko buku atau toko buku menjelma menjadi hantu?

Rasa-rasanya, jika ini bercanda, ini candaan yang menyeramkan. Namun jika ini dimaksudkan untuk bikin suasana seram, angka berikut ini bukan bahan candaan: dari data-data yang disampaikan Gramedia kepada Ikapi, penjualan total tahun 2012 mencapai 33.565.472 eksemplar. Di tahun 2013 menurun, berada di angka 33.202.154 eksemplar, dan menurun lagi di tahun 2014 di jumlah total 29.883.822 eksemplar.

Di loket pengadaan, data ini tak kalah bikin bulu kuduk menggelepar: setahun hanya ada 30.000 judul buku baru yang masuk ke toko. Artinya sebulan hanya kisaran 2.500 judul buku baru. Negeri yang kaya pembela agama dan politikus ini rupanya miskin penulis buku.

Bagaimana dengan pembaca? Lebih fakir lagi: hanya satu dari seribu penduduk serius baca buku utuh. Senangnya baca kutipan. Sekaligus gampang terbakar oleh kutipan.

@AAKuntoA
www.solusiide.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *