Hidup Bertetangga: Srawung

Hidup bertetangga: srawung

Hidup bertetangga: srawung

Di rantau, tetangga itu saudara. Kenal di sini, sama-sama kerja di sini, baiklah saling mengunjungi.

Hingga tengah malam ini, saya berkunjung ke tetangga sebelah. Tetangga ini yang pada malam takbiran mengirim sepaket opor dan ketupat. Mereka yang berlebaran, saya turut merayakan.

Di rantau, suasana kampung bisa diusung. Asal kita tak membusung. Di rantau orang juga ingin hidup seperti di kampung. Setiap saat. Maka, ketika tak bisa mudik, tak berarti kehilangan kebersamaan seperti di kampung. Di rantau, sama-sama pendatang, baiklah menegakkan semangat hidup ala kampung.

Seperti di kampung, mangan ora mangan sing penting kumpul. Makan nggak makan asal kumpul. Ah, tapi kebangetan kalau nggak makan-makan!

Kumpul tanpa makan itu seperti arisan tanpa kopyokan. Kopyokannya sendiri tak harus besar. Tapi tanpa kopyokan, arisan itu tak jadi berarti.

Maka, seperti malam ini, kami jagongan berteman kacang kulit dan emping melinjo. Cukup. Yang lapar berinisiatif ke belakang, memanaskan air dan menceburkan mi instan. Cukup. Sebab, suguhan lebaran sudah habis. Dan dua hari lebaran kemarin sudah kenyang dengan hidangan-hidangan lezat di mana-mana. Kini waktunya bercerita.

Ada vodka sebotol. Saya nggak ditawari karena mereka tahu saya nggak doyan. Saya pilih menuang gelas dengan fanta. Asap rokok biarlah beterbangan, dan saya tak menghisapnya. Kami tetap riuh dalam obrolan yang mengalir begitu saja. Fokus pada apa yang mempertemukan, bukan pada yang menghalangi.

Tetangga ini anugerah. Pada mereka rumah berpindah. Tetangga adalah saudara tanpa pertalian darah. Jika saudara tak bisa kita pilih, tetangga bisa kita pilih–kadang kala. Lebih seringnya tidak! Tak banyak yang beruntung bisa memilih tetangga.

Tidak dengan saya. Apa pentingnya pilih-pilih tetangga? Atau, kalau toh saya bisa, apakah saya adalah tetangga yang masuk kriteria seandainya tetangga saya juga pilih-pilih? Sudahlah!

Lebih baik saya menghadirkan kembali hidup bertetangga saya di kampung yang, sayang sekali, lebaran kali ini tak saya ulihi.

Saya tak memilih bertetangga dengan mereka. Saya tinggal di kampung saya saja karena ikut orang tua. Bikin keputusan saya. Nyatanya saya kerasan. Nyatanya saya bisa hidup bersama tetangga yang bukan pilihan saya itu.

Nyatanya, selalu hingga kini, saya merindukan kebersamaan bersama tetangga di kampung itu. Tak lain, karena saya bisa menerima.

Demikian di rantau. Hidup bertetangga itu hidup saling menerima.

Bali, 28 Juni 2017
@AAKuntoA
bit.ly/kunto3i

Incoming search terms:

  • pentingnya srawung tetangga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *