Hutankan Savana

Bersama Jeremias Male, mantan Kepala Desa Weeluri, Sumba Tengah

Bersama Jeremias Male, mantan Kepala Desa Weeluri, Sumba Tengah

Perjumpaan dengan Jeremias Male mengoreksi kekaguman saya pada padang rumput savana di Sumba. Semula saya memujanya sebagai taburan keajaiban alam. Perlu pendobrak seperti Male.

Di rumahnya yang asri di Desa Weeluri, Kecamatan Mamboro, Kabupaten Sumba Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pagi itu, Male menyingkap rahasia tentang savana. Disuguhi kopi hitam, saya taklim mendengarkan.

Dikisahkan, sambil menunjuk ke bukit di seberang jalan depan rumah, 30 tahun lalu kampungnya masih dikelilingi savana. Padang rumput itu menghijau di punggung dan kaki bukit. Kuda-kuda berkawanan mencabik-cabik rumput menyantapnya. Gemuk-gemuk mereka.

Pemilik kuda tak perlu menjaganya. Cukup menunggu di rumah, kala senja kuda itu tahu diri pulang. Bukan ke kandang tapi ke pekarangan. Kuda tak perlu dikandangkan karena kuda tak akan lari. Mereka seolah tahu kepada tuan mana mengabdi. Mereka juga tahu, pada saatnya mereka akan jadi belis (semacam mahar) untuk meminang gadis pujaan anak tuan. Atau mereka akan disembelih, bersama kerbau, sapi, dan babi, dalam pesta adat Marapu yang mereka junjung tinggi.

Sebelum berjumpa dengan Male, saya sudah menjumput cerita ini dari Setyo Darmodjo, seorang arsitek yang foto-fotonya menghiasi buku tentang Sumba Yang Pertama Yang Utama yang saya tulis. Setyo bilang, ada kejanggalan dalam pembentukan savana. Padang rumput itu bukan keajaiban alam melainkan bikinan manusia. Demi kuda dan sapi beroleh pakan rumput, warga membakar hutan dan kebun. Tumbuhlah rumput di lahan yang sudah dikeringkan api tersebut. Rumput itu pakan utama ternak mereka. Bagi mereka, padang rumput jauh lebih ekonomis daripada tanaman keras yang tumbuh di hutan. Padang rumput bisa untuk pakan ternak, dan ternak bisa dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Mengunjungi rumah Male, dan menyimak ceritanya, saya baru paham, tanaman keras bisa tumbuh di negeri bukit bebatuan karang itu. Walau tanah tipis, hanya 10-20 cm, rupanya Sumba bukan tanah yang sepenuhnya tandus—dan hanya mengizinkan rumput tumbuh. Walau sumber-sumber air ada di bawah, di lembah, di sumur-sumur yang sejatinya adalah jendela sungai bawah tanah, namun tanah Sumba cukup subur untuk ditanami.

Male sudah membuktikan. Sejak lebih dari 30 tahun lalu ia mulai menanam. Weeluri dan Ole Dewa, desa sebelah yang juga saya telusuri, kini jadi semacam hutan kemiri. Pohon-pohon berdiameter 70 cm atau lebih dan berketinggian hingga 30 m merindangi lembah dan pucuk bukit. Mereka pun bisa panen dan menjual komoditas kemiri sebagai sumber penghasilan harian.

 

Petuah pelaku

Petuah itu mahal harganya. Ia tak laku ketika hanya diucapkan. Orang pasti mangkir saat disodori petuah kata-kata. Jika ada yang menerima, masuk telinga kiri lalu keluar telinga kanan. Pemberi petuah pun bakal sakit hati dibuatnya.

Jeremias W Male tahu betul itu. Sebagai guru selama puluhan tahun, ia paham betul makna kata-kata yang hanya terucap dari mulut. Hanya jadi busa, tak berbuah kerja. Dari dulu, petuah kata bakal pecah dihantam kata. Tak ada yang betul-betul patuh pada petuah kata.

Sadar itu, Male menempuh jalan lain. Lebih terjal, lebih melelahkan, lebih berat, namun ia yakin lebih tepat sasaran. Jalan lain itu dinamai keteladanan. Berdiri di depan, sebagai guru, ia menghadirkan diri sebagai suri teladan. Seperti Ki Hadjar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional), ia ada di depan untuk memberi contoh. Supaya orang lain mau melakukan petuahnya, ia sendiri harus mau mengotori tangan mengerjakan apa yang ia perintahkan. Biarkan orang melihat, melihat, dan melihat, sampai tiba saatnya mereka menirukan.

Tentang STBM contohnya. Sebelum memerintahkan warganya membuat jamban, jauh-jauh hari ia sendiri sudah membuat. Berdinding papan, beratap terpal, dan berlantai semen, jamban sederhana itu jadikan sebagai contoh bagi masyarakat.

Tak tanggung-tanggung, ia buat dua bilik sekaligus. Satu untuk laki-laki, satu untuk perempuan. “Kalau bikin satu nanti berebut. Saat mau buang air kan tidak bisa ditunda,” tukas Male menjelaskan alasan kenapa ia bikin dua bilik.

Memang, karena keterbatasan air, ia mesti mengusung air dari bak penampungan. Secukupnya saja. “Air memang jadi kendala di sini,” ujar Male tanpa bermaksud melulu mengeluh. “Hanya air kekurangannya,” tandas mantan kepala desa yang kini berusia 80 tahun ini.

Male sudah mulai mendirikan jamban jauh hari sebelum ada program STBM. Sebagai guru, ia paham betul tentang pentingnya warga menjaga kesehatan, baik kesehatan tubuh maupun kesehatan lingkungan. Dengan adanya program STBM, akunya, ia banyak terbantu. “Jadi lebih mudah menjelaskan kepada masyarakat,” ucapnya.

Di halaman samping dan belakang rumah ia menggelar banyak contoh. Selain mendirikan dua jamban, ia juga menggantung jerigen injak untuk cuci tangan. Saat kami berkunjung ke rumahnya yang bersih, jerigen itu masih terpasang rapi di samping balai-balai tempatnya menjemur alat dapur. Keterisian air dan ketersediaan sabun menunjukkan bahwa keluarga Male menggunakannya setiap saat. Sekadar catatan, kami datang tanpa pemberitahuan sehingga tidak ada rekayasa yang sempat disiapkan. Semua alami saja.

Kealamian juga terasa di sekeliling rumah. Halaman rumah tampak rutin disapu. Juga ruangan di dalam rumah. Terasa sekali keluarga itu sudah menjadikan kebersihan sebagai napas hidup.

Hanya saja, sampah masih menjadi masalah. Tampak di samping rumah, Male menumpuk begitu saja sampah mereka. “Kalau sudah terkumpul kami bakar. Abunya untuk pupuk,” tukasnya. Bagaimana dengan sampah plastik? “Itu dia masalahnya.”

Sambil bercerita betapa sampah plastik kini mulai masuk ke pedesaan, lewat bungkus belanjaan dan jajanan anak, Male tampak berpikir keras untuk mengurainya. Sampai sekarang ia belum menemukan cara mengolah sampah plastik. Yang ia temukan baru cara mencegah masuknya sampah plastik ke rumahnya.

 

Buah umpan cucu

“Saya tanam buah,” cetus mantan guru dan kepala desa ini. Bagaimana ceritanya? Apa hubungan penanaman pohon buah dengan pencegahan sampah plastik? Dengan runtut Male bertutur.

“Semakin tua, gigi saya akan habis. Saya akan ompong. Saat itu, saya khawatir cucu-cucu saya akan takut kepada saya. Mereka tidak mau lagi bertemu saya,” tutur ayah 10 anak, kakek 40 cucu, dan kakek buyut 5 cicit ini. Male tampak sekali takut hidup di hari tuanya kesepian.

Ia tanamlah pohon buah-buahan. Ada mangga, pisang, dan alpukat. Saat berbuah, para cucu yang tinggal tersebar di berbagai tempat berjauhan akan datang. Mereka bersukacita akan buah yang berlimpah. Mereka akan panjat pohon dan mengunduh buahnya secara leluasa.

Berlatar padang rumput savana di Sumba Tengah

Berlatar padang rumput savana di Sumba Tengah

“Saya tanam buah untuk umpan cucu,” cetusnya sambil tersenyum. Kami yang mendengarkan tertawa. Cerdas sekali pemikirannya. Daripada melarang cucu-cucu  jajan makanan berbungkus plastik, lebih baik ia mengalihkan perhatian cucu-cucu pada sesuatu yang pasti mereka sukai. Memanjat pohon, meraih buah, dan menyantapnya bersama-sama adalah kesukaan anak-anak.

Di “dapur sehat”, ia tanam sayur-sayuran. Ada tomat, lombok, terong, dan ubi. Maka, sementara cucu-cucu berakrobat di pepohonan, anak-anak berhimpun di dapur. Mereka memasak bersama tanpa perlu khawatir akan anak-anak mereka. Bahan memasak tinggal petik di kebun. Jadilah mereka berpesta bersama.

Ketika kenyang, lalu terpanggil untuk BAB, misalnya, jamban sudah tersedia. “Cucu-cucu saya sudah terbiasa BAB di WC di rumah mereka di kota. Saat berlibur ke sini mereka tidak perlu khawatir tentang WC. Kakek mereka punya. Inilah salah satu manfaat yang saya peroleh berkat program STBM,” ungkap Male bahagia.

Di hari senjanya, Male memanen buah karya hasil jerih payahnya. Tak hanya jerih payah di rumah dan keluarganya, melainkan juga jerih payah di masyarakat.

Hampir 40 tahun yang lalu, ia kisahkan, kondisi kampungnya begitu memprihatinkan. Warga masih suka BAB sembarangan. Lalat beterbangan di mana-mana. Warga mudah sakit. Jorok sekali keadaannya.

Wajah muram itu masih ditimpali dengan predikat yang disandang desanya sebagai “sarang laba-laba”. Julukan ini merujuk pada kejadian-kejadian kriminal yang kerap menggegerkan: pencurian, judi, dan pembunuhan. Ya, begitu mudah orang menghunuskan parang dan memenggal kepala orang lain yang dianggap musuh.

“Bisa dibayangkan, saat itu ketika BAB saja dihinggapi rasa takut akan jadi korban kejahatan,” ujar kepala desa Weeluri, Kecamatan Mamboro, Sumba Tengah, yang menjabat sejak 1974 hingga 1990 ini. Terisolasi di tengah ketakutan itulah yang semakin membuat desanya tak maju.

 

Aman dan kenyang

Maka, lanjutnya, permintaan pertamanya kepada bupati ketika itu adalah agar pemerintah daerah menjamin keamanan warga. “Kalau takut tak ada pembangunan,” dalihnya. Ia mintalah pemerintah menjamin keamanan warganya.

Sembari meminta, ia mulai bekerja. Jauh ketika STBM sudah masuk, ia sudah merintis program pembangunan sanitasi masyarakat. Di tahun 1975, ia sudah memulai gerakan jambanisasi. Ia sendiri turun mencontohkan. Saat itu, yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana membuat warganya hidup sehat.

Lambat pergerakannya. Berbagai kesulitan hidup membelenggu warga untuk berpartisipasi dalam gerakan tersebut. Alam ditengarai sebagai biang keroknya. Hidup di atas batu karang sebabkan mereka miskin sumber pangan. Jauh dari mata air akibatkan keseharian mereka kering. Tingkat pendidikan yang sangat rendah pangkal keterbatasan pengetahuan mereka tentang hidup yang sehat dan maju.

Male berangkat dari pemenuhan kebutuhan perut. Sebelum mengurusi bagaimana mengelola “apa yang keluar dari perut”, ia penuhi dulu “apa yang masuk ke perut”. Warga butuh makan. Warga butuh penghasilan. Sektor perekonomian mesti dibenahi. Padahal, alam desa mereka sungguh tak bersahabat sebagai topangan ekonomi.

Dalam belenggu keterbatasan, Male mulai melangkah. Padang rumput di sekeliling kampungnya mulai ia tanami kemiri. Ia berpikir, padang rumput itu tidak produktif, hanya cukup untuk makan kuda, kerbau, dan sapi. Warga jadi pasif. Hanya berharap dari kenaikan harga binatang ternak yang gemuk oleh rumput. Uang hasil penjualan binatang ternak itu pun lekas habis untuk membiayai pesta adat. Usai pesta, binatang ternak berkurang, harus bayar utang, sehingga warga justru jatuh miskin.

Kemiri ia tanam sebagai tanaman keras yang menghasilkan untuk jangka panjang. Benar saja. Lewat perjuangan panjang, Desa Weeluri kini begitu hijau. Hutan kemiri menyelimuti desa. Warga menjemur biji kemiri, lalu menjualnya sebagai sumber penghasilan. Persoalan ekonomi relatif teratasi.

“Tinggal air yang belum bisa kami selesaikan,” ujar Male. Sumber air jauh. Mereka masih harus menyewa truk tangki untuk mengusung air dari sumber air terdekat. Jika air sudah mendekat, Male yakin, termasuk dalam hal sanitasi, kehidupan warga akan jauh lebih baik. Cucu-cucu pun akan lebih girang bermain di rumah kakeknya…

 

Salam hijau,

@AAKuntoA

CoachWriter | www.solusiide.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *