Jebakan BadMed

Kita perlu berhati-hati. Terhadap apa pun. Juga terhadap kemudahan-kemudahan. Tak jarang, kemudahan justru melenakan. Mentang-mentang mudah kita tak berhati-hati. Tersadar saat terantuk.

Berjalan kaki itu mudah. Tak usah dipikirkan mana kaki yang melangkah lebih dulu. Namun, jika tak waspada, kaki bisa terantuk batu.

Bernapas itu enteng. Tak usah dihitung berapa menit sekali menghela. Namun, jika sembrono, bisa tersedak.

Berbicara itu gampang. Tak usah mengatur ke mana lidah berayun. Namun, jika tak tertata, lidah bisa tergigit.

Pun menulis. Seenteng berbicara. Namun, jika tak cermat bisa salah alamat.

Dalam hidup, sejatinya tak ada yang rumit. Jika terasa rumit, bisa jadi karena belum biasa, atau belum punya pengetahuan cukup untuk menelan kerumitan itu. Semua mudah jika tahu kuncinya. Kembali, semua juga jadi susah ketika ceroboh dalam memanfaatkan kunci.

Saya sedang terpesona dengan apa yang belakangan dinamai media jejaring sosial (social media). Tak melongo di luar, saya ikut masuk barisan. Sudah lama saya nge-blog, meski tak bergabung dalam komunitas blogger. Kumpul blogger, dalam skala apa pun juga tak pernah saya datangi.

Sebagai generasi mailing list dan friendster, saya turut berbondong-bondong boyongan ke facebook. Merdu kicauan-kicauan burung pun menggiring saya menjajal twitter. Ketika teman-teman sudah jenuh menggunakan, plus bosan membujuk saya pun, saya baru membeli blackberry. Itu pun lungsuran.

Sudah punya, saya pakai. Berjejaring. Di akun-akun media sosial tersebut, saya memanfaatkannya untuk berkomunikasi. Dengan teman, dengan siapa pun, dengan dunia. Dengan yang saya kenal, dengan yang kebanyakan baru saya kenal berkat komunikasi itu.

Saya menggunakan media jejaring sosial itu secara terbatas sekaligus tak terbatas. Terbatas untuk hal-hal yang bersifat privat. Tak terbatas untuk perkara-perkara yang bersifat non-privat. Ukurannya? Akal sehat dan rasa.

Soal ukuran, itu ringkasan saya. Ukuran teranyar yang cukup populer adalah pertimbangan aspek hukum, yakni melandaskan pertimbangan pada UU No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Di sana diatur soal perbuatan-perbuatan apa saja yang bisa menyeret seseorang ke meja perkara. Ini ukuran ancaman. Ada yang setuju, tak sedikit yang emoh.

Untuk saya, akal sehat dan rasa cukup untuk mengontrol aktivitas saya dalam menggunakan media jejaring sosial. Setiap menulis, sebelum memuplikasikan, saya secermat mungkin meneliti tujuan dan isi pesan. Tujuan adalah titik bidik. Sudahkah tulisan saya berfokus ke sasaran? Sedangkan isi menyangkut cara mengungkapkan. Sudahkah saya berbahasa secara jernih dan jelas. Jernih, menggunakan gaya bahasa yang mudah dimengerti. Jelas, sesuai maksud.

Demikian juga ketika menerima informasi. Prinsip jurnalisme saya pegang. Saya berpendapat, sebaiknya publik juga mau menggunakannya. Apa prinsip jurnalisme yang pokok untuk diperhatikan? Cek dan cek lagi. Cek sumbernya. Cek isi pesan. Termasuk, cek kemungkinan ada pesan tersembunyi yang sengaja disisipkan untuk mengelabuhi orang-orang yang malas memperhatikan. Ingat, meneruskan saja bisa terjerat hukum.

Maka, setiap pesan yang masuk ke rumah surat saya, selalu melewati mesin sensor itu. Yang sumir langsung saya hapus. Yang tidak terlalu jelas, lagi tidak penting, saya abaikan. Yang penting namun kurang jelas saya pertanyakan balik ke pengirim. Yang jelas namun penulisannya kurang terang saya besut seperlunya.

Sedikit repot lebih baik daripada gegabah. Media jejaring sosial, ternyata, menyembunyikan jebakan batman –meminjam istilah acara hiburan di televisi. Saya menamainya “jebakan badmed”. Hati-hati, kubangan memalukan seperti yang saya terima dari seorang teman via BBM ini mengintai kita:

Mohon bantuannya… anak perempuan hilang..Namanya ***** (sengaja saya hilangkan)…perempuan, umur 9th, rambut pendek ┬ámemakai baju Orange..no hp ibunya ***** 08787087****… Percaya Tuhan beserta ***.. Amin
Kindly share this info to help … Kalau ada yg memiliki info please contact nomer di atas…. Berikut ini foto’a anak tersebut:

http://*****-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/253136_399810963407431_830283978_n.jpg?dl=1

Tolong di bantu BC agar cepat ketemu

Berselang sebentar, masuk pesan susulan dari teman yang sama:
Aduh duh, mohon maaf bapak, ibu, oom, tante, romo dan sodara sekalian, saya paling jarang broadcast bbm, tapi kali ini mau buat bAik, malah kejjebak berita basi. Ini bbm balasan yg saya terima dr teman: “Bukan hilang dy ikut papa’a ke *****, ini anakk temen saya” Sekali lagi mohon maaf :( :’(

 

@AA Kunto A di www.aakuntoa.com

Incoming search terms:

  • aakuntoa com
  • bc jebakan
  • cara buat broadcast jebakan
  • pesan jebakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *