Jebakan Popularitas

Menjelang tahun politik 2014, kita disuguhi kehebohan soal siapa yang layak menjadi pemimpin. Heboh itu lebih-lebih berkat membanjirnya informasi dari lembaga-lembaga riset. Hasil-hasil riset itu mempercepat imajinasi publik akan hadirnya pemimpin yang mereka harapkan.

Tulisan ini hendak mengulas secara sederhana jebakan realitas figur pemimpin dan ekpektasi publik tentang kepemimpinan. Perlu saya tekankan: jebakan. Besar harapan, kita cermat dan jernih dalam mempertimbangkan dan memilih.

Jebakan Popularitas

Penting kita bedakan pengertian popularitas dan populisme supaya kita paham benar mana yang sejatinya lebih pas dibutuhkan.

Popularitas lebih menekankan pada faktor keterkenalan, baik positif maupun negatif. Respon yang melekat pada popularitas adalah sanjungan jika menyangkut hal positif dan cacian jika menyangkut hal negatif. Ukuran popularitas adalah seberapa banyak orang/merek/institusi disebut, diperbincangkan, dipertukarceritakan. Semakin banyak dan sering disebut, tercapailah ukuran popularitas itu.

Di era media informasi sekarang, popularitas bisa direkam dalam catatan yang amat kasat, yakni seberapa sering muncul di televisi, seberapa kerap diulas di media cetak, dan juga seberapa mudah ditemukan dalam perbincangan di media sosial. Setiap orang yang memiliki media pasti mudah sekali “berinteraksi” dengan tokoh populer—saking seringnya melintas.

Menariknya, era media sosial juga memanjakan orang untuk dengan mudah berbagi informasi kepada yang lain. Maka, informasi cepat sekali menyebar. Apalagi, dalam perjumpaan-perjumpaan fisik dalam kerumunan, informasi populer tersebut mudah sekali diperbincangkan, dan menarik. Aspek kemenarikan ini yang memang menjadi daya tarik utama.

Padahal, merujuk pada pendapat Eleanor Roosevelt (1884-1962),membicarakan orang/benda adalah kemampuan terendah manusia. Ini kemampuan berpikir yang paling sederhana. Sedangkan orang kebanyakan berbicara tentang aktivitas/kegiatan. Nah, kemampuan tertinggi di antara itu adalah membicarakan ide. Kemampuan ini hanya dimiliki sebagian kecil dari publik. Ide, yang imajinatif dan analitis, tidak cukup menarik untuk diperbincangkan kebanyakan orang.

Di sini jebakannya. Popularitas, apalagi hanya menyangkut sesosok orang, adalah strata terendah dari keberadaan manusia. Popularitas hanya membutuhkan kemampuan instingtif untuk mengenalinya. Tidak lebih. Tidak dibutuhkan kemampuan untuk berpikir lebih jauh dan dalam.

Dari sisi tokoh populernya sendiri, popularitas tidak menyumbangkan apa pun bagi publik. Popularitas itu arahnya ke diri sendiri (self interest). Ya, sebagaimana semua orang membicarakan tokoh, si tokoh yang dibicarakan itu pada akhirnya juga diarahkan arus untuk ikut membicarakan dirinya sendiri. Lalu, untuk apa memilih pemimpin yang orientasi hidup dan kerjanya untuk diri sendiri?

 

Pemimpin Populis

Kepemimpinan tidak selesai pada figur. Ia mensyaratkan sistem. Sistemlah yang akan bekerja, ada atau tidak ada figur pemimpinnya. Sistem pula yang akan diuji selepas pemimpin tersebut meletakkan jabatan. Ini yang tidak ada dalam sosok pemimpin populer, yang dalam ranking lembaga survei masuk dalam kantong ajaib popularitas.

Beda dengan populer, yang mengantarkan orang pada popularitas, populis memiliki arah yang sama sekali berkebalikan, yakni berorientasi pada orang lain. Cakupannya pun lebih dalam lagi, bukan sekadar menyenangkan atau memuaskan orang lain, melainkan lebih-lebih mengakui dan menjunjung tinggi hak, kearifan, dan keutamaan orang kecil. Ada determinan orang kecil pada pengertian populis.

Lebih dari sekadar altruis, pemimpin yang populis adalah pemimpin yang mau menyediakan diri sepenuh-penuhnya untuk kemaslahatan publik, lebih-lebih publik yang miskin atau terpinggirkan. Ini amanat yang tidak main-main, yang tidak mungkin disulap dalam pencitraan kilat demi meraih popularitas.

Dalam berbangsa, pemimpin populislah yang dibutuhkan. Ia yang nyata-nyata mampu menjawab persoalan berbangsa. Pengandaiannya, rakyat jelata saja mau ia angkat, apalagi dengan rakyat di kelas lebih atas, tentu akan terdongkrak derajatnya. Di sinilah pengertian pemimpin sebagai “abdi negara” memperoleh relevansinya. Pemimpin itu abdi, dan pemimpin yang mau jadi abdi itu pemimpin populis.

Jebakannya, lagi-lagi supaya kita tidak terperosok, pemimpin populis belum tentu populer. Gerakannya pun belum tentu menarik untuk dipublikasikan, apalagi untuk diperbincangkan secara ringan dan renyah. Gerakan pemberdayaan rakyat di level bawah yang dijalankan secara simultan tak selalu atraktif untuk direkam dan dibagi (share) ke publik.

Ukuran keberhasilan pemimpin populis bukan keterkenalannya, melainkan dampak gerakannnya di akar rumput. Dampak ini yang kemudian bisa dibaca sebagai sistem, yang kelak ketika pemimpin berganti, sistem bekerja terus. Semoga kita masih cukup jernih untuk membedakan dan akhirnya memilih secara tepat.

Salam,

@AAKuntoA

aakuntoa@solusiide.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *