Jika Pakde Koko Copywriter Agung, Siapakah Parto Ekrak?

Pakde Koko (pegang HP) bersama beberapa Kagama Jogja di Ndalem Mangunsudiran, 8 Februari 2019. (foto: Albert Pratama)

Pakde Koko (pegang HP) cerita topik “Makanyaaaa!” di tengah beberapa Kagama Jogja di Ndalem Mangunsudiran, 8 Februari 2019. (foto: Albert Pratama)

Berkat tulisan orang kenal, bahkan merasa dekat dan akrab. Saat ajal, orang kehilangan, kemudian lebih-lebih rindu tulisannya.

Pakde Koko meninggal pada Hari Minggu, 1 Agustus 2021. Taburan doa dan ucapan duka sontak membuncah di tengah Kagama (Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada), menyatakan kehilangan atas berpulangnya alumni Fakultas Psikologi angkatan 1981 tersebut.

Perhatian saya tertuju pada ungkapan yang kurang lebih bernada seperti ini, “Saya mengenal Pakde Koko dari tulisan-tulisannya. Saya akan merindukan tulisan-tulisannya.” Ya, banyak sekali alumni mengenal Pakde Koko dari tulisan-tulisan ringannya di grup FB KaVir (Kagama Virtual).

Tulisan-tulisan Pakde Koko ringan-ringan. Ia suka bercerita tentang putri semata wayangnya. Tulisan-tulisan bertopik ini mengesankannya sebagai sosok manusiawi: bapak yang mencintai anaknya, bapak yang memperjuangkan anaknya, dan bapak yang belajar dari perbedaan zaman dengan anaknya. Dalam salah satu tulisannya, ia mengungkapkan betapa bahagia suatu malam anak yang mulai beranjak remaja itu menyusul ke kamarnya demi dipeluk bapaknya.

Karena enak dibaca, mudah diingat pesannya. Itu kehebatan Pakde Koko dalam menulis.

Tulisan ringan lain juga berangkat dari rumah. Kocak dan sering diamini sebagai “mewakili kehidupan rumah tangga pada umumnya”. Pada tulisan-tulisan ini, Pakde Koko mengesankan diri sebagai suami yang serba keliru di hadapan istrinya namun sekaligus amat bergantung alias cinta dan hormat. Topiknya sepele: seputar beli lemari, betulin AC, penempatan pot, dan sangkar burung. Kocak, konyol, kadang bikin iba. Namun, di balik itu, Pakde Koko hendak menyampaikan pesan amat mendalam bagaimana menjaga relasi suami-istri supaya rumah tangga awet. Bahwa istri bukan kompetitor, yang untuk mendapatkan hatinya justru dengan mengalah.

Ah, mengalah untuk menang juga jadi tulisan ringannya yang lain. Pernah di jalan ada mobil di belakang hendak mendului. Mobil itu menyalakan lampu rotator dan klakson. Sedangkan jalanan sedang padat. Bukannya ngomel, Pakde Koko memilih menepi dan memberi jalan pada mobil tersebut. Sudah? Tidak. Begitu mobil itu melaju, ia pun memacu mobilnya persis di belakang mobil tersebut. Serasa VVIP yang dikawal.

Masih banyak cerita ringan lainnya yang rajin ia bagikan. Justru karena ringan enak dibaca. Karena enak dibaca, mudah diingat pesannya. Itu kehebatan Pakde Koko dalam menulis. Topik-topik yang sangat sehari-hari membuat siapa pun yang membaca akan merasa dekat dengan topik itu. Terasa pula akrab dengan penulisnya.

Galibnya, pekerjaan di bidang intelijen (samar; bayang-membayangi) seperti ini sangat tertutup, kerahasiaan berlapis-lapis, dan menjauhi publikasi.

Untuk ini saya belajar banyak dari tulisan-tulisan yang struktur bertuturnya NLP banget itu. Apa yang saya pelajari?

#1

Ada sesuatu yang amat mendasar di balik kesediaan Pakde Koko menulis topik-topik ringan, sering remeh-temeh, dengan bahasa yang amat mudah dicerna khalayak. Asumsi saya berangkat dari profesi Pakde Koko sebagai konsultan keamanan lembaga-lembaga negara dan perusahaan-perusahaan privat. Galibnya, pekerjaan di bidang intelijen (samar; bayang-membayangi) seperti ini sangat tertutup, kerahasiaan berlapis-lapis, dan menjauhi publikasi, kecuali bagi humas atau pejabat tertentu di lembaga tersebut yang memang ditugaskan sebagai juru bicara.

Pakde Koko menulis tentang terorisme dan ancaman kejahatan siber secara ringan di banyak unggahannya. Saya sebut ringan, pertama-tama, karena sebagai awam saya paham pesan teksnya. Kedua, saya sebut ringan karena, menempatkan diri sebagai Pakde Koko, pastilah apa yang disampaikan ke publik sudah disaring lembut. Pasti berbeda saripatinya dibandingkan tulisan yang dilaporkan kepada negara atau perusahaan yang memanfaatkan jasa profesionalnya. Lha iya lah, info gratisan jangan dibandingkan dengan yang berbayar.

#2

Pakde Koko hendak mengedukasi khalayak bahwa ada dunia lain di balik dunia yang sehari-hari kita jalani ini. Bukan hendak menakut-nakuti, atau sebaliknya menjadikan khalayak meminati topik ini lalu menjadi ahli, melainkan hendak menunjukkan bahwa kehidupan di depan layar ini sangat dipengaruhi oleh kehidupan di belakang layar; bahwa selain ada panggung terang ada ruang gelap tempat sutradara mengatur pemain di panggung terang. Cukup tahu, pesannya, supaya setidak-tidaknya mawas diri dan waspada setiap merespons sesuatu, lalu bijak untuk diam atau bergerak meredam.

Lalu untuk apa semua tulisan ringan dari tupperware sampai cyber war Pakde Koko tulis?

Lho, jadi tulisan-tulisan Pakde Koko itu bertujuan jualan? Saya meyakini: iya!

#3

Sebagai copywriter, saya menangkapnya sederhana saja: PERSONAL BRANDING. Topik ini juga Pakde Koko ulas, kan? Pakde Koko, dengan keseluruhan tulisannya, sudah menunjukkan bagaimana menyusun COPYWRITING (salah satu tulisan Pakde Koko yang digemari membahas bagaimana kata-kata bisa menembus croc brain) secara maraton demi menanamkan pesan secara mendalam kepada khalayak bahwa Pakde Koko adalah orang yang sangat kompeten di bidang yang beliau “jual”.

Lho, jadi tulisan-tulisan Pakde Koko itu bertujuan jualan? Saya meyakini: iya! Dan karena yang ia jual adalah sesuatu yang belum banyak dikenali sekaligus tidak standar harganya, artinya jasa yang ditawarkan sangat spesifik, maka Pakde Koko menjualnya lewat cerita-cerita ringan yang sudah disublimasi dengan pesan-pesan khusus. Orang tidak sadar bahwa tulisan-tulisan Pakde Koko adalah gerilya jualan yang brilian. Bagaimana tidak sadar? Selain Pakde Koko dikenal baik, tulus, dan alamiah dalam berelasi dengan siapa pun, tulisan-tulisannya juga sangat tidak berbau jualan; kecuali jika dirangkai satu dengan yang lain.

Orang tidak sadar bahwa tulisan-tulisan Pakde Koko adalah gerilya jualan yang brilian. Bagaimana tidak sadar? Selain Pakde Koko dikenal baik, tulus, dan alamiah dalam berelasi dengan siapa pun, tulisan-tulisannya juga sangat tidak berbau jualan.

Tanpa memegahkan diri dengan menyebut diri sebagai copywriter seperti saya, Pakde Koko sudah terbukti sebagai Copywriter Agung, bersanding dengan Inspektur Agung. Ia psikolog yang andal. Lewat tulisannya, ia juga ahli keamanan yang piawai: membeber sedikit kehidupannya untuk menembus jejaring besar Kagama (dan tentu saja khalayak lebih luas), yang di antara sekian puluh ribu anggotanya adalah pengambil kebijakan penting negara atau perusahaan, atau setidaknya memiliki posisi strategis untuk mempengaruhi pengambil kebijakan, yang klien-klien perusahaannya datang dari referensi pembaca tulisan ringannya.

Begitulah tulisan bekerja. Jadi, bagi yang pernah ikut pelatihan copywriting sehari lalu bermimpi bisa jualan produk/jasa spesifik kepada klien kelas kakap sebaiknya bangun dari tidur lalu belajar dari Pakde Koko di sini. “Paham ya, Parto Ekrak!”

@AAKuntoA | 03082021