Jogja Macet

Status media sosial banyak orang yang sedang berkunjung ke Jogja hari-hari ini sama: macet! Ada yang menulis “Jakarta pindah Jogja”. Bersamaan, para pewarta foto menghelat pameran “Jogja Berhenti Nyaman”.

Tak hendak turut mengeluh, saya memilih untuk menyorot Jogja dari dua sisi: pemasaran dan kreativitas. Ada paradoks pada keduanya.

Secara pemasaran, kemacetan Jogja di musim liburan menandakan keberhasilan menancapkan merek kota ini sebagai tujuan wisata. Sekaligus, kegagalan pengelola merek dalam menyediakan pilihan.

Kemacetan terjadi di pusat kota, atau di kawasan wisata utama (mainstream) seperti: Malioboro,Keraton, kawasan pantai selatan, atau pegunungan Kaliurang. Jalan-jalan ke sana dipastikan penuh kendaraan. Nancep di kepala ya, wisata di Jogja ya di tempat-tempat itu… Maka semua orang merangsek ke sana. Dengan kendaraan pribadi pula, penuhlah jalanan Jogja yang sempit ini.

Mereka yang menyelinap ke objek wisata alternatif, menyusuri jalur-jalur alternatif, dengan perspektif wisata yang alternatif pula, pasti terbebas dari jebakan kemacetan. Sejatinya, Jogja menyediakan banyak sekali objek wisata alternatif, baik alam, budaya, pendidikan, maupun lainnya. Butuh promosi khusus untuk mengenalkan objek-objek tidak biasa tersebut. Butuh kreativitas untuk memindahkan kerumunan wisatawan.

Wisatawan sendiri, dalam kacamata ini, terjebak di kemacetan karena mereka umumnya wisatawan yang biasa, yang dalam hal ini termakan persepsi bahwa “ke Jogja ya hanya seputaran Malioboro”. Dalam benak mereka, tidak afdol rasanya ke Jogja jika tidak ke tempat-tempat yang secara merek asosiatif dengan Jogja. Wajarlah jika terkurung kemacetan.

Sebaiknya, saat di Jogja, katup kreativitas dibuka luas-luas. Jogja, di atas semua objek yang ada, adalah kota yang dikenal karena kreativitas pemukimnya. Dengan bersepeda, banyak jalan bebas macet. Mengunjungi sosok-sosok seniman-pendidik, di kampung, bebas macet. Wisata kuliner tengah malam-dinihari, yang juga menarik, bebas macet. Dan pengalaman-pengalaman itu, jika mau melakoni, tak akan kalah berbobot untuk dijadikan oleh-oleh cerita tentang kota ini.

Ke Jogja, kalau hanya mengunjungi tempat-tempat biasa, yang didapat ya potret biasa-biasa saja. Akan kapok tak mau kembali lagi. Coba tanya ke “alumni Jogja”, yang pernah tinggal dan bekerja atau studi di sini, hasrat untuk selalu pulang ke sini lebih-lebih karena pengalaman mendalam tentang kota ini: interaksi antarmakhluk, keunikan sudut-sudutnya, dan kemenyatuan dengan masyarakatnya.

Saat liburan kali ini, setelah sempat ke luar kota sebentar, saya menerima ajakan beberapa sahabat untuk bertemu. Ada yang ke Jogja karena pulang kampung, ada pula yang sengaja berlibur ke kota yang bukan tumpah darahnya.

Dari kampung, tempat saya tinggal, kebaruan informasi tentang situasi Jogja terpantau selalu anyar. Alhamdulillah, seperti di kampung-kampung lain, siaran berita radio bisa saya tangkap dari kampung. Juga, syukur kepada Sang Hyang Maya, sinyal internet cukup kerasan menemani saya. Hanya kadang ngadat saat mendung. Juga suwung (blank) di meja makan, padahal saya paling demen makan sambil menggelar koran cetak atau membentang situs online. Ya, Jogja di genggaman.

Maka, ketika ada sahabat yang mengajak bertemu sambil mengudap atau nongkrong, saya bergegas sodorkan rambu-rambu, “Boleh, asal tidak di dalam kota!” Lho, kenapa, bingung lawan BBM. Ya, saya memagari diri untuk mau bertemu di kawasan luar jalan lingkar (ring road). Di kawasan luar itu jalanan masih longgar. Nyaman. Jogja banget.

Pantas bingung. Saya menyodorkan syarat dengan bahasa yang tidak resik. Buru-burulah saya menjernihkan, “Mau di Angkringan Sejahtera Balangan, Bakmi Jawa Pesanggrahan, atau Sate Kelinci Kaliurang? … oh, baik, baik, kalau di selatan mau Sate Klatak Jejeran, Belut Pak Sabar Ngotho, atau Gule Balung Jodog?” Pilihan-pilihan menarik itu selalu mampu mengalihkan kerisauan kenapa saya tidak mau diajak bertemu di dalam kota. Nanti, setelah mereka menentukan pilihan, dan sampai di lokasi tujuan, barulah saya ungkapkan, tempat-tempat yang saya tawarkan itu semua berlokasi jauh di luar kota. Pilihan-pilihan itu mengarahkan.

Apakah di dalam kota tidak ada tempat menarik? Oh, banyak sekali. Hanya karena musim liburan dengan kemacetan yang bisa bikin lapar tujuh turunanlah saya menyembunyikan daftar tujuan dalam kota tersebut. Lain kali, di hari biasa, saya tunjukkan tempat-tempat tersebut.

Di atas semuanya, soal menarik-tidaknya suatu objek bergantung pada kemampuan kita mengemas cerita. Sesuatu yang biasa asal dikemas secara menarik pasti jadi tak biasa lagi. Sebaliknya, pagi wisatawan, atau sahabat-sahabat saya itu, sesuatu objek biasa asal dipandang, dirasa, dan diterima secara antusias pasti ada sisi menariknya.

Nah, dengan demikian, dengan fakta kemacetan pun, sejauh ada keberanian untuk kreatif, apa pun bakal menarik, bakal bermanfaat.

 

Salam hangat,

@AAKuntoA | solusiide.com | aakuntoa@solusiide.com

Incoming search terms:

  • jogja macet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *