Joni, Glorifikasi Kepahlawanan di Atas Kepala Kebodohan

Joni dan tiang bendera yang pangkalnya saya kotaki hijau. (foto: capture Youtube Mediapro Music)

Joni dan tiang bendera yang pangkalnya saya kotaki hijau. (foto: capture Youtube Mediapro Music)

Masih ingat Joni, pemanjat tiang bendera pada upacara bendera 17 Agustus 2018 di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur? Betul, Joni yang viral itu.

Peringati 76 tahun kemerdekaan Republik Indonesia 2021, saya kok ingin merenungkan peristiwa tersebut; setelah empat tahun berubahkah kita? Sudahkah kita merdeka dari bertindak asal-asalan?

Tali pengikat bendera merah-putih bagian merah lepas. Melenting ia ke pucuk tiang. Tali bagian putih selamat dalam genggaman. Petugas pengibar bendera bengong. Bendera merah-putih tetap dibentangkan meski tahu itu tak menyelesaikan masalah.

Inspektur upacara, pejabat nomor dua di kabupaten, bertanya, “Siapa bisa panjat tiang bendera?”

Joni, di barisan belakang, mendengar pertanyaan itu sebagai perintah. Ia beranikan diri maju, usai melepas sepatu karena diperintah, dan memanjat tiang itu hingga puncak. Ujung tali diraihnya, digigitnya supaya kedua tangan tetap bisa berpegangan, dan ia meluncur ke bawah diiringi tepuk tangan.

Tak semestinya Joni memanjat tiang andai panitia dan perangkat-pejabat upacara tidak kuwur pikirannya!

Sejak itu pemilik nama Yohanis Gama Marschal Lau (14 tahun), jadi pahlawan. Tepatnya, sejak video amatir yang merekam pemanjatan menegangkan itu viral. Puja-puji netizen membahana di mana-mana. Terhadap Joni, meski tak ikut memviralkan, saya pun menyatakan kekaguman: berani, cepat, dan cekatan. Sebelia itu. Tapi nanti di pengujung tulisan, saya ingin pesan pada Joni, agar sekolah tinggi dan benar supaya kebodohan orang lain yang ditumbalkan padanya tak terulang di masa depan.

Joni tumbal kebodohan orang lain? Ya. Simak pengamatan saya.

Tak semestinya Joni memanjat tiang andai panitia dan perangkat-pejabat upacara tidak kuwur pikirannya!

Upacara bendera, apalagi peringati kemerdekaan RI, apalagi tingkat kabupaten, semestinya sudah dipersiapkan jauh hari. Menyeluruh sekaligus detail tiap bagian.

  • Petugas upacara pasti sudah dilatih jauh hari, termasuk cadangan, seandainya ada yang berhalangan karena sakit.
  • Ambulans lengkap dengan petugas medis dan obat-obatan disiagakan untuk jaga-jaga seandainya ada yang pusing, pingsan, atau mati!
  • Genset (generator set) disiapkan supaya pengeras suara tetap lantang seandainya listrik dari sambungan umum padam.

Lalu pasti ada namanya gladi bersih: latihan seolah-olah sesungguhnya. Mestinya, pada saat itu semua sudah dicek kesiapannya. Sudah diantisipasi pula seandainya terjadi risiko tertentu.

Maka, kalau panitia upacara di Atambua saat itu bekerja serius dan benar, hal panjat tiang itu tidak perlu terjadi. “Loh, tapi insiden itu kan tidak terduga?” Terduga saja!

Lepas mur baut ini lepas masalahnya. Sederhana.

Lepas mur baut ini lepas masalahnya. Sederhana.

Simak dari dekat. Tiang bendera yang dipasang di lapangan upacara itu sudah disiapkan untuk kondisi darurat. Ada tiga “mur baut” yang mengikat tiang utama dengan dua tiang penyangga. Cukup lepas dua saja lalu miringkan tiang dan tarik tali yang terhempas, lalu tegakkan lagi dan pasang kembali seperti sedia selesai sudah. Sederhana, sedikit orang, tidak perlu heboh.

Satu lagi, tidak berisiko. Dalam tayangan tampak Joni memanjat tanpa tali pengaman. Bagaimana jika tiang patah atau dia terhempas angin kencang lalu jatuh?

 

Demam viral

Orang ringkih sensitif pada perubahan suhu badan. Naik sedikit meriang, turun sedikit tumbang. Badannya mudah panas, emosinya mudah ngegas. Enggan istirahat dan mengenali gejala perubahan lalu buru-buru ke IGD rumah sakit. Terang, disuruh pulang dengan titik terang, “Saudara kurang minum.”

Netijen +62 termasuk ringkih. Lihat ada aksi heroik sedikit aja langsung kalap sebar-sebar kabar ke mana-mana. Tentu, ditambahi paranarasi ala warung penyet: yang penting pedas! Komentar puja-puji bertaburan di media sosial dan media massa. Fokusnya jelas, pada aksi Joni. Aksi Joni adalah solusi.

Pejabat +62 tak kurang-kurang. Hasrat populer secara instan menjadikan perangkat pengeras suara bukan untuk menyuarakan kebenaran tetapi ketenaran. Alih-alih, dalam kejadian Joni, perintahkan panitia atasi masalah, malah koar-koar ke peserta siapa berani panjat tiang.

Kalau tiang benderanya seperti tiang bendera di Istana Negara okelah, tak bisa direbahkan. Mesti pakai crane telescopic atau aerial work platform. Bukan dipanjat-panjat. Lha ini, tiang a la pramuka, mudah sekali mengatasinya.

Joni sama sekali tak salah. Ia bertindak atas dasar pertimbangan sederhana saja: bisa melakukannya. Saya yakin, ia tak hendak cari tepuk tangan, diviralkan, dan dihujani hadiah dari sana-sini. Mana terbayang dari tepian Pantai Motaain sana megahnya Istana Negara di Jakarta, yang ia diundang datang lalu pulangnya dijemput pejabat kabupaten.

Joni beruntung. Tak ada istilah lain: beruntung. Tentu, atas semua yang didapat Joni berhak menerimanya. Saya pun sama sekali tidak menggugat Joni dan apa yang didapatnya. Rezeki Joni!

Tapi Joni sebaiknya sadari, menurut saya, bahwa setelah semua peristiwa tersebut beserta semua hadiah yang diterimanya, ia perlu belajar cara berpikir yang benar. Syukur Joni mau menempuh pendidikan lebih tinggi. Atau setidaknya mau membaca literatur supaya tahu beda cara berpikir benar dan cara berpikir berburu tenar.

Setelah belajar berpikir benar, Joni akan tahu bahwa peristiwa yang melibatkannya itu berlebihan. Ia jadi korban dari orang-orang yang tidak disiplin berpikir benar. Ia jadi tumbal orang-orang yang bernafsu tenar.

 

Selamatkan Joni!

Masa depan Joni perlu diselamatkan. Glorifikasi (membesar-besarkan sesuatu sehingga tampak luar biasa) itu berbahaya untuk kehidupan wajarnya. Di luar keberuntungan, penghargaan setinggi itu bukan sesuatu yang mudah dan lazim diraih dalam kehidupan yang normal.

Yang normal, misalnya, penganugerahan penghargaan kepada peraih medali emas Olimpiade Tokyo 2021 Greysia Polii dan Apriyani Rahayu. Pantas ia diundang ke Istana Negara: mereka telah mengibarkan bendera merah putih dan mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya di kancah dunia. Pantas ia menerima hadiah dari banyak pihak: mereka telah mengorbankan masa muda mereka untuk latihan demi latihan dan pertandingan yang berjenjang. Pantas mereka dielu-elukan karena pencapaian mereka bukan capaian sesaat.

Nasib baik Joni lebih tipis peluangnya dari menang judi!

Terpenting, pencapaian mereka bisa direplikasi. Bakat-bakat muda yang sedang menempa diri di pusat pelatihan-pusat pelatihan bisa secara sengaja mengikuti jejak Greysia dan Apriyani untuk menjadi juara berikutnya. Banyak ajang kejuaraan diselenggarakan. Aturan dan ukuran prestasinya jelas. Pun terbuka: standar. Artinya, sebagaimana pendahulu, jika kelak mereka menggondol pulang medali, layak pula mereka beroleh apresiasi.

Tidak dengan peristiwa Joni. Teman-teman Joni yang hobi panjat pohon kelapa tidak bisa berharap bisa mengulang “nasib baik” memanjat tiang bendera di upacara tujuh belasan. Jika toh ada kecelakaan serupa, pelakunya belum tentu diundang ke Istana Negara. Tergantung ada-tidaknya kamera yang menyorotnya atau pejabat yang jeli mengelola momentum. Nasib baik Joni lebih tipis peluangnya dari menang judi!

76 tahun Indonesia Merdeka, dalam perhatian saya, sudah saatnya merdeka dari sesat perilaku “dikit-dikit viral”, “halu mudah haru”, “hal sepele dibesar-besarkan”, dan “membenarkan kebiasaan-kebiasaan tidak benar”. Kasihan Joni dan generasinya jika kecanduan viral dan kanker heroisme.

Semoga tulisan ini viral sehingga Joni membacanya. Hiks, viral!

@AAKuntoA | 13082021