Kabar Wartawan

Apa kabar pers arus utama? Bagaimana media mengawal demokratisasi? Masih menjadi pilar keempatkah? Apa saja yang terbuka dilakukan media massa dalam membangun optimisme hidup berbangsa?

Saat ini saya sedang tergabung dalam sebuah tim alih kelola (take over) sebuah perusahaan surat kabar. Masih negosiasi. Jika nanti pembicaraan pengelola lama dan calon pengelola baru sampai di titik sepakat, saya mendapat tugas masuk di tim redaksi. Kembali menjadi wartawan. Kembali ke dunia olah berita yang saya masuki 21 tahun lalu dan saya tinggalkan 12 tahun sesudahnya.

Zaman sudah berubah. Kehidupan bermedia sudah bukan monopoli pers arus utama. Media sosial salah satu pengubahnya. Setiap orang bisa jadi penyampai berita. Setiap orang bisa seketika menanggapi berita yang sampai di tangannya. Berita telah turun kasta sebagai kabar ketika informasi begitu mudah disebar tanpa filter-filter akurasi, kebenaran, dan kemanfaatan yang lazim dijunjung di jurnalisme.

Banyak wartawan yang terseret tsunami perubahan ini. Rezim kecepatan melemparkan banyak wartawan kepada cara kerja asal-asalan: asal kutip, asal tulis, asal tayang. Bertangkup pula mereka dengan pembaca yang turut asal-asalan: asal baca, asal komentar, asal menyebarkan. Tak banyak wartawan yang sanggup bertahan ketika kinerja mereka semata diukur dari berapa banyak pembaca meng-klik tautan berita mereka, berapa banyak pembaca membagi (to share) tautan mereka di media sosial. Rating jadi tolok ukur di mana-mana.

Hidup sebagai wartawan, seperti berita di bawah, terasa kian melelahkan. Tuntutan industri tak lagi menyediakan ruang hening bagi empu keempat demokrasi ini. Dunia yang gaduh tak izinkan mereka mengeluh.

Tentu tak semua wartawan begitu. Tak semua media juga begitu. Saya melihat dan merekam, masih banyak wartawan dan media yang setia pada panggilan luhurnya. Mereka tetap kritis di tengah zaman yang oportunistis. Mereka tetap membangun optimisme di tengah arus besar yang pesimistis. Dari mereka kita masih tetap mendapatkan berita yang mencerahkan seputar profil manusia unggul, penemuan teknologi baru, pertumbuhan ekonomi, prestasi olahraga, ladang pengharapan dunia pendidikan, dll.

Di atas semua itu, menariknya, saya justru penasaran bagaimana ya supaya kehidupan wartawan kembali menggairahkan—tak sekadar melelahkan? Saya penasaran, cara-cara terbaik apa saja yang bisa ditempuh untuk tetap menjadikan profesi ini di posisi paling atas, bukan terburuk, melainkan terbaik?

 

Salam rasan-rasan,

CoachWriter @AAKuntoA

www.solusiide.com | aakuntoa@solusiide.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *