Kebakaran George-got!

Sayangi KeraGeorge Junus Aditjondro (GJA) jadi berita lagi. “George dituding melecehkan Keraton Yogyakarta,” bunyi headline Koran Tempo halaman Jawa Tengah & Yogyakarta edisi Jumat, 2 Desember 2011. Atas tudingan itu, sekelompok orang yang menamakan diri Forum Masyarakat Yogyakarta melaporkan George ke Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tubuh berita itu menjelaskan hal ikhwal pelaporan itu. Pada sebuah diskusi publik tentang Sultan Ground dan Pakualaman Ground di Fakultas Teknologi Pertanian, Rabu (30/11), George menyebutkan akronim keraton sebagai kera ditonton.

Selain melaporkan ke polisi, forum tersebut juga mengadukan George pada atasannya, Rektor Universitas Sanata Dharma, tempat George, masih mengutip koran tersebut, tercatat sebagai dosen Program Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya.

Di media jejaring sosial, George pun ramai jadi bahan gunjingan. Lebih-lebih ketika seorang aktivis menulis status di Facebook bahwa ia dan teman-temannya usai menggerudug rumah kontrakan George. Mendapati George tak di rumah, bunyi status tersebut, mereka menitipkan tiket bus Joglosemar jurusan Jogja-Semarang kepada ketua RT setempat. Mereka mengusir George dari Jogja!

Lucu tenan. Hooh, marai wetengku bangka. Guluku tengeng nyangka cangkem nyekakak. Gerrrrr…

Apa sebab saya tertawa? Sebab, lucu sekali. Hanya gara-gara bedes, munyuk, saja kok mbanyaki. Bedes adalah sebutan orang Jawa Timur untuk kera, sedang orang Jogja menamai saudara tuanya ini munyuk. Banyak adalah bahasa Jawa angsa/soang. Mbanyaki berarti panik seperti angsa. Bukankah mestinya kita menyayangi binatang, termasuk kera dan angsa?

Sebagai orang Jogja, saya tersinggung. Eits… eits… eits… kalau tersinggung berarti saya boleh mengusir orang yang membuat saya tersinggung? Lalu, teman orang yang saya usir itu tersinggung, gantilah saya diusir. Waduh, Jogja jadi kota usir-mengusir dunk… Padahal setau saya, hanya sopir andong yang boleh mengusir (Kalau nggak mudeng gojegan kere ini, jangan tersinggung ya).

Saya tidak membela George. Saya bukan teman George, walau pernah direpotkan oleh kejahilannya “menghilang dari peredaran” usai bikin heboh menerbitkan buku Gurita Cikeas, tahun lalu, saat saya masih bekerja di perusahaan yang menerbitkan bukunya itu. Meski tak terlibat dalam pengerjaan bukunya, termasuk menyunting sekali pun, saya mesti meladeni teman-teman media yang memburu pernyataannya. Obat penenang datang dari beberapa koleganya, “Dia biasa begitu. Bikin heboh, lalu menghilang.” Oh, saya pun tertawa masam. Saya memaklumi.

Saya juga tak membela keraton. Saya bukan kerabat Kasultanan Yogyakarta dan Pura Pakualaman. Saya hanya warga Jogja kebanyakan, yang menghormati keraton sebagai alas dan payung kejogjaan saya. Lagipula, untuk apa keraton dibela? Di umurnya yang sudah sekian abad, keraton Jogja sudah terbukti mampu melewati banyak onak, baik busur kata maupun senjata baja. Dan onak beracun saja yang dihadapi.

Keraton Jogja itu entitas besar. Tak akan berkurang kebesarannya hanya oleh olok-olok George—tapi akan merosot kebesarannya kalau tidak menuntaskan kegusaran rakyat yang didiskusikan di forum itu. Tak perlu pula membela keraton secara berlebihan. Apalagi nama Jogja melekat di sini. Jogja itu bangsa besar, berhati besar. Sebaiknya tetap menggunakan cara-cara besar untuk menyelesaikan perkara, walau untuk perkara kecil ini.

Bukan dengan cara mengusir. Mengapa? Nanti bisa “salah kedaden”. Sebab, setahu saya, yang biasa mengusir itu aparat dinas kependudukan, untuk warga yang didapati tidak punya KTP. Atau kementerian luar negeri untuk warga asing yang tidak mengantongi dokumen resmi masuk ke negara kita—deportasi.

Santai saja, dab. Seperti waktu SBY datang ke Jogja jagong manten anak ragil Sultan HB X tempo hari, kita kan juga tidak nggrudug Gedung Agung dan mengusir sang presiden kan? Padahal, sikap SBY terhadap keistimewaan DIY, termasuk ucapan populernya soal “republik bukan monarkhi” kurang nylekit seperti apa? Hiks, toh SBY sendiri memilih bergaya raja, dengan pakaian adat Jogja, ketika mantu. Ndagel matikel-tikel to?

Menurut saya, sebaiknya hati rakyat Jogja tetap seluas samudera, sebagaimana Jogja berhalamankan Laut Selatan. Samudera itu menerima apa pun. Badai. Hujan. Lahar Merapi dan sampah-sampah rumah tangga yang mengalir lewat sungai-sungai. Juga ludah orang yang berenang di pantai. Samudera tetap legawa, tetap asin.

Maka, kita tidak perlu kebakaran George-got—maaf George, namamu kuplesetkan sebagai jenggot!

Selamat berhari Minggu. Everyday is Santai in Jogja…

Jog-George-keraton, 4 Desember2011

AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.com; aakuntoa@solusiide.com]

 

Foto diambil dari sini.

1 Comment

Add Yours
  1. 1
    Maztrie™

    Tulisane mencerdaskan bangsa ik…
    sip dab..
    Pokmen kudu dadi warga Jogja sing cerdas juga ya, tanggepi wae George-got nganggo ndagel rak malah luwih dhemes, lah iki kok ya ndadak diganti sopir andhong lhoo… sakjane iki wis termasuk #salahkedaden sihh.. :)

    Te’ope begete

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *