Kelas Inspirasi

CoachWriter? Profesi apa itu? Pekerjaan apa yang dilakukan?

Tak sepi lini masa saya @AAKuntoA @myCoachWriter bertaburan pertanyaan setara. Saya bungah-bungah saja dihampiri nada-nada penasaran seperti itu. Sebungah hasrat untuk menjernihkannya.

Namun, sebelum anda menuai jawaban atas penasaran serupa, dan saya juga menggelindingkan pengertian atas rasa penasaran tersebut, saya ingin bercerita hal lain dulu. Pada akhir cerita ini nanti saya akan kembali ke awal, ke titik ketika pertanyaan-pertanyaan di atas beranjak.

Senin, 16 Maret 2015, esok saya menggabungkan diri dalam Kelas Inspirasi. Selama sehari, saya mengajar di SDN Kebonagung 1, Minggir, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dari kelas satu sampai kelas enam.

Mengajar apa? Sebagaimana semangat Kelas Inspirasi “berbagi inspirasi lewat profesi”, saya bercerita tentang profesi CoachWriter yang selama 3 tahun teranyar saya tekuni dengan pelapis ilmu coaching, mentoring, dan training berpenggerak NLP (neuro-linguistic programming).

 

Kenalkan profesi penulis

CoachWriter ini istilah yang pilih untuk mewakili apa yang oleh teman-teman seprofesi disebut sebagai write coach, yang aktivitasnya write coaching. Write coach merujuk pada pelatih menulis, sedangkan write coaching menunjuk pada pengertian pelatihan menulis. Coach, dalam hal ini, boleh dialihbahasakan sebagai pelatih.

Ya! Pelatih! Aha, istilah pelatih ini yang bakal saya ceritakan di hadapan anak-anak sekolah dasar di tepian Kali Progo tersebut. “Pelatih penulis” lebih mudah diucapkan ketimbang “CoachWriter”. Juga lebih bersahaja barangkali. Juga lebih memenuhi kaidah ketimuran yang menjunjung tinggi bahasa Indonesia. Istilah “CoachWriter” saya simpan saja di kamar “bio” media berkicau Twitter, yang tetap saya pakai untuk branding alias pencitraan.

Anak-anak SD tak akan saya suguhi pencitraan selayaknya di media sosial. Di media sosial, “CoachWriter” tampak hebat dan berkilau sebagai profesi berbayar mahal, yang pamornya tak akan sekinclong batu akik ketika diganti dengan “pelatih penulis”. Namun, saya kira, anak-anak SD itu tidak butuh pamor yang berkilau. Mereka butuh dikenalkan pada profesi yang mungkin mereka jangkau dan tekuni.

Jangkau dan tekuni. Dua kata kunci ini yang hendak saya yakinkan kepada anak-anak SD di kawasan sentra kerajinan mendong tersebut. Bahwa menjadi penulis itu sangat mudah mereka jangkau. Lebih dari itu, wajib mereka jangkau. Kemelesatan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi makin menghamparkan ruang untuk menulis. Percakapan lintas kepala lintas benua makin mudah berkat lalu-lintas tulisan yang semakin ringan dan lancar. Jika kita tak menulis, siapa yang akan mengisi ruang-ruang itu? Jika anak-anak tak diinspirasi menulis, siapa dari antara mereka yang akan jadi pencerah literasi di kemudian hari?

Pertanyaan itu sedang saya siapkan terjemahnya ke dalam bahasa yang mudah mereka pahami sebagai ajakan.

Tempo hari, bersama teman-teman relawan pengajar, saya survei lokasi. Lokasi SDN Kebonagung 1 tidak asing bagi saya. Sudah sejak kecil ketika belum ada jembatan di atas Kali Progo yang menghubungkan Kebonagung dengan Dekso, Kulon Progo, saya mendengar legenda Pasar Kebonagung, yang pasarannya sama-sama setiap “legi” seperti Pasar Pakem di dekat sekolah saya. Anjing pertama yang saya pelihara ketika SMP adalah pemberian Pak Basuki, Lurah Sendangrejo, tak jauh dari Kebonagung. Saat belum punya SIM (surat izin mengemudi), kala itu, saya ambil sendiri anjing mungil yang kemudian saya beri nama “Bruno” menunggang sepeda motor. Kebonagung berada di segitiga ingatan saya antara kampung Balangan, Daratan, dan Samigaluh.

Bertemu Bu Yanti, kepala sekolah tersebut, saat briefing di Pendopo Agung Tamansiswa, minggu lalu, terhimpunlah ingatan-ingatan itu.

 

Lahirkan penulis agung

Sesampai di rumah, 24,3 km dari lokasi menurut peta Google, saya “gugling” tentang Kebonagung. Ada beberapa tautan yang menyuguhkan informasi tentang Kebonagung. Dari beberapa tautan tersebut, terbuka peluang untuk menambahkan informasi supaya Kebonagung betul-betul semakin sesuai dengan namanya “kebun besar” yang syarat akan informasi. Setidaknya saya penasaran dengan mendong, pring apus, dan belut yang banyak dibudidayakan di sana. Mendong mengingatkan pada tikar mendong dan tikar pandan, alas duduk nyaman sebelum digulung tikar plastik. Pring apus simbol rumput raksasa yang bertekun tumbuh sejak tunas hingga menjulang mengingatkan akan kelenturan hidup. Belut yang licin maknakan hidup yang gesit.

Alangkah indah jika anak-anak SDN Kebonagung mulai menulis tentang kampung halamannya. Alangkah rindu pulang mereka yang merantau tatkala membaca tulisan tentang padi menguning, hamparan sawah menghijau, dan pemandangan anak-anak yang berlari telanjang kaki di pematang-pematang, menyandarkan sepeda untuk menjaring ikan dengan jari-jemari mereka.

Cerita roman seperti ini niscaya cukup untuk menghalau gundah hati ketika melihat sebagian anak suntuk bermain game online di game center 200 meter dari sekolah, di samping kiri kantor camat.

Oh bukan, bukan hendak melabeli bahwa game online itu buruk. Sama sekali bukan. Hanya hendak ingatkan, selain perlu mendunia lewat permainan ketangkasan otak dan jempol, anak-anak perlu dilindungi kekampungannya. Anak-anak Kebonagung perlu dilatih otot-otot kakinya dengan berlari di lapangan, perlu dilatih keberaniannya dengan berenang di kali, perlu dilatih nyalinya dengan memanjat pohon, perlu dilatih komunikasi dan tata krama dengan menyapa bakul-bakul di pasar di samping kiri sekolahnya…

 

Dan, tentu saja, supaya kelak lahir penulis dari Kebonagung, mereka perlu dilatih berimajinasi kreatif dengan menulis.

 

Salam inspirasi,

@AAKuntoA

CoachWriter | Licensed NLP Practitioner

www.solusiide.com | aakuntoa@solusiide.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *