Kemah Menulis

IMG_20150607_110525Belajar dengan bermain. Sungguh-sungguh bermain yang belajar. Tentang “kemah menulis” yang dimuat di Harian Bernas, 10 Juni 2015.

 

Aldian Aldi berdiri tegap di depan barisan. Ia memberi aba-aba kepada teman-teman yang berbaris di depannya. Hari mulai malam. Sebanyak 155 murid SMP Maria Assumpta Klaten tengah ikuti kemah menulis bertajuk “writing tresna jalaran seka kulina”, Sabtu-Minggu, 6-7 Juni 2015 di lapangan kampus setempat. Aldian murid kelas 7 di sekolah tersebut. Ia anggota dewan penggalang yang sejak sehari sebelumnya menggelar kemah pramuka untuk peserta yang sama.

Malam itu terasa istimewa. Acara pelatihan menulis diadakan secara berbeda. Tidak di kelas atau aula, melainkan di lapangan terbuka. Duduk di lapangan basket, mereka beratapkan langit. Sedang tidak berbintang, langit hanya berhias secuil bulan. Itu pun sembunyi-sembunyi di balik awan.

Mengundang pembicara dan pelatih menulis AA Kunto A, kemah menulis dikemas sedemikian rupa menjadi ajang belajar menulis secara mudah dan menyenangkan. CoachWriter yang sekaligus Pemimpin Redaksi HarianBernas.com tersebut punya metode unik menggerakkan murid-murid antusias belajar menulis.

Untuk membuka wawasan betapa penting menulis, Kunto mengajak murid-murid bermain. Sederhana sekali permainannya, yakni pesan berantai. Setiap pemimpin kelompok diminta maju menulis satu kalimat pendek. Kalimat itu kemudian dibisikkan kepada teman di belakangnya. Begitu seterusnya sampai di barisan terbelakang.

Sesampai di belakang, murid yang mendapatkan pesan terakhir dipanggil maju berdiri paling depan. Bergeser satu langkah ke kanan, murid tersebut membisikkan pesan yang ia dengar kepada peserta di belakangnya. Begitu seterusnya sampai setiap anak yang terhimpun dalam 16 kelompok mendengarkan pesan yang berbeda-beda secara lisan.

Usai itu, secara acak mereka diminta maju menyebutkan apa saja yang sudah mereka dengar dan tularkan. Kelucuan terjadi di sini. Salah dengar, menambahkan, dan mengurangi kalimat membikin peserta lain tertawa. “Ini gambaran tentang masyarakat lisan. Pesan yang hanya diucapkan bisa diterima berbeda oleh penerima pesan. Beda dengan menulis. Pesan yang diedarkan secara tertulis lebih terjaga kuutuhan pesannya,” ungkap Kunto menyampaikan makna dari permainan tersebut.

Esoknya, acara berlangsung lebih seru. Pelatihan menulis dilangsungkan di alam liar lewat permainan “wild game”. Dalam tema “selfie writing with NLP”, peserta diajak berjalan kaki sekira 5 km menyusuri gang-gang di perkampungan dan persawahan, menyelesaikan soal di 6 pos perhentian, dan merekam apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan (LDR). Ini adalah model pembelajaran secara NLP (Neuro-Linguistic Programming).

Menurut Kunto, dengan NLP, pelatihan menulis bisa berlangsung tanpa terasa seperti pelatihan pada umumnya. Lewat bermain dan berjalan-jalan, peserta belajar secara gembira melibatkan inderawinya secara utuh: mata, telinga, mulut, kaki, tangan, dan bagian-bagian diri yang lain. Di jalan mereka diminta memotret diri sendiri dan aktivitas yang ditempuh. Foto diri itu lalu dibagikan kepada teman. Di sinilah makna selfie, yang berbeda dengan narsistis, yakni ada unsur berbagi.

Sepulang dari kemah, mereka diberi waktu sehari menuliskan pengalamannya selama berkemah. Kata Kepala SMP Maria Assumpta, Sr Tati OSU, “Dengan kemah seperti ini, murid-murid jadi belajar pentingnya keseimbangan dalam belajar. Juga belajar berefleksi.” Dengan demikian, sambungnya, di era digital yang banjir informasi ini, murid-murid dapat memilah mana yang penting untuk dirinya dan orang lain dan mana yang tidak penting. Menulis mengasah pemahaman mereka akan mana yang penting tersebut. (*)

 

salam kreatif,

@AAKuntoA

CoachWriter

www.solusiide.com | aakuntoa@solusiide.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *