Kena Deh

990904 Ospek dan Pengkhianatan ReformasiGeli sendiri. Dulu antipati, sekarang jadi penyelenggara.

Ogah tunduk, saya tak ikut Opspek. Atribut aneh-aneh yang dipersyaratkan waktu itu penyebab awalnya. Perlawanan saya bukan perlawanan ideologis semula. Hanya perkara hitung-hitungan yang tidak ketemu nalar.

Tugas hari pertama sejatinya sudah mau saya bikin bareng beberapa teman. Seorang teman perempuan telah terlebih dulu belanja kebutuhan yang dipersyaratkan. Ribet bikinnya. Tak jelas apa tujuannya. Dan, yang mencengangkan saya waktu itu, jika pengeluaran hari pertama dikalikan empat sesuai dengan jadwal opspek, secara keseluruhan saya harus mengeluarkan uang senilai separo rupiah untuk membayar SPP satu semester. Blaik.

Urung. Balik kanan. Peduli amat dengan ancaman jika tidak mengantongi sertifikat opspek maka “tidak akan memperoleh beasiswa” atau “tidak boleh ikut kegiatan kemahasiswaan”. Memang, waktu itu warung penyet dan serba sambal belum menjamur seperti sekarang, namun ancaman itu pedas juga di telinga.

Dalam hati saya membalas, tidak mendapatkan beasiswa tidak mengapa. Saya usahakan sendiri. Dengan cara apa? Dengan cara menjadi penulis di media massa. Dan kelak benar, Harian Bernas termasuk salah satu pemberi beasiswa terbesar untuk menopang kuliah saya. Selain menerima opini bebas saya, Bernas juga menyediakan kolom khusus “Teropong” untuk saya isi bergantian dengan guru menulis saya Pak St Kartono, Nurul Huda, dan satu teman yang sedang saya ingat-ingat namanya. Supaya tulisan saya dimuat, dan termasuk ketika mengambil honor, saya tak diminta menunjukkan sertifikat opspek.

Padahal, akhirnya saya punya sertifikat opspek. Bagaimana bisa? Walau tak ikut opspek, di kemudian hari, teman-teman jurusan menghukum saya sebagai ketua angkatan. Penebusannya, tugas pertama ketua angkatan adalah mengambilkan sertifikat opspek, mengisi nama mahasiswa yang ikut, dan membagikannya. Sebanyak 80-an lembar sertifikat saya bagikan sesuai nama teman-teman.

Ada sisa sekira 10 lembar. Tanpa nama. Bisa saya isi nama saya sendiri. Tapi buat apa? Bahkan pers mahasiswa Balairung tempat saya bergabung tak mensyaratkan sertifikat opspek.

Hari-hari di kampus berlangsung baik-baik saja. Kakak angkatan yang mengetahui saya tak ikut opspek pun tidak menyidangkan saya. Sebaliknya, santai-santai saja. Ndagelnya, di tahun berikutnya, teman saya Timbul dan Wiryo jadi panitia opspek. Menyesallah mereka yang telah bersungguh-sungguh menghayati opspek sebagai penentu hidup-mati sebagai mahasiswa. Sebab, kala itu, dua tahun menjelang Soeharto terjungkal, hidup-mati mahasiswa ada di mimbar orasi, aksi turun ke jalan depan kampus (ketika keluar kampus masih dihadang aparat; ketika aparat masih suka kepo masuk-masuk kampus), aksi turun ke bundaran, hingga mereka yang sungguh militan menduduki senayan.

Saat itu, jangankan mengurus beasiswa, berkegiatan mahasiswa yang aktivitasnya lutisan dan nyanyi-nyanyi saja dijauhi. Kelompok studi, kelompok aksi, dan demonstrasi sedang naik daun. Mahasiswa Sospol tidak turun ke jalan turun derajat kemahasiswaannya. Begitu kira-kira. Dan sambil membagi-bagikan selebaran, mahasiswa-mahasiswa itu membentangkan spanduk atau poster tulisan tangan. Tidak ada yang membentangkan sertifikat opspek. Baiklah, saya boleh jadi bagian dari barisan itu ternyata.

Sekarang, ini tahun ketiga, untuk kelima kalinya, saya ditugasi menyelenggarakan ospek untuk mahasiswa baru STIEBBANK. Di tahun pertama, baru segelintir panitia bersama saya. Tahun kedua sudah melibatkan mahasiswa. Tahun ketiga, yang siang ini kami rapatkan kedua kalinya, akan kami gelar akhir Agustus nanti dengan kepanitiaan bersama mahasiswa.

Saya mau ambil bagian dalam ospek yang dibalut dalam pelatihan AMT (achievement motivation training) karena tidak ada sama sekali gaya purba menjahili mahasiswa baru dengan penugasan sonder akal atau mendandani mahasiswa mengenakan atribut gembel tengil. Bahkan, semangat ospek pun bukan mengeluarkan uang, konsumtif, melainkan menghasilkan uang, produktif.

Selamat kepada Mas Otit yang kali ini terospek sebagai ketua panitia.

 

Salam sertifikat,

@AAKuntoA | CoachWriter

www.solusiide.com | aakuntoa@solusiide.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *