Kenalkan Profesi Jurnalis Sejak Dini

Delapan anak kelas lima dan enam SD Kanisius Kadirojo, Kalasan, Yogyakarta tersebut duduk manis di atas karpet merah di Perpustakaan Theresia, Jumat (16/10) pagi kemarin. Mereka antusias menyambut kelas jurnalistik yang akan saya bawakan.

Gita, Indah, Karis, Uno, Satria, Randy, Hensel, dan Gesang pun berkenalan secara unik. Mereka sebut nama dan kelas. Semua sudah tahu tentang itu. Begitu Gita bercerita tentang hobinya memasak dan merias wajah, tertegunlah teman lain. Mereka baru tahu. Begitu Satria memeragakan gaya dada dan katak, baru tahulah jika teman satu ini hobi berenang.

Ini kelas yang diselenggarakan oleh paguyuban wartawan Jogja “Wakijo” di sekolah-sekolah yang siswanya memerlukan pengetahuan dan kecakapan khusus seputar jurnalistik, menulis, dan public speaking. Kelas pro-bono ini kami dedikasikan untuk mengenalkan profesi kami secara dini kepada anak-anak.

Hari kemarin giliran saya yang berbagi. Bagi saya, selalu menyenangkan berbagi tentang bagaimana asyiknya menjadi jurnalis kepada anak-anak. Mata mereka memendar saat mendengar cerita tentang “jalan-jalan”. Memang, sengaja saya ceritakan sisi asyik ini supaya mereka mengimajinasikan profesi ini secara menyenangkan. Faktanya memang menyenangkan. Saya bisa berjalan-jalan ke hampir seluruh Indonesia dan beberapa negara berkat menjadi jurnalis dan penulis.

5W1H tak usah dicekokkan lewat teori. Biarlah anak-anak ini menemukan sendiri lewat wawancara. Dan wawancara juga tak perlu jauh-jauh, cukup berpasangan dengan teman, saling bertanya satu sama lain. Hal sederhana seputar nama, tempat tinggal, dan hobi jadi cerita berharga yang mereka temukan berkat kemampuan bertanya.

Tentang Harian BERNAS tentu saja mereka tidak kenal. Usia mereka baru 10 tahun. Bacaan mereka baru Bobo, Mombi, dan paling banter Girls. Mungkin orang tua mereka yang kenal koran inspirasi di Jogja ini.

Maka, saya tidak bercerita tentang koran ini kepada mereka. Saya hanya cerita tentang kegembiraan bekerja sebagai jurnalis. Bahwa selain jalan-jalan, menjadi jurnalis berarti menjadi orang yang tahu lebih dulu, menembus lebih dalam, dan berpengaruh lebih luas. Dengan tulisannya, jurnalis melampaui zaman.

Tentu, penggambaran tersebut saya sampaikan secara ringan dan sederhana. Dengan permainan dan metafora. Supaya mereka mengerti, saya ajak mereka bercerita tentang diri mereka sendiri, teman-teman sekelas, dan tentang sekolah mereka yang sarat prestasi: lingkungan asri, bikin batik, sekolah sehat, dll.

Kegembiraan saya bertambah ketika mereka memberondong saya dengan banyak pertanyaan tak terduga:

1. Kalau jadi wartawan, bagaimana meninggalkan keluarga?

2. Apa risiko jadi wartawan?

3. Berapa batasan umur jadi wartawan?

4. Apakah pensiun wartawan ditanggung perusahaan?

Ups. Ini pertanyaan anak SD!

 

Sungguh, saya tak menduga mendapatkan pertanyaan seperti itu. Tajam sekali. Dan kritis. Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan wawasan mereka yang luas. Mereka mampu bertanya melampaui kelaziman anak-anak seusia.

Bukankah jurnalis adalah penanya, sejatinya? Bukankah yang mereka lakukan dengan bertanya itu adalah sikap jurnalis? Secepat itu mereka menyerap. Baru beberapa menit sebelumnya saya ceritakan bagaimana jurnalis melontarkan pertanyaan, mereka sedemikian gesit menangkap dan memraktikkan. Dan baru beberapa saat saya cerita pengalaman menjalankan tugas jurnalistik selama beberapa waktu di daerah konflik, yakni di Timor Leste dan Aceh, mereka juga bisa menangkap sisi risiko profesi ini.

Saya jadi makin optimistis, ketika anak-anak dilatih bertanya sejak kecil—salah satunya lewat pengenalan profesi jurnalis—mereka akan terasah berpikir kritis, berpendirian teguh, bersikap tegap, dan tentu saja berwawasan luas. Di sisi lain, bertanya juga mengasah kepekaan, memijit empati, dan mengolah pekerti.

Latihan-latihan semacam penting dikenalkan kepada anak supaya anak tidak sekadar berlimpah pengetahuan kognitif melainkan juga mendalam secara afektif. Hapal dan pintar teori tentu baik, dan makin baik ketika mereka juga trengginas dalam olah nalar dan rasa.

Salam kreatif,

AAKuntoA

Penulis Buku “7 Steps of Writing Coaching”

Pemimpin Redaksi HarianBernas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *