Konsultan Pencitraan

Justru karena dibicarakan, bahkan dicibir, peran pencitraan dalam penampilan seorang pemimpin tampak begitu penting. Berarti ada sesuatu di balik pembicaraan tersebut.

Beberapa tokoh yang kerap diserang dengan olok-olok pencitraan adalah SBY, DI, dan Jokowi. Sengaja tidak saya tuliskan nama panjang mereka karena inisial atau nama cekak itu sudah melekat pada citra mereka. Pengandaiannya jelas: publik tahu siapa yang dimaksud.

Yang teranyar, dalam beberapa hari ini, pencitraan SBY kembali jadi pembicaraan gara-gara TB Silalahi, mantan tim suksesnya, menguak kabar bahwa perlu mendatangkan ahli bahasa tubuh dari Inggris untuk menata penampilan sang calon presiden waktu itu. Buahnya, sampai saat ini kita menjumpai SBY sebagai sosok yang tampak berwibawa, dengan gerak tangan yang teratur, senyum yang terjaga, dan tuturan yang terkontrol. Faktanya, publik negeri ini menerima polesan tersebut.

Tokoh lain, DI, dikenal dengan aksi “koboi”-nya. “Spontanitas” yang sempat bikin heboh adalah ketika ia turun dari mobil, membuka pintu tol, dan membiarkan mobil-mobil yang merangkak dalam kemacetan melenggang bebas. Masih banyak “kejutan” lain yang mengantarnya menghiasi halaman utama media. Sengaja saya beri tanda kutip pada istilah-istilah di atas untuk menunjukkan bangunan pencitraan yang dilekatkan pada tokoh ini.

Jokowi beda lagi. Citra yang sangat kuat melekat pada dirinya adalah tokoh yang gemar “blusukan”. Di luar tempelan citra lainnya, persepsi publik tentang kegemaran turba (turun ke bawah) tokoh ini menempatkannya dalam ruang-ruang perbincangan warga. Secepat kilat popularitasnya melesat.

Dalam konteks pembelajaran bisnis, pencitraan tokoh-tokoh itu sangat membantu untuk menjelaskan tentang kekuatan merek (brand) dan pembeda (positioning). Bahwa pesan tentang merek wajib dikirim lewat aktivitas-aktivitas nyata yang mudah dilihat, didengar, dan dimengerti. Bahwa merek tidak akan menancap di benak konsumen jika hanya lewat poster atau baliho yang memajang foto senyum. Indera konsumen perlu dilibatkan hadir dalam kisah nyata yang dibangun merek.

Menjelang tahun politik 2014, peluang menjadi konsultan pencitraan begitu terbuka—masa mesti impor konsultan dari Inggris? Yang perlu dicermati, citra tidak bisa dibangun hanya dari polesan luar saja. Publik tahu mana citra “seolah-olah” dan mana yang “senyatanya” dari tokoh-tokoh yang disebutkan di depan. Kerja nyata tetap dituntut supaya citra yang dibangun betul-betul tinggal di dalam keyakinan publik.

Jika pencitraan tidak dibarengi dengan kerja nyata, maka publik pasti menilai tokoh/merek tersebut pepesan kosong belaka. Kerja nyata pun tidak sekadar kerja-kerja proyek insidental, apalagi seremonial, melainkan kerja sistemik yang terukur dan berdampak riil pada perbaikan. Keterukuran ini pun mesti transparan supaya publik memiliki ruang kontrol untuk mengevaluasi. Dan bagi konsultan pencitraan, ini merupakan kerja serius yang tidak selesai semalam. Polesan gincu sudah tidak zamannya. Butuh penguatan karakter dari dalam yang tertanam tahap demi tahap. Hasilnya tidak selesai diukur hanya dengan survei-survei sekilas, melainkan mendalam (in depth).

 

Salam hebat,

@AAKuntoA | aakuntoa@solusiide.com

Incoming search terms:

  • apa itu konsultan pencitraan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *