Kotbah Terbaik

Bukan untuk diri sendiri. Untuk orang lain.

Bukan untuk diri sendiri. Untuk orang lain.

Jarang saya mendengar kotbah yang baik, entah dari pemuka agama maupun tokoh masyarakat. Jika pun isi dan cara menyampaikannya menarik, itu tak cukup menjadikannya baik di mata saya.

Kotbah yang baik, dalam takaran saya, bukan sekadar ucapan atau angan-angan. Kotbah yang baik, dalam penerimaan saya, adalah kotbah yang berangkat dari laku dan berujung pada laku. Bergerak.

Dari sedikit kotbah baik yang saya koleksi, sebagian besar dipanggungkan oleh mereka yang kata dan perbuatannya berjalin kelindan. Belum tentu omongannya hebat dan perbuatannya heroik. Acapkali justru saya tersentuh oleh kotbah yang dibawakan oleh orang kecil, dengan perbuatan sederhana, dengan dampak jangka panjang tak kasat mata, namun dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Dan dua minggu lalu saya menyimak salah satu kotbah terbaik itu. Dari Jogja, seorang diri, saya mengikuti 275 pelari ultra marathon berlari 150 km ke Semarang. Mereka berlari, malam-siang-malam-siang untuk menggalang dana bagi 2.200 orang muda yang sedang melukis masa depannya.

Tidak dibayar. Malah bayar.

Tidak diberi hadiah. Malah harus menyumbang.

Dari berbagai kota, mereka mengurus dan menanggung sendiri biaya tiket, penginapan, dan risiko jika cedera atau kelelahan.

Nyetir mobil, saya menguntit mereka. Cuk! Orang-orang ini gila! Sepanjang perjalanan, diselingi tidur dan makan, saya merenung-renung. Apa yang menggerakkan mereka berletih-lelah? Apa yang mereka kejar dengan meninggalkan pekerjaan demi berlari? Apa yang mereka perjuangan kala menyibak malam di jalan-jalan berbukit dan gelap? Apa yang mereka bela saat menepis sinar matahari yang menyengat?

Dalam diam, terengah-engah, berkeringat, bau kecut menyengat, mereka seperti bicara pribadi kepada saya: jika Dia yang berkenan, siapalah aku. Percakapan transendental ini teramat mistis untuk dipertanyakan apakah realistis.

Habis-habisan mereka memberikan diri. Aneh. Lalu mereka seperti dianugerahi keberlimpahan. Bukan material, melainkan spiritual.

Jika kotbah-kotbah 12 menit sebelum ini segera saya lupakan karena tak menggerakkan saya untuk menempuh laku baru, kotbah 30 jam ini saya rekam rapi dan utuh dalam batin saya.

Ini kotbah terbaik yang pernah singgahi dalam bilik imani saya. Donasi, karenanya, pantas saya sisihkan. Bukan untuk mereka melainkan lewat mereka.

Saya ajak anda, jika mengenal salah satu atau kesemua orang baik ini: Gregorius PriyoPatria BantengGreg Hadi Nitihardjo untuk mendukung mereka menghimpun donasi bagi anak-anak SOS Children Village Indonesia ini. Hari ini terakhir.

Ketik runtocare.com/support, sekarang!

#DesaAnakSOS
#JadikanAnakMudaHebat #SOSChilden

@AAKuntoA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *