Kuasai Media

Leslie Moonves pasti sedang berbunga-bunga. Menurut rilis Business Insider, Jumat, 10 Mei 2013, CEO CBS News ini merupakan kepala eksekutif perusahaan media berbayar paling mahal saat ini. Disebutkan, gajinya US$ 62,2 juta per bulan, sudah termasuk bonus pencapaian, kompensasi, dan tunjangan. Gajinya mengalahkan CEO Discovery Channel David Zaslav dan CEO The Disney Company Bob Iger.

Pantas saja media menjadi incaran bisnis. Pantas pula pengusaha nasional kita mengincar bisnis ini. Saking strategisnya, bahkan, partai politik mau tidak mau menggandeng media untuk memuluskan pencitraan mereka. Tak perlu sebut nama dan media, kita tahu media dan partai mana saja yang bermain mata menunggangi frekuensi publik demi mendongkrak perolehan suara mereka di pemilu tahun depan. Media menjadi elemen penting untuk menandai keberadaan mereka.

Banyak pihak sepakat, berkat teknologi informasi dan komunikasi, dunia semakin datar. Setiap pihak yang terhubung menempati derajat yang sama tinggi sekaligus sama rendah. Tidak ada kasta ningrat lagi karenanya. Semua pengguna media bersanding di kasta yang sama.

Beda dengan pemilik media. Dunia tak datar di mata mereka. Mereka sedepa lebih tinggi dari pengguna media. Menguasai media menempatkan mereka sepangkat lebih berkuasa dari kebanyakan pihak pemakai media. Ada beberapa benefit kenapa bisnis yang ditopang media lebih bersinar daripada yang lain.

Pertama, penyebaran informasi lebih cepat. Kecepatan adalah dewa baru yang amat digandrungi. Siapa cepat dia dapat. Kecepatan diyakini bisa mengalahkan kebesaran.

Kedua, jangkauan komunikasi lebih luas. Teknologi digital telah menjangkau ruang-ruang privat yang sebelumnya mustahil ditembus. Olok-oloknya: rambu-rambu “sales dilarang masuk kampung ini” lumpuh ditembus informasi yang menyusup massif dan lembut lewat layar televisi, website yang dibuka di laptop, twitter yang hadir di layar ponsel. Media melampaui batas rapuh teritorial.

Ketiga, respon publik bisa dikendalikan. Uniknya, media mengarah semakin terasa personal. Baik produsen maupun konsumen akan sama-sama teridentifikasi sebagai entitas personal, selayaknya individu, sehingga kedekatan emosional ini memungkinkan terjadinya dialog yang intens untuk mempertemukan maksud pihak-pihak yang berkomunikasi. Komunikasi multiarah ini menjamin penyimpangan persepsi bisa lekas diluruskan.

Tampak mudah bukan? Dan yang tampak mudah itu sekarang berbayar mahal. Leslie Moonves dinilai tinggi karena kemampuannya menunjukkan betapa yang mudah itu kini sedemikian berdaya. Menarik, kan?

 

Salam hebat,

@AAKuntoA

http://aakuntoa.com | aakuntoa@solusiide.com

Artikel ini dimuat di rubrik “Ide Bisnis” Harian Radar Jogja (Jawa Pos), Senin, 13 Mei 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *