Kuburan Digital

Subiakto: Jogja itu ya gudeg! (Foto: AA Kunto A)

Subiakto: Jogja itu ya gudeg! (Foto: AA Kunto A)

“Kalau namamu nggak ada di Google, matilah…,” vonis Subiakto Priosoedarsono, dalam sepotong percakapan di suatu parkiran hotel yang disulap menjadi tempat mengudap, Jumat (25/3)┬ásiang.

Pak Bi, sapaan orang-orang pada lelaki asal Solo yang lebih suka bekerja solo ini, dikenal sebagai pakar pencitraan. Publik menjulukinya “pakar branding”. Google dengan cepat menyuguhkan sosoknya, dan situs subianto.net, atau akun berkicau @subiakto, ketika kita mengetikkan dua kata kunci itu di mesin pencari.

“Padahal saya nggak suka disebut pakar. Pakar itu tahu teori. Saya praktisi. Tapi orang protes kalau saya mengelak disebut pakar branding,” Pak Bi serius.

Garis bawah tebal, cetusnya, “Jika kamu tidak mem-branding dirimu sendiri, orang lain yang akan mem-brandingmu. Saya ketik praktisi branding di Google ya nama saya nggak muncul. Begitu pakar branding baru muncul.”

Saat Pak Bi bicara ini, dalam hati saya ikut bicara, “Kalau kamu tidak menulis tentang dirimu, orang lain yang akan menulis tentang kamu. Dan itu setelah kematianmu!”

Subiakto dan saya: apa beda yang membedakan? (Foto: Hendri Hariyanto)

Subiakto dan saya: apa beda yang membedakan? (Foto: Hendri Hariyanto)

Tentang Jogja, di benaknya ya “kota gudeg”. Maka, begitu mendarat kemarin, ia langsung menuju sebuah warung gudeg yang tidak perlu saya sebut namanya–ketik saja di mesin pencari gudeg hehehe. “Ya, dalam benak saya, kalau ke Jogja ya gudeg. Nggak ada lain,” tukas pencitra Purwakarta sebagai kota “sate maranggi” ini.

Bahwa Jogja punya banyak predikat, yakni kota pendidikan, kota budaya, kota pelajar, dll, menurutnya, secara komunikasi branding perlu ada satu simbol yang ditonjolkan. Ia usul gudeg. Toh sesampai di Jogja orang tidak hanya akan makan gudeg. Tapi, pendapatnya, tanpa gudeg, orang tidak terpikat datang.

Mengapa gudeg? Mengapa makanan? “Karena sehari orang makan tiga kali,” sahutnya singkat. Iya, artinya citra kota bisa lebih sering melintas di benak orang daripada predikat lain yang siklusnya lebih panjang.

Jadi, brand Pak Bi tetep pakar branding atau praktisi branding? “Terserah publik. Yang terang nanti kalau saya mati cukup ziarahi saya di Google,” kelakar pengusaha yang sekarang banyak turun mendampingi branding kalangan UKM ini.

Di kuburan digital ya, Pak Bi?

Ah, “Bi is the most awesome branding practitioner ever!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *