Kunjungi Bung Hatta

Bersama Bung Hatta di Bukittinggi, rumah kelahirannya (foto: Chandrasena)

Bersama Bung Hatta di Bukittinggi, rumah kelahirannya (foto: Chandrasena)

Memasuki rumah dua lantai ini rasanya sejuk sekali. Adem. Padahal, matahari sedang terik-teriknya di penghujung musim kemarau. Berdiri kokoh di Jalan Soekarno-Hatta 37, Bukittinggi, Sumatera Barat, bangunan beratap seng dan berdinding kayu ini lekas membawa imajinasi saya ke masa sekian puluh tahun silam.

Muhammad Athar adalah nama kecil Bung Hatta. Kelak kita mencatat sebagai Drs. Muhammad Hatta. Athar berarti harum. Dan benarlah, hingga kini nama Bung Hatta begitu harum bagi bangsa Indonesia. Selain sebagai dwitunggal proklamator bersama Ir Soekarno, Bung Hatta juga dikenal sebagai Bapak Koperasi.

Beda dengan Bung Karno yang flamboyan dan populis, Bung Hatta cenderung diam dan bergerak di belakang layar. Ia banyak menulis—mengagumkan. Ia aktif di Majalah Hindia Putra (Indonesia Merdeka) sambil bergiat di Perhimpunan Indonesia. Studi dan berorganisasi ia jalani sekaligus.

Ketika merantau ke Betawi (Jakarta) tahun 1919, Hatta studi di Handels Midlebare School (HMS) jurusan dagang. Kemudian ia melanjutkan studinya di Handels Hogere School (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, Belanda. Secara khusus, peminatan studi ekonomi Bung Hatta ini yang mengantarkan saya mengenal lebih dekat penulis buku terkenal Beberapa Fasal Ekonomi ini. Saya yang setahun belakangan berkecimpung di sekolah tinggi ilmu ekonomi sehingga sangat perlu mempelajari pemikirannya. Ada banyak pertanyaan berkecamuk di kepala saya mengenai gagasan-gagasan ekonomi yang pernah Hatta lontarkan. Pertanyaan terbesar saya adalah bagaimana penguasa negeri ini, lebih-lebih sejak Orde Baru berkuasa, lebih condong untuk hanyut dalam arus pasar bebas ketimbang berjibaku melindungi kepentingan ekonomi nasional; bagaimana ekonomi liberal lebih dipuja daripada memperkokoh daya ekonomi rakyat lewat koperasi?

Di rumah yang terletak di Kampus Aur ini saya mendinginkan pikiran. Walau Bung Hatta hanya tinggal di rumah ini hingga usia 11 tahun, untuk kemudian merantau ke Padang, namun saya penasaran, masa kecil seperti apa sih yang mendasari Hatta menemukan pemikiran-pemikiran ekonomi yang hebat. Bagaimana tidak penasaran, Hatta kecil lahir dan bertumbuh di tengah keluarga kaya.

Ibunya, Siti Saleha, anak Ilyas Bagindo Marah, seorang pedagang besar di Bukittinggi. Bu Desi, pegawai honorer Dinas Pariwisata Bukittinggi, yang berjaga menemui pengunjung, menceritakan bagaimana keluarga Hatta memiliki 18 kuda pada saat itu. Saya bayangkan, jumlah itu setara status sosialnya dengan mereka yang sekarang memiliki 18 mobil kelas atas.  Bendi berpenumpang dua orang, yang tersimpan rapi di bangunan belakang dekat kandang kuda, disebut-sebut dikendarai untuk mengantar Hatta kecil sekolah di Europese Logere School (ELS) hingga Meer Uitgrebied Luger Onderwijs (MULO). Juga untuk mengantarkannya mengaji di Surau Inyik Djambek.

Walau sebagai anak laki-laki satu-satunya yang hidup dalam kemewahan dan dimanja, namun Hatta kecil sudah dikenal disiplin. Menjadi yatim di usia delapan bulan ketika ayahnya Haji Muhammad Djamil wafat di usia 30 tahun, menggemblengnya menjadi pribadi yang mandiri. Pendidikan umum yang ditempuhnya diimbangin dengan laku beragama yang taat.

Rumah rekondisi itu berdiri kokoh. Saya bersyukur bisa mengunjunginya. Kata Bu Desi, rumah itu dibuka setiap hari pada jam kerja. Tak ada libur katanya. “Kalau Bu Mutia ke sini, baru kami membukakan di luar jam kerja,” ujarnya. Mutia Hatta adalah putri pertama Bung Hatta dari perkawinannya dengan Rahmi Rachim. Selain keluarga, lanjutnya, banyak pejabat yang silih-berganti mengunjungi rumah bersejarah yang perabot-perabotnya disebut-sebut asli ini.

Hanya saja, dari perbincangan saya dengan seorang teman jurnalis, Rinal Sagita, di kantornya Tribun Pekanbaru, saya jadi prihatin mendapati Bukittinggi seperti sekarang ini. Bukittinggi yang pertama kali saya datangi ini sudah begitu padat dengan banyak bangunan baru, pasar, dan pusat perbelanjaan modern. Hanya di sudut-sudut tertentu saja bangunan khas Melayu masih tersisa. Bahkan, saat hendak berfoto di samping Jam Gadang, membelakangi lembah yang menghubungkan dengan Gunung Singgalang, sulit bagi saya menemukan latar belakang arsitektur yang menunjukkan saya sedang berada di dataran tinggi Minangkabau.

“Dulu, banyak sekali wisatawan asing yang datang,” tutur Rinal yang menghabiskan masa kecil di Bukittinggi. Bukittinggi yang saya temui memang tak ubahnya dengan Kota Batu di Malang, atau Puncak di Bogor. Kota ini telah bertumbuh sebagai anak zaman dengan simbol-simbol modernitasnya. Papan-papan iklan komersial dan politik bertebaran di mana-mana, menjadikan kota identitas kota ini makin kabur. Ketinggian lokasi hanya menyisakan sedikit hawa dingin, tak sampai menggigil, cukup untuk menikmati penginapan tanda penyejuk udara.

Saya merenung, potret seperti inikah yang diimpikan Bung Hatta? Hanya semalam, tak hendak saya mengadili Bukittinggi. Saya tetap bersyukur boleh bertandang sejenak ke sini. Yang sejenak ini pun mampu membimbing saya pada refleksi yang lebih mendalam.

Salam,

@AAKuntoA

http://aakuntoa.com | aakuntoa@solusiide.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *