Kuntoversial

Kuntoversial kontroversi KuntoGuru menulis saya, sebut saja namanya Gulis, mewasiatkan kepada saya bagaimana membuat tulisan yang dibaca. “Jangan menulis supaya disukai pembaca. Pembaca yang menyukai tulisanmu tak menambahkan apa pun pada karyamu.”

Belum sempat mengangguk atau menggeleng, Gulis hengkang dari kursi goyangnya. Itu perjumpaan terakhir saya dengan punggungnya. Selepas bayangan ia melayang dari pandangan. Hanya tinggal dalam kenangan.

Entah, ia sudah masih hidup atau sudah muksa. Yang terang, ujarannya kerap menghantui. “Tulisanmu nggak berarti apa-apa bagi yang menyukainya. Namun, ia akan mengganggu mereka yang tak menyukainya,” kuping saya mendenging tiap mengingatnya.

Diam-diam saya setuju meski saya tak suka dengan nasihatnya itu. Untuk apa menulis jika tak dibaca oleh pembaca yang suka? Diam-diam saya suka mengutip omongannya.

Diam-diam pula, saya gemar menyisipkan ungkapan-ungkapan dan ilustrasi kontroversial dalam tulisan. Saya menyebutnya kuntoversial. Contoh: kalau nggak tahu nggak usah tanya, sebutkan hal-hal yang nggak kamu pikirkan, atau kalau mau jadi abu ya jangan sok jadi api…

Pembaca yang suka hanya akan mengangguk-angguk atau nge-like, sedangkan yang nggak suka akan mengernyitkan dahi, berpikir, menangkiskan komentar sanggahan, dan membungkusnya dalam kegelisahan.

Saya memilih yang bungsu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *