Langsung Jaya “Jaya Wijaya Indonesia”

Bus Langsung Jaya jurusan Jogja-Solo. (foto: Nugroho Febianto, 2019)

Bus Langsung Jaya jurusan Jogja-Solo. (foto: Nugroho Febianto, 2019)

Berharap boleh, berkeyakinan jangan. Koreksi: berharap Indonesia Jaya boleh, berkeyakinan Indonesia Jaya wajib!

Ada dua bagian tulisan saya. Bagian pertama, interpretasi saya atas lagu. Bagian kedua, dialog dengan pencipta lagu.

I

Sampai lagu “Jaya Wijaya Indonesia” selesai saya dengarkan, tak ada secuil pun lagu ini berbicara tentang itu. Teks yang ada “Jaya Indonesia”. Video penyerta juga sama sekali tak memperlihatkan Jaya Wijaya, yang dalam benak saya, identik dengan puncak Gunung Carstensz yang berbalut es di Provinsi Papua.

Saya ulang memutar. Kini beberapa kali memutar demi menyimak teks dan konteks lagu ini dalam interpretasi saya. Ekspektasi seperti judul lagu mesti sesuai dengan isinya saya letakkan. Bahwa nanti interpretasi saya berbeda dengan maksud pengarang lagu biarlah pula. Perspektif interpretasi saya apa? Semiotik atau neuro-linguistik? Duh, a la-a la kali ya…

Sungguh ganjil bagi saya. Ada memori apa di pencipta lagu ini sehingga imajinasi kejayaan Indonesia nirmanusia?

Ada yang ganjil dari lagu ini. Hadeh, belum-belum kok sudah mencari kekurangan. Mbok memuji gitu, lho. Hahaha. Tenang, nanti bagian puja-pujinya. Saya menuntaskan dulu perjalanan ekspektasi saya. Ekspektasi pertama sudah runtuh: jaya wijaya itu tidak ada. Tinggallah ekspektasi tentang Indonesia. Apa yang saya temukan? Indonesia melulu digambarkan sebagai bentang alam yang indah. Bagaimana dengan manusia Indonesia? Tidak ada.

Indonesia tanpa manusia sebagai subjeknya bagaimana bisa mencapai kejayaannya? Kejayaan Indonesia untuk siapa jika tidak untuk manusianya? Ini sungguh ganjil bagi saya. Ada memori apa di pencipta lagu ini sehingga imajinasi kejayaan Indonesia nirmanusia?

Sudah, nasihat saya pada diri sendiri, sudahi melihat sisi ganjilnya. Tak adakah sisi genapnya? Woooo, ada!

Karena reflektif, mendengarkan lagu ini rasanya tenang. Indonesia baik-baik saja. Dengan cara baik, Indonesia akan lebih baik.

Pertama, saya suka lagu ini! Pertama kali mendengar, belum mendengarkan, saya bilang, “Bikin rindu Indonesia.” Ya, saya yang selamanya tinggal di Indonesia saja merindukan Indonesia setiap kali, apalagi si pencipta lagu yang sudah lama meninggalkan Tanah Airnya.

Jenis musik folk lagu ini mempertebal rasa Indonesianya. Bahwa Indonesia itu ya keragaman, seperti alat musiknya: ada petik, ada gesek, ada tabuh. Ah, saya tidak paham alat musik. Yang saya paham, begitu mendengar iringan musik lagu ini, “Aih, serasa di Flores. Ngingetin pada musik Ivan Nestorman.”

Kedua, lagu ini utuh. Menyimak dan menyanyikan teksnya terasa reflektif sekali. Doa, nadi, dan makna bertabur sebagai kata-kata yang arahnya ke dalam diri. Bahwa Indonesia itu ada di setiap pribadi. Maka, menjayakan Indonesia itu pun berangkatnya dari kesadaran diri.

Karena reflektif, mendengarkan lagu ini rasanya tenang. Indonesia baik-baik saja. Dengan cara baik, Indonesia akan lebih baik.

Sedangkan, karena jenis musiknya folk, mau nggak mau lagu ini bikin bergoyang. Arahnya ke luar diri, mengajak orang. Ketipung perkusinya otomatis bikin berdendang. Saya menyebutnya cocok untuk “dendang meditatif”, bukan “dendang ekspresif”, kecuali pas refren: “Jaya Indonesia!”

Ketiga, videonya bagus! Bikin rindu keliling Indonesia lagi.

Bus Jaya Putra jurusan Jogja-Solo (foto: Nugroho Febianto, 2019)

Bus Jaya Putra jurusan Jogja-Solo (foto: Nugroho Febianto, 2019)

II

DV mengingat perjalanan naik bus Jogja-Solo di tahun 1990-an. Klaten persis berada di antara dua kerajaan Mataram tersebut. Selama studi, ia mengaku kerap mudik ke Kampung Tegal Blateran, dekat alun-alun kota. Di perjalanan itu, ia ingat, ada pengamen memainkan alat musik yang karena bunyinya disebut “icik-icik”. Pengamen itu membikin sendiri dari bekas botol plastik “yakult” lalu diisi beras separo. Gesekan beras yang berantem di dalam botol yang dikocok itulah sumber bunyi “icik-icik”.

“Icik-icik” adalah Indonesia yang ia rindukan. Di lagu ini ia mainkan “icik-icik” itu. Tentu, bunyinya saja yang ia ambil. Alatnya bukan botol “yakult” melainkan shaker. Beda istilah.

DV menyingkap, baru di lagu ini berani main gitar dan ukulele. Ia rekam sendiri. Ia rekam sendiri-sendiri. Gitar sendiri, ukulele sendiri.

DV bersikukuh,dia suka dengan frasa “jaya wijaya” yang ia katakan, “Aku dapat dari Rudolf Dethu, budayawan modern (punk-rock) dari Bali.”

Gitar, tanya saya, bukankah sudah lama menguasai? Bukankah sudah sering memainkannya di panggung pelayanan? “Iya,” jawabnya, “Aku bisa nggitar sejak kelas 4 SD. Tapi bikin produksi musik ini perkara wani ora wani.” Baru kali ini ia berani bermain gitar dan merekamnya secara profesional.

Ukulele bagaimana? Apa atau siapa yang mengenalkannya?

Aku duwe duwit, lagi isa tuku ukulele sing larang sisan njuk kepeksa sinau merga wis tuku larang.” DV banget. Nada dasarnya belagu. Ya, begitulah cara DV memaksa diri naik kelas. Ia bekerja keras. Punya uang ia belikan alat musik mahal. Sudah telanjur beli sayang kalau tidak dia kuasai. Persis seperti hidupnya: merantau ke Australia baru kemudian berkobar-kobar merindukan Indonesia.

Perkusi? “Alvon itu!” Juga composing. “Aku senang bisa memaksa Alvon menyanyi. Menurutku suaranya bagus justru karena bertabrakan dengan warna suaraku,” ungkapnya sembari melanjutkan kegembiraannya karena istri dan anak Alvon pun mau turut menyanyi di belakang. Lagi-lagi ini DV banget: suka nabrak-nabrak!

Termasuk nabrak, menurut saya, adalah penjudulan lagu yang tidak nyambung dengan isinya. Tak ada “jaya wijaya Indonesia” di awal hingga akhir lagu. DV bersikukuh, dia suka dengan frasa “jaya wijaya” yang ia katakan, “Aku dapat dari Rudolf Dethu, budayawan modern (punk-rock) dari Bali.” Saya tidak mengiyakan, apalagi, sampai sekarang tidak menemukan arti frasa itu baik di kamus maupun tesaurus.

Bagi saya, merujuk pada alat musik “icik-icik”, justru lebih seru jika DV buka-bukaan saja bahwa sejatinya Indonesia yang ia imajinasikan adalah proyeksi dari kenangan manisnya akan Klaten. Minus pantai, panorama Klaten ada di semua narasi lagunya: gunung, sawah, bahkan gerlap kota.

Judul lagunya pun bisa lebih historis: “Langsung Jaya Indonesia” atau “Jaya Putra Indonesia”. Langsung Jaya dan Jaya Putra adalah nama bus trayek Jogja-Solo via Klaten yang pernah jaya di masanya, yang mungkin pernah dinaikinya dan ketemu pengamen “icik-icik” sedang beraksi di dalamnya.

@AAKuntoA | 06082021

 

 

Separator image Posted in musik.