Lelaki di Sangalaki

Bukan hanya untuk lelaki, namun banyak kisah lelaki di Sangalaki. Sangalaki juga untuk perempuan karena banyak inspirasi tentang sifat-sifat keibuan di sini.

 

Ubur-ubur di perairan Sangalaki (foto @DittoBirawa | Nikon Coolpix AW120)

Ubur-ubur di perairan Sangalaki (foto @DittoBirawa | Nikon Coolpix AW120)

Hampir tengah malam ketika seseorang mengetuk kamar kami. Ketukan lirih ini begitu jelas terdengar. Saking sunyinya, suara mendesis saja terendus.

Saya belum tidur ketika orang itu membuka pintu sambil berujar, “Jadi lihat penyu bertelur, Mas?” Tanpa pikir panjang, saya sahut, “Sekarang?” Di balik pintu yang gelap saya lupa wajah petugas resort itu. Jika petugas itu membaca tulisan ini, izinkan saya mengucapkan terima kasih. Malam itu saya lupa mengucapkannya.

Sore sebelumnya, petugas resort memang berjanji, pukul berapa pun kami akan dibangunkan jika ada penyu hijau (Chelonia mydas) yang menepi untuk bertelur. Kami sempat ragu sebab malam sebelumnya tak satu penyu pun berlabuh di Sangalaki, pulau tempat kami menginap dua malam ini. Mungkin mereka malu kepada kami. Atau mungkin mereka sedang mengamati dari jauh apakah kami orang baik yang tidak akan mengganggu mereka.

Sore kedua, saat air laut semakin surut, kami sempat bermuka masam mendapati kenyataan tak bakal memergoki penyu bertelur. Wajar, sebab salah satu tujuan kami berlibur ke Sangalaki adalah karena pulau ini ditetapkan oleh pemerintah melalui Kementerian Kehutanan sebagai pulau konservasi penyu.

“Di sektor 12,” jawab seorang petugas lain saat Pak Johny Sudiyanto, pemilik Sangalaki Resort, tempat kami menginap, bertanya di mana lokasi penyu bertelur. Dibimbing sebuah senter yang dipegang petugas, kami yang berkumpul di depan saung makan, menyusuri jalan tanah di belakang resort. Berjalan satu-satu, sebentar kemudian kami sampai di tepi pantai sisi timur, 200 meter dari kamar kami.

Pak Rudi, polisi hutan yang malam itu berpatroli, menyambut kami di bibir pantai. Lelaki berperawakan gempal itu menyambut kami dengan informasi berharga. “Bapak dan Ibu, di depan kita ada seekor penyu yang baru saja naik ke darat kira-kira 15 menit yang lalu,” ujarnya sambil menunjuk bekas tapak penyu berlebar sekira 80 cm. “Supaya penyu nyaman bertelur, mohon Bapak dan Ibu tidak mengarahkan lampu penerangan ke arah penyu. Juga jangan melakukan gerakan berlebih. Penyu sensitif pada getaran,” imbuhnya. Sssttt, lalu kami saling menyilangkan jari di bibir untuk memberi tanda agar tidak berisik. “Oh, kalau berbicara nggak papa. Penyu tidak peka pada suara,” lanjut bapak seorang putri bernama Kia yang ia ajak ke tempat tugas supaya ia tahu pertumbuhannya. Tentu, malam itu Kia tidur di rumah dinas mereka.

Setelah Pak Rudi menginformasikan bahwa butuh waktu sekira 30 menit untuk memastikan penyu bertelur atau tidak, kami pun ngelesot di atas pasir. Saya duduk persis di samping Pak Rudi. Menghadap pantai, kami membelakangi penyu yang sedang krasak-krusuk mencari lokasi. Penyu itu 3 meter di belakang kami. Ia sedang merangsek di antara semak-semak. Sebentar kemudian, keempat kakinya bergantian mengibas-ibas, mendepak-depak pasir, membuat cekungan. Mandi pasir, begitu istilah Pak Rudi.

Mandi pasir bukan jaminan penyu bakal bertelur. Ia hanya akan bertelur jika sudah benar-benar menemukan tempat yang aman. Hmmm, betapa penyu seperti ibu. Ia pastikan ratusan telur yang akan dilahirkannya terlindung dari bahaya predator. Di Sangalaki, predator pemangsa telur penyu adalah biawak. Bersembunyi di dalam hutan, jumlah mereka pun banyak. Pak Rudi tak mengetahui jumlahnya.

Hanya biawak? Hiks, ternyata tidak. Manusia adalah predator yang tak kalah buas. Pegawai negeri sipil di Kementerian Kehutanan itu bercerita mengapa setiap pukul 12 malam ia berpatroli jalan kaki keliling pulau. Ada pencuri telur yang mengintai. Bukankah pulau ini kecil sehingga jika ada perahu mendekat akan terlihat atau terdengar? Saya melontarkan keheranan. “Mereka pintar. Kadang perahu ditinggal di tengah lalu mereka berenang menepi,” ungkapnya. Pencuri-pencuri itu berbuat nekat demi telur yang sebutirnya laku Rp 6.000 di pasar gelap. Katanya, untuk jamu kejantanan. Sudah ada beberapa orang, sebutnya, yang dipenjara gara-gara mencuri telur penyu.

Penyu hijau usai bertelur (foto @AAKuntoA | Nikon Coolpix AW120)

Penyu hijau usai bertelur (foto @AAKuntoA | Nikon Coolpix AW120)

Saat asyik bercerita, dan saya mulai terkantuk-kantuk, saya terkagetkan dengan suara gaduh dari penjaga pantai yang lain. Penyu sedang bertelur! Aha, ini yang kami tunggu-tunggu. Pak Jonathan sigap menyalakan video perekam. Dibantu sorot senter, pengusaha konveksi di Bandung itu mendokumentasikan proses bertelur tersebut. Kata petugas, saat bertelur seperti ini, penyu sudah boleh disorot cahaya dan dipegang-pegang. Saya pun mendekat, melancarkan jurus-jurus memotret menggunakan kamera poket Nikon Coolpix AW120 (uji coba, belum beredar untuk publik) milik @DittoBirawa, lelaki fotografer profesional yang ikut dalam perjalanan ini. Ditto sendiri memilih meringkuk di kamar yang adem setelah seharian capek snorkeling dan merekam objek-objek menarik.

Ini kali pertama saya begitu dekat dengan penyu. Saya terharu melihat penyu itu. Matanya sayu. Geraknya lambat namun bertenaga. Tak berkata-kata.

“Don… lewat sini Don….” Entah siapa yang memulai, spontan kami menamai penyu itu Don. Spontan saja, bukan lantaran ada perempuan penyiar radio PasFM Jakarta @DonnaOriza di tengah kami.

Don menurut saja. Ia bergegas meninggalkan ruang bersalinnya menuju bibir pantai. Dalam beberapa langkah, ia meluncur ke bawah, lalu sekejap sudah menceburkan diri di air. 49-60 hari lagi, telur-telur itu akan menetas menjadi tukik. Selama itu pula nasib telur-telur itu ada di tangan Pak Rudi dan penjaga pantai lainnya.

Saya menyimpan pengalaman malam itu dalam-dalam. Malam penuh kenangan di Sangalaki. Kenangan ini seolah mengubur satu kesedihan saya, yakni tidak sempat melihat manta (Manta birostris). Ikan pari terbesar di dunia ini  hanya terdapat di beberapa perairan di Indonesia. Kelangkaan itu menjadikan mereka sebagai binatang yang dilindungi, pantang diburu.

Perairan Sangalaki termasuk dikenal sebagai spot manta selain di Raja Ampat, Papua. Kami tidak beruntung. Sudah beberapa kali mengitari perairan, manta tak kunjung menunjukkan kibasan sayapnya. Rony, nakhoda speed boat kami, berulang kami menghentikan perahu di tempat biasa manta muncul, lalu menebarkan pandangan ke sekeliling. Lelaki asal Manado, Sulawesi Utara, itu bersungut-sungut.

Manta-manta itu bersembunyi entah di mana. Mungkin mereka hendak berpesan agar kami kembali lagi…

 

Sangalaki Surga Derawan

Surga wisata bawah laut (foto @DittoBirawa | Nikon Coolpix AW120)

Surga wisata bawah laut (foto @DittoBirawa | Nikon Coolpix AW120)

Sangalaki adalah salah satu pulau di Kepulauan Derawan. Derawan sendiri sebuah kecamatan di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Kami hanya singgah satu jam di Pulau Derawan, sesaat sebelum memasuki Sangalaki. Di sini pun hanya makan siang dan membeli cenderamata. Hanya di pulau ini terdapat toko dan penginapan untuk umum.

Derawan memang menjadi pintu masuk ke kepulauan yang namanya syarat dengan nama anggota keluarga ini: Derawan, Sangalaki, Kakaban, dan Maratua. Tidak ada yang bisa menjelaskan secara pasti apa arti nama-nama pulau tersebut.

Di Sangalaki hanya ada Sangalaki Resort dengan 9 kamar. Karena berperan sebagai konservasi itulah pulau ini membatasi diri pada jumlah pengunjung.Yang menarik dari pulau ini adalah pemandangan lautnya, baik di permukaan maupun di bawah. Di permukaan, laut sangat tenang. Nyaris tidak ada riak, apalagi gelombang besar. Speed boat yang kami tumpangi melaju tenang di kecepatan rerata 50 knot. Tenang, nyaris tanpa goncangan. Bulan-bulan ini laut sedang mati, demikian disebutnya.

Waktu di sini lebih cepat sejam dari waktu Jakarta. Di sini masuk Waktu Indonesia Tengah. Meski lebih cepat, rasanya waktu berjalan begitu lambat. Malah, seakan berhenti. Maklum, pulau ini senyap dari gegap gempita teknologi. Sinyal selular hanya disediakan oleh Telkomsel. Operator lain belum menancapkan menara BTS. Alhasil, saya dan sebagian besar pelancong yang tidak berafiliasi ke Telkomsel mesti benar-benar menarik diri dari hiruk-pikuk komunikasi dengan dunia luar. Kami fokus berkomunikasi dengan sesama dan alam sekitar.

Sejak awal memang saya memutuskan untuk memeluk kesunyian. Saya tidak membeli kartu perdana lain demi bisa berselanjar di dunia maya. Dunia nyata lebih menarik saat ini. Tiga hari menarik diri dari keramaian sungguh jadi kemewahan. Betapa mahal kesunyian di zaman ini.

Apa yang istimewa dari pulau ini? Seperti yang saya ceritakan di depan, penyu-lah daya tarik utama pulau ini. Pada malam hari, sepanjang musim, selalu ada penyu yang menepi ke daratan. Di bulan Agustus jumlahnya bisa ratusan ekor. Mereka bertelur. Tidak semua. Sebagian kembali ke laut tanpa meninggalkan telur.

Penyu butuh ketenangan untuk bertelur. Dan Sangalaki tempat yang tepat mereka pilih. Tanpa penghuni, penyu merasa nyaman bertelur. Oleh karena itu, salah satu peraturan yang diberlakukan bagi pengunjung adalah larangan untuk bepergian pada malam hari, lebih-lebih dengan menyalakan lampu. Jika itu terjadi, dipastikan penyu urung bertelur. Dan jika situasi demikian dibiarkan, maka perkembangbiakan penyu pasti terhambat.

Juga tidak boleh berkemah. Alasannya sama, bisa memudarkan rasa nyaman penyu. Apa yang boleh? Ini menariknya. Tertulis di papan peraturan, “Tidak boleh mengambil apa pun di pulai ini kecuali foto dan kenangan.” Aha, keren! Memancing saja tidak boleh, apalagi mengambil ikan. Karena itu, semua makanan yang dihidangkan di kami, termasuk ikan, dibelanjakan di Tarakan.

Pesan lain, sangat disarankan tidak membeli cenderamata berupa tukik (anak penyu) yang diawetkan. Maklum, ada beberapa warga yang menjual cenderamata itu.

Ini penjelasan Pak @AntonThedy, “Dari seribu tukik yang menetas dan kembali ke laut, hanya satu yang berpeluang hidup. Lainnya dimakan predator laut.” Betapa berat perjuangan tukik untuk bertahan hidup hingga besar menjadi penyu. Mirip manusia. Kita yang hidup sekarang adalah satu-satunya pemenang dari 100 juta sperma yang berlomba membuahi sel telur.

Melepas tukik (foto @DittoBirawa | Nikon Coolpix AW120)

Melepas tukik (foto @DittoBirawa | Nikon Coolpix AW120)

Karena kelangkaan itu, pengunjung diajak untuk melestarikan lingkungan. Seperti malam ini, kami diajak untuk melepas sekira 100 tukik di tepi pantai. Istimewa, insting tukik-tukik itu tajam. Saat belum genap sehari, mereka sudah mengenali di mana letak laut. Begitu menyentuh pasir, mereka langsung berlari ke arah laut, lalu berenang untuk kali pertama. Untuk sekira sepuluh hari ke depan, tukik-tukik itu bisa hidup tanpa makan. Keren kan? Sedari menetas mereka sudah dibekali makanan untuk bertahan hidup.

Ini pertama kali saya memegang tukik yang baru menetas tadi pagi. Sebelum saya lepas, saya sempatkan untuk menatapnya dalam-dalam. Ia bergerak-gerak seolah tak sabar untuk lekas berenang. Atau mungkin ia menggeliat-geliat karena takut saya telan. Tak ada suara. Ia bergerak dalam diam. Matanya bulat masih kosong. Kepalanya mendongak-dongak. Ini yang membedakannya dari kura-kura. Kepala kura-kura bisa menarik diri dan bersembunyi di dalam rumahnya, sedangkan kepala penyu tidak.

Pelepasan tukik menjadi atraksi wisata yang menarik di Sangalaki.

Sangalaki merupakan satu dari sekian pulau di Kepulauan Derawan yang ditetapkan pemerintah sebagai Taman Wisata Alam. Secara khusus sebagai kawasan konservasi penyu. Saat makan siang di Derawan, penyu-penyu melenggang pelan di bawah rumah makan. Di Derawan ada kampung apung yang berdiri menjorong hingga 100 meter ke arah laut. Airnya bening, sangat bening, hingga pergerakan ikan dan penyu bisa dilihat dengan mata telanjang.

Selain penyu, ada binatang lain yang jadi daya tarik kawasan ini. Ialah burung maleo (Macrocephalon maleo). Sejatinya, burung ini hanya hidup di daratan Sulawesi. Warnanya hitam pekat. Jambul di atas kepala mirip tanduk.

Burung ini unik. Telurnya lebih besar dari ukuran tubuhnya. Tak heran, disebut-sebut, saat bertelur, maleo akan berteriak kencang dan sesaat kemudian pingsan. Jumlah telurnya tak banyak, hanya sekitar 5 biji. Maleo tak mengerami sendiri telurnya. Ia menitipkan kelahiran anak-anaknya pada tanah, sama seperti penyu. Uniknya, mereka bisa mendirikan sarang dari pasir yang tingginya juga jauh lebih tinggi dari tinggi tubuhnya yang hanya sekira 15-20 cm saat berdiri. Di dalam gundukan tanah itu mereka menguburkan telur-telurnya sampai anak-anak mereka menetas, 62-85 hari kemudian. Selama itu pula, mereka mempercayakan pengamanan telur-telurnya kepada tengau. Binatang kecil yang sangat gatal itu yang menyebabkan predator seperti biawak tak sanggup membongkar gundukan tanah dan mencuri telurnya. Juga manusia.

Di Sangalaki, mereka tinggal di dalam hutan. Makanan mereka biji-bijian, buah, juga semut dan serangga kecil. Dari bibir pantai terdengar suara-suara mereka mirip suara angsa. Mereka pun berkeliaran santai di belakang saung tempat kami merebahkan diri.

Daya tarik lain ada pada lautnya. Sesaat setiba kami di Sangalaki, kami diusung ke tengah laut. Ini  yang dinanti-nantikan para pelancong di sini: snorkeling. Hampir semua dari kami terjun ke air. Termasuk saya. Tentu saja pakai pelampung karena saya tidak lihai berenang, apalagi di laut. Selanjutnya, perjalanan kami selalu berhubungan dengan air. Maka, jika ke Sangalaki, pastikan melengkapi diri dengan baju renang. Pakai sandal saja dalam perjalanan karena kebanyakan aktivitas bisa tanpa alas kaki. Pelampung sudah disediakan resort.

Kali ini lokasinya tidak dalam, tak sampai dua meter. Di kesempatan berikutnya, untuk peserta yang suka berenang, dipilihkan lokasi yang lebih dalam. Saya menikmati pemandangan laut dari atas speed boat kali ini.

Dengan kacamata dan selang udara yang disediakan Sangalaki Resort, kami bisa merenangi permukaan laut sambil menikmati karang yang atasnya jadi tempat bermain ikan-ikan. Indah sekali. Walau sesekali harus menghindar dari ubur-ubur yang—kabarnya—tumben ada. Kata Mas Bambang, pimpinan perjalanan lokal, belum pernah ada ubur-ubur sebelumnya. “Ini ubur-ubur menyengat. Jangan sentuh ya,” pesan lelaki Madiun, Jawa Timur, yang baru sebulan menikahi perempuan Rembang, Jawa Tengah ini.

 

Kakaban, Simbol Hidup Beradaptasi

Jika umumnya ubur-ubur menyengat, di Pulau Kakaban ini terdapat pengecualian. Di sini ada danau air payau tempat ubur-ubur jinak hidup. Satu dari empat jenis ubur-ubur (Cassiopeia ornata, Mastigias papua, Aurelia aurita, dan Tripedalia cystophora) berbentuk seperti piring telentang. Selain di Kakaban, jenis ubur-ubur ini hanya ada di Palau, Mikronesia. Pun di sana hanya ada dua jenis. Temuan baru ada di Togean dan Misool.

Hari ini jadwal perjalanan kami ke pulau ini. Jaraknya setengah jam ditempuh dengan speed boat. Sungguh menarik pengalaman ini. Begitu memasuki gerbang pulau, yang disambut dengan gapura di atas air, terdapat undak-undakan kayu selebar satu meter, cukup untuk dua orang berpapasan. Undak-undakan dari kayu ulin itu mengantar kami mendaki bukit, sedikit saja, hanya sekira dua puluh tingkat dengan jarak cukup tinggi, melandai 147 meter, kemudian menurun dengan beberapa tingkat juga, terbentanglah danau yang begitu tenang. Ada dermaga khusus untuk berkumpul sebelum nyemplung menyelam.

Ubur-ubur Danau Kakaban (foto @DittoBirawa | Nikon Coolpix AW120)

Ubur-ubur Danau Kakaban (foto @DittoBirawa | Nikon Coolpix AW120)

Boleh menyelam? Ini istimewanya. Karena ubur-ubur di sini tidak berbahaya, pelancong boleh berenang bahkan menyelam (snorkeling). Boleh, asal saat nyebur ke danau dilakukan secara lembut. Tidak dibolehkan terjun dengan cara melompat. Lompatan yang keras bisa mengganggu bahkan mematikan ubur-ubur. Sebab, ubur-ubur sangat rentan senggolan. Maka, sepatu katak (fin) yang bersirip itu pun dilarang dipakai. Penyelam hanya diizinkan memakai pelampung dan lubang pernafasan. Jadi, menyelamnya pun di permukaan saja. Segala gerakan dilakukan secara lembut.

Lembut pula saat memegang ubur-ubur. Pegang saja secara pelan, tanpa digenggam, lalu boleh sedikit angkat ke permukaan untuk ditunjukkan pada teman yang tidak menyelam, atau sekadar untuk difoto bersama. Sebentar saja. Menyelam dengan membawa kamera bawah air sangat disarankan supaya keindahan bentuk dan kelembutan gerakannya yang nyaris tak terlihat bergerak. Ubur-ubur seperti melayang-layang tanpa arah. Ia ikuti saja ke mana arus air mendorong.

Dikisahkan, danau di Pulau Kakaban itu adalah danau yang terjebak. Dulu danau ini bagian dari laut. Oleh peristiwa alam, ia terpisah dari lautan. Ubur-ubur laut yang turut terjebak kemudian berevolusi selama lebih dari dua juta tahun. Mereka tak lagi beracun karena predator laut tak lagi jadi ancaman. Hidup damai di danau ubah mereka jadi jinak.

Bagi anda yang berkunjung ke Pulau Kakaban, menyelam di danau ubur-ubur ini wajib hukumnya. Dikelilingi oleh vegetasi yang masih alami, dengan pohon-pohon besar yang terlindungi kelestariannya, seperti pohon puut,  danau berair asin ini akan menghadiadi anda pengalaman tak terlupakan. Usai mengapung secara ringan, bahkan tanpa pelampung sekalipun, bukan badan anda yang gatal-gatal disengat ubur-ubur, melainkan hati anda yang akan gatal untuk di kemudian hari kembali lagi ke sini.

 

Pulau Romantis dan Imajinatif

Ibu Merry duduk seorang diri. Di meja makan itu ia gelar buku harian. Satu set pensil warna ia keluarkan dari wadahnya, berjejer-jejer. Setelah diizinkan untuk duduk di sebelahnya, demi memenuhi rasa penasaran, saya mengintip gerangan apa yang sedang dikerjakannya.

Sketsa satu warna sudah kelar ia guratkan. Ada gambar ikan. Ada ubur-ubur. Ada penyu. Ia menggambar ulang lukisan kaca di meja bar. Setelah sketsa jadi, ia bubuhi warna-warni. Indah sekali.

Ubur-ubur ia tambahkan, berkat snorkeling siang tadi di Danau Kakaban. Sambil menunjukkan gambar Nemo, tokoh kartun di film Finding Nemo, yang dibikin muridnya. Warnanya oranye, bukan merah.

Ibu Merry mengajar kelas 1 sekolah dasar di Tarakan. Ia mengajar untuk anak-anak ekspatriat. Muridnya tak banyak, hanya sembilan bocah. Menggambar salah satu yang ia ajarkan.

Di Tarakan, ia bersama suami Pak Reggienald App. Keduanya warga negara Amerika Serikat. Pak Reggie bekerja sebagai teknisi pesawat terbang untuk maskapai Mission Aviation Fellowship (MAF). Sudah tiga tahun mereka tinggal dan bekerja di pulau transit itu. Dan ini kunjungan pertama mereka ke Sangalaki. Biasanya mereka habiskan liburan ke Balikpapan, kota terdekat di Kalimantan Timur. Pasangan suami-istri 76 tahun ini tampak kompak dan mesra, baik saat berjalan, berenang, maupun mengudap makanan. “Saya suka singkong,” cetus Pak Reggie pada sore ketika resort menghidangkan keripik singkong pedas.

Bagi anda yang suka melukis, Sangalaki pantas menghiasi kanvas anda. Lebih dari sekadar surealis, kepulauan ini menyediakan semua imajinasi tentang warna, bentuk, dan komposisi. Ada ranting yang menjulur ke pantai. Ada maleo yang bersanding dengan biawak mengais makanan. Ada biru abadi di langit. Ada bening air laut yang memanjakan mata untuk menari-nari melihat ikan-ikan dari atas perahu. Ada ombak yang setia menghapus jejak-jejak di pasir.

Bagi anda yang suka menulis seperti saya, Sangalaki bagai puri tempat bersemayamnya dewa-dewi ide. Sebagian dari tulisan ini saya tuangkan di Sangalaki. Di sini lelah seperti pasir yang lekas luruh begitu dibasuh air.

Banyak tempat untuk menulis. Malam-malam, saya menulis di saung makan, yang berdinding kayu, tanpa jendela, dan berlantai panggung kayu, berpintu terbuka. Saat yang lain tidur, saya ketak-ketik. Ditemani kopi, tanpa rokok, nyaman sekali menulis di sini. Di kamar, saat bangun subuh, saya kembali menulis. Kamar yang dinding, lantai, dan eternitnya dari kayu serasa menyatukan saya dengan alam.

Pagi-pagi sekali, sambil menikmati matahari terbit, saya menulis di pantai. Ada empat kursi malas dengan dua payung, nyaman untuk menyandarkan komputer jinjing. Hanya di atas perahu cepat dan saat di air saya tidak menulis. Saat itu saya hanya merekam saja dan menitipkan ingatan pada pikiran dan setiap bagian tubuh.

Anda yang suka bernyanyi bisa olah vokal di mana pun. Anda yang suka meditasi, banyak titik untuk bersamadi. Anda yang suka meneliti, ada 872 jenis binatang di kepulauan ini. Kecuali di malam hari, anda diizinkan untuk mengitari pulau sendiri. Tak perlu takut tersesat. Pulau dengan luas daratan 18 hektar dan luas kawasan 280 hektar ini tak bakal melepaskan anda darinya.

Bu Merry dan Pak Reggie adalah satu dari beberapa pasang suami-istri yang turut dalam perjalanan ini. Sebut saja pasangan Bapak dan Ibu Hasman, pasangan Bapak dan Ibu Lunardi, pasangan Bapak dan Ibu Mulyono. Mereka adalah pasangan yang sudah menjadi pelanggan perjalanan yang diadakan TX Travel. “Ke mana pun Pak Anton pergi kami ikut,” tukas Pak Hasman menyebut nama Pak @AntonThedy, pemilik TX Travel yang jadi ikon “Jalan-Jalan Bersama @AntonThedy”. Sebelum ke Sangalaki, mereka turut ke Bukittinggi-Padang dan Malang-Suramadu. Sesudah ini mereka gabung ke Srilanka dalam program jalan-jalan ke luar negeri. Saat Pak Anton sodorkan usulan ke Pulau Komodo, Aceh, Sumatera Utara, dan Raja Ampat-Papua, bersahut-sahut mereka mendaftar. Siapa @AntonThedy sehingga program wisatanya digandrungi? Nanti saya ceritakan…

Pak Surya, seorang top excecutive di Jakarta, dalam perjalanan pulang bercerita, sejatinya ia ada pekerjaan ke Kanada. Usai menemui klien, tentu dilanjutkan dengan jalan-jalan. Namun, ia memutuskan ikut ke Sangalaki. Ini kali pertama ia bergabung dengan TX Travel. Padahal, beberapa hari sebelumnya, ia baru saja berwisata ke Gili Trawangan di Lombok. Penjelajah alam ini terpikat oleh pesona Sangalaki. Ia tak menyesal telah memilih ke sini. Bu Merly, istri yang duduk di sebelahnya, tersenyum-senyum. Pasangan ini memang terasa sangat kompak sepanjang perjalanan. “Harus kompak dong,” imbuhnya.

Pasangan seru Wahyu-Yanti (foto @AAKuntoA | Nikon Coolpix AW120)

Pasangan seru Wahyu-Yanti (foto @AAKuntoA | Nikon Coolpix AW120)

Kekompakan lain ditunjukkan pasangan muda Wahyu dan Yanti. Saya panggil nama saja karena kami sebaya. Mulai dari sepatu hingga jaket yang dikenakan, suami-istri berputra 3,5 tahun ini seragam. Belakangan saya baru tahu, Wahyu adalah pemilik dua distro di Pasar Baru dan Cipulir Jakarta.

Kali ini mereka tak mengajak anak. Berdua saja. “Sejak menikah, saya boleh pergi jauh,” ujar Yanti di sela-sela makan siang. Ya, pergi jauh bareng suami yang doyan jalan-jalan, snorkeling, dan scaving. Pasangan asal Cirebon ini pernah ke mana pun—saking banyaknya tempat yang mereka sebutkan. Sesudah ini, mereka sudah pesan tiket ke Ambon.

Pak Jonathan dan Bu Marina, pengusaha konveksi yang tinggal di Cibaduyut, Bandung, lain lagi. Berdua saja, tanpa mengajak putri lima tahunnya, mereka tampak sangat menikmati wisata ini. Uniknya, saat snorkeling di laut, Pak Jon sempat mencari-cari di mana istrinya, padahal istrinya berenang di sampingnya.

Tentang yang terakhir ini, Pak Anton sempat bertanya pada Pak Jon apakah Marina itu anaknya. Apa pasal? Pak Jon selalu memanggil istrinya dengan sapaan, “Nak… Ayo Nak….” Ternyata Pak Jon memanggil istrinya Ina, yang di telinga terdengar Inak. Haha… dan perjalanan ini penuh kelakar dan gelak tawa.

Pak Jon yang hobi offroad bermotor dan menghabiskan waktu bersama gank cowoknya di Pantai Pangandaran, dan menyewa koki untuk memasak khusus, mengaku mengetahui program jalan-jalan ke Sangalaki ini dari pameran pariwisata di Bandung. Pengalaman pertama ini menurutnya sangat mengesankan. Wajar jika kemudian ia meminta saran pada Pak Anton tentang rencana wisata mereka ke Korea, Januari tahun depan.

Sore itu, di pantai barat Sangalaki, saya jadi saksi kemesraan pasangan-pasangan itu. Secara bergantian saya membidikkan kamera ke arah mereka yang sedang bergandengan tangan, berdekapan, atau sedang bermain air. Dan matahari yang sedang menuju peraduan memeluk mereka dengan cahya lembayung yang syahdu.

 

#WisDom, Wujud Cinta Tanah Air

Suatu ketika, belum lama, Pak Anton diajak Mas Siwo @yuswohady bergabung dalam Komunitas Indonesia Memberi @memberiID. Mas Siwo ketua komunitas yang berhimpun untuk mendongkrak UMKM supaya unjuk gigi dengan memperjuangkan brand lokal.

Di komunitas itu, kisah Pak Anton dalam penerbangan Jakarta-Tarakan saat keberangkatan ke Sangalaki, ia merasa tersentil. Selama ini ia bersama TX Travel sudah banyak mengajak pelancong berwisata ke luar negeri. “Lalu apa kontribusi saya untuk Indonesia? Saya hidup di sini, makan di sini…,” ujar pemilik jaringan franchise TX Travel yang sudah memiliki lebih dari 200 cabang di seluruh Indonesia ini.

Singkat cerita, sentilan itu kemudian melahirkan gagasan tentang program Wisata Domestik #WisDom ini. Ia melihat di negeri ini banyak tempat yang menarik sebagai destinasi wisata. Ia juga menghitung, pariwisata bisa mendongkrak perekonomian. Banyak UMKM yang hidup lewat jalur pariwisata. Pun, banyak tenaga kerja yang bisa diserap. Sayang, belum banyak digarap. Pertanyaan retorisnya, jika mengharap orang lain yang menggarap, akan kapan?

Sangalaki jadi salah satu tujuan. Bu Franciska, franchisee TX Travel Tarakan, jadi tuan rumah pelaksana. Bekerja sama dengan Swiss-Belhotel Tarakan dan Sangalaki Resort yang dikelola saudaranya, Pak Johny Sudiyanto, klop sudah program ini.

Pengalaman mereka dalam mengelola hotel berbintang sangat terasa sepanjang perjalanan. Ibu Franciska turun langsung menjemput kami di bandara sebelum menyinggahkan kami ke hotel untuk sarapan. Usai dari Sangalaki, sebelum kembali ke Jakarta, Bu Franciska yang mengantar kami makan kepiting di Kepiting Saus “Kenari” dekat Bandara Juwata. Malah, demi kepraktisan, Pak Vendy Sudiyanto, suaminya yang seorang pengusaha, ambil kemudi shuttle mengantar kami mencari oleh-oleh dan makan pisang goreng plus es kelapa muda di Pantai Amal, Tarakan.

Oh, sedikit tentang oleh-oleh. Selain di Pulau Derawan, tidak tersedia oleh-oleh yang menarik untuk dibawa pulang. Di Tarakan saja hanya tersedia ikan asin dan cumi-cumi kering sebagai oleh-oleh. Itu pun dengan kemasan yang sangat sederhana. Saya usul, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, yang berdiri sejak 25 Oktober 2012, mulai serius menggarap sektor pariwisata, termasuk potensi oleh-oleh di Kota Tarakan, tempat wisatawan ke Sangalaki mendarat dan terbang.

Dengan pengelolaan yang baik, maka pilihan Tarakan sebagai tempat transit utama ke Sangalaki menjadi semakin pas. Bukan hanya tempat transit, melainkan juga sebagai tujuan wisata. Sebab, menariknya, untuk ke Sangalaki, jadwal penerbangan Jakarta-Tarakan sangat efektif. Tiba di Tarakan masih pagi, meninggalkan Tarakan sudah malam. Efektif sekali. Jika pengangkutan ke pulau-pulau disediakan kapal yang lebih besar, niscaya wisatawan bisa menjangkau Sangalaki kurang dari 3 jam.

Nah, di luar itu, sekali lagi, pelayanan yang begitu profesional dan personal saya rasakan setiap saat. Tentang gaya pelayanan ini, kiranya mencontoh Pak Anton sebagai franchisor TX Travel. Sejak kenal 11 tahun yang lalu, tidak ada yang berubah dalam cara Pak Anton melayani. Ia bukan tour leader kebanyakan yang puas hanya dengan menjelaskan dan menunjuk-nunjukkan objek wisata. Pak Anton turun sendiri ke objek. Semua makanan yang dihidangkan pasti sudah dicicipi terlebih dulu saat survei sebelumnya. Hanya makanan yang baginya enak yang boleh disajikan pada tamu. Eits, tamu? Rasanya, bersama Pak Anton, saya tidak merasa menjadi tamu. Bagaimana tidak, Pak Anton mencebur ke laut dan danau bersama kami, ngobrol dan bercanda bersama di saat makan. Istimewanya, Pak Anton hapal nama peserta satu per satu. Bukan hanya hapal tapi kenal! Wajarlah kalau kemudian ada ungkapan, “Ke mana pun Pak Anton pergi, kami ikut!”

Dan ke mana pun Pak Anton pergi selalu menuju makanan enak. Walau banyak aktivitas fisik yang melelahkan, saya tidak pernah merasa lapar. Saat lapar mengintip, hidangan sudah tersaji.

Hidangannya selalu menggoda untuk segera menyantapnya. Chef Uki andalan Sangalaki Resort. Lelaki asal Jombang, Jawa Timur, itu piawai meracik bumbu hingga menghidangkan menu-menu spesial. Alhasil, selama di Sangalaki, lidah kami dimanjakan dengan pancake, kepiting soka, omelet, udang, ayam, ikan, sate, pecel, bahkan pisang goreng. Chef yang hobi otomotif dan listrik ini lihai berunjuk kebolehan di dapur terbukanya, di halaman samping saung makan. Juga ketika barbeque di malam terakhir. Ayam, ikan, sosis, dan udang bakarannya ludes disantap.

Menyenangkan, kan?

@DittoBirawa @AAKuntoA @AntonThedy (foto Chandra | Nikon Coolpix AW120)

@DittoBirawa @AAKuntoA @AntonThedy (foto Chandra | Nikon Coolpix AW120)

Betul menyenangkan. Tapi tentu saja merepotkan, di sisi lain, kalau segala sesuatu bergantung pada Pak Anton. Untuk membangun Indonesia lewat #WisDom tidak bisa mengandalkan satu orang. Adalah aneh kalau program @TX_Travel hanya jalan jika bersama @AntonThedy.

Oleh karena itu, Pak Anton menyiapkan betul timnya supaya jalan-jalan ke Sangalaki yang berangkat setiap Jumat bisa tetap ramai saat ditemani oleh siapa pun yang menjadi tour leader. Chandra, tim pengelola TX Travel Tarakan, menjadi salah satu tour leader yang disiapkan. Lulusan SMA 3 tahun lalu ini kemarin diajak terjun langsung memimpin perjalanan. Lelaki muda itu jadi masa depan Sangalaki…

 

Sangalaki 9-11 Mei 2014

@AAKuntoA

CoachWriter | TravelWriter

 

 

 

Incoming search terms:

  • Katanya sidat atau lubang kalau bertelur di laut di kampung saya yang jauh dari laut ada anaknya yang masih kecil

2 Comments

Add Yours
  1. 1
    Donna Oriza

    wkwkwkwkwkwk
    siaaaaalll

    kenapa gw yang jadi PENYU nyaaaa

    hahahahahaaaaaaaaaaaaaaaaa

    siKoko tuh siluman penyu biru dempal wkwkwkwkwk

    thx alot mas Kuntoooo Tanpa “T” wkwkwkwkwkwkkw

    • 2
      AA Kunto A

      Haha…

      Bahkan untuk menamai penyu pun teman-teman terinspirasi olehmu Don. Berbahagialah kamu… Namamu dikenal di udara, di darat, dan di laut hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *