Lulusan Pakem

Enam yang berhimpun. Menanti yang berpencar kembali.

Enam yang berhimpun. Menanti yang berpencar kembali.

Dari desa bekal hidup kami himpun. Kembali ke desa kami menimbanya kembali.

Di gubug 16 kami duduk setengah melingkar. Sejatinya, gubug itu tertata supaya kami duduk melingkar. Namun rupanya yang datang tak banyak, hanya berenam dari 42 teman seperjalanan (2 pindah: Andi dan Nanang, 2 pindahan: Dewi dan Maria). Beberapa sudah kami hubungi namun tak bisa datang. Beberapa lagi belum kami sapa. Memang, pertemuan ini tak terencanakan jauh hari. Dadakan saja lewat jawilan di media sosial.

Gubug ini persis di tepi sawah. Terima kasih untuk tuan rumah yang memilihkan gubug ini untuk kami. Sawah adalah masa kecil kami. Di sawah kami bermain. Dari sawah tempat kami bermain itu kami tahu asal-muasal makanan yang kami santap setiap hari: nasi, sayur, dan lauk.

Sawah di punggung gubug kami jugalah yang jadi sumber santapan kami siang ini. Kacang, lombok, mentimun, lalapan, dan nasi yang kami santap dipanen dari sawah ini. Warga sekitar yang menanam dan memanen. Kami yang mengudap. Saya usul ke Anastasia Veni, teman kami pemilik resto ini, supaya membagikan cerita unik ini ke pelanggan. Mereka pasti senang ketika tahu bahwa apa yang mereka makan segar dipetik dari sawah langsung.

Gubug kami berdiri kokoh di atas kolam. Dari kolam ini pula ikan gurami yang kami kunyah dijaring. Kolam ini juga mengingatkan sekolah kami yang di sebidang halamannya terdapat dua kolam. Satu kolam ikan, satu lagi kolam “peta Indonesia”, yang juga berisi ikan dan kadang telur katak.

Sawah dan kolam ini mengingatkan kami pada perjalanan bersama di sebuah sekolah dasar di lereng selatan Gunung Merapi. Tak terasa, sudah 24 tahun kami berpisah. Satu teman, Joko Ariwibowo, sama sekali tak pernah saya jumpai sepanjang waktu perpisahan kami. Sama sekali.  Teman lain ada yang sering, ada yang pernah bertemu.

Waktu kami masuk, 30 tahun lalu, sekolah kami bernama SD Negeri III IKIP. Sesuai namanya, sekolah ini semacam laboratorium bagi calon-calon guru yang sedang kuliah di IKIP Yogyakarta. Masa studi di sekolah ini 5 tahun, selisih setahun dengan sekolah dasar pada umumnya. Saat memasuki kelas 4, sekolah kami berubah menjadi SD Negeri Percobaan 3. Masa studi pun melar menjadi 6 tahun, sama seperti SD pada umumnya. Kami angkatan pertama yang baru boleh menempuh ujian akhir setelah sekolah enam tahun.

Hari ini kami mengenang itu semua. Walau bersedikit namun kami berlimpah cerita. Joko Ari, misalnya, tanpa dia ingat, memperkenalkan saya pada satu kosakata baru “bioskop”. Waktu itu, sandiwara radio “Saur Sepuh” sedang digandrungi banyak pendengar. Televisi baru ada TVRI, itu pun dengan siaran terbatas mulai sore hari.

Suatu pagi, Joko Ari datang ke sekolah dengan cerita spektakuler. Kemarin, katanya, ia diajak kakak menonton bioskop. Filmnya “Saur Sepuh”. Saya mendengarkan ceritanya dengan takjup. Bagus sekali film itu, gumam saya. Kelak semoga saya bisa nonton film di bioskop, doa saya. Saya tak berdoa sungguh-sungguh sebab menonton film di bioskop bukan tradisi di keluarga saya. Tontonan kami ketoprak di layar TV hitam putih milik bapak. Hanya ada tiga pemilik teve di kampung, yang dua lainnya sudah berwarna. Setiap tayang ketoprak, rumah kami dijejali tetangga. Sehari sebelumnya saya bertugas untuk “nyetrum aki” (nge-charge accu) supaya lebar layar teve terjaga.

Cerita ke-ndeso-an kemudian mewarnai kongkow-kongkow kami. Dan ini jadi kerinduan kami. Menertawakan diri sendiri sambil mensyukurinya. Bahwa dari desa kami berasal dan bersekolah, kemudian kami menyebar ke mana-mana. Veni dan Wahyu sama-sama pernah studi master di Belanda. Veni master ilmu bisnis, Wahyu master ilmu lingkungan. Veni menerapkannya untuk mengelola Resto Moro Lejar yang hari ini jadi ajang temu kangen—suwun ya Ven atas hidangan istimewa traktiranmu, Wahyu mengabdi sebagai pegawai negeri di sebuah kementerian.

 

Santai. Segar.

Santai. Segar.

Wuli Marwanto, yang saya kenang karena seringnya menyanyi “Apuse” kini bekerja di perusahaan multinasional telekomunikasi setelah lama berkecimpung sebagai music director di sebuah radio jejaring nasional. Kami sudah kerap bertemu selulus sekolah. Dulu kami sekampus saat kuliah. Saya juga pernah singgah di kota tempat ia bekerja. Selebihnya, kami sering bertemu karena kami masih saudara satu trah. Sehari sebelum ini, kami bertemu di syawalan Trah Pawiradikrama, bersama Ambar yang hari ini tak datang.

Suratno setia tinggal di desa. Saya kerap mampir ke rumahnya yang asri. Biasanya Minggu pagi, mampir dari bersepeda. Di luar itu, kami beberapa kali bertukar kabar lewat perangkat elektronik.

Ini cerita tentang kami yang datang siang ini. Sembari bercengkerama, kami juga memanggil-manggil ingatan kami tentang teman-teman yang tidak hadir. Veni cekatan mengambil alas makan kertas untuk dia corat-coret nama.

Sahabat sedari kecil.

Sahabat sedari kecil. Juga guru abadi.

Uniknya, sambil menyebutkan nama, kami juga menyebutkan rumah mereka. Ya, saya bersyukur, waktu itu kami suka saling mengunjungi. Sendiri atau bergerombol tanpa diantar orangtua. Hanya satu-dua rumah teman yang belum saya kunjungi. Meski begitu, saya tahu betul rumah teman-teman. Mungkin ini pula yang merekatkan tali persaudaraan kami.

Nama guru juga kami sebutkan satu per satu. “Berkat Bu Prapti aku bisa menulis,” kenang Veni tentang guru menulis halus kami di kelas satu. Lalu ada Pak Parjo, Pak Asih, Pak Hardiyat, Bu Basirah, Pak Slamet, Bu Erna, Pak Japar, Pak Kasimin, Pak Maryoto, dan Pak Maryanto. Dua terakhir sudah berpulang. Dua pertama masih kerap ikut senam lansia. Mengingat guru-guru tersebut, kami bersepakat tahun depan bikin reuni akbar 25 tahun kelulusan kami dengan mengundang para guru tersebut.

 

SD Negeri III IKIP penuh kenangan bagi kami. Selain punya lapangan sepakbola, tiga lapangan bulutangkis, beberapa pohon kelengkeng dan rambutan Rasanya, di SD lain tak ada ekstra kurikuler seperti kami saat itu. Saya saja menyimpan memori cukup baik tentang Wuli yang pintar memasak. Ada pelajaran keterampilan, yang salah satunya berisi pelajaran memasak. Irus, wajan, munthu, keren, sothil, dan siwur adalah beberapa alat masak yang kami kenali hingga saat ini. Saya jadi ingat, pelajaran memasak itu membuat kami cekatan saat Idul Adha. Bersama dengan siswa seluruh kelas, kami turut mengolah daging kurban, dari menyembelih, memotong, membagi ke warga sekitar, memasak… lalu bersantap bersama.

Wuli mengenang bagaimana saat itu belajar menari dan bermusik kulintang. “Cuma aku sama Iri yang ikut menari,” tukas Wuli menyebut nama Iriyanto Wibowo yang kini bekerja di sebuah perusahaan perminyakan. Tentang Iri sendiri saya pernah tidak sengaja bertemu dengannya saat sama-sama mengantri tiket menonton film di bioskop di Karawaci. Sedangkan Wuli pernah bertemu Iri di Bandara Changi, Singapura, saat Iri hendak bertugas ke Vietnam.

Ratno dan Joko Ari juga bertemu tanpa sengaja. Suatu ketika, teman Ratno minta diantar ke rumah temannya di Cangkringan. Ari, nama teman yang dituju. Ratno tak menelisik nama itu sampai ia memasuki sebuah kampung… dan rumah Joko Ari. “Lho, ini rumah kancaku,”cetus Ratno. Ya, di rumah, panggilan Joko adalah Ari. Sama seperti Iri yang di rumah dan tempat kerja dipanggil Bowo. Juga saya sebetulnya…

Keunikan lain, sebut Ratno, SD kami bekerja sama dengan Puskesmas. Jarak sekolah-Puskesmas sekira 1 km. Untuk ke sana, kami berjalan kaki pergi-pulang, melewati pasar dan Rumah Sakit Jiwa “Lali Jiwa” (sekarang RSJ Grhasia)—yang kemudian jadi ledekan khas “lulusan Pakem ya?”. Jika pasaran pas legi dan pon, kami tentu mampir ke pasar.

“Setiap Sabtu pagi selalu ada pengumuman, “Siapa yang mau periksa di Puskesmas?” Dan seingat saya, secara spesifik, yang dimaksud periksa di Puskesmas adalah periksa ke dokter gigi. “Aku sering ngacung,” aku Ratno. Bukan karena giginya sakit tetapi supaya bisa meninggalkan kelas. Sampai-sampai, suatu hari Ratno terantuk batu. Dokter bilang giginya harus dicabut. Mringis

 

Salam kangen,

@AAKuntoA | aakuntoa@solusiide.com

 

 

Incoming search terms:

  • kesan dan pesan untuk kakak osis
  • pesan buat saudara
  • pesan untuk kakak osis

3 Comments

Add Yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *