Magnis Menulis

Nah, sekali lagi saya belajar tentang kekuatan tulisan. Betapa tulisan punya daya lesak luar biasa. Senyap, namun sangat menggerakkan. Tulisan menyebar secara cepat ke media-media strategis: website, mailing list, blackberry broadcast messenger, dan media-media arus utama lainnya.

Adalah Franz Magnis Suseno penulisnya. Guru besar filsafat STF Driyarkara ini menyatakan sikapnya secara tertulis atas sesuatu yang menurutnya perlu disikapi, yakni rencana ACF, sebuah lembaga di New York, yang hendak mengalungkan penghargaan “world statesman” kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada 30 Mei 2013 ini. Penghargaan diberikan atas dasar penilaian bahwa SBY berjasa merawat toleransi beragama di Indonesia.

Magnis angkat pena. Penulis buku Filsafat Jawa kelahiran Eckersdorf, Jerman tahun 1961 yang telah lama menjadi WNI tersebut memilih cara santun untuk memalangkan penolakannya—sesantun tahun 2007 ketika ia menolak menerima anugerah “Achmad Bakrie Award” karena menganggap Bakrie bertanggung jawab atas ketelantaran para korban Lumpur Lapindo. Ia menulis, langsung kepada pemberi penghargaan, pihak yang berkepentingan. Saya membayangkan, di rumahnya di Salemba, Magnis menulis dalam hening. Kabar panas yang ia terima ia protes dengan tulisan yang terang. Tulisannya mengerucut jernih pada pangkal persoalan. Tidak hiperbolis, pun tak eufimistis. Apa adanya, dan oleh karena itu mudah dicerna oleh siapa pun.

Saya selalu kagum pada tulisan Magnis. Bagi saya, ia selalu punya keberanian untuk merangkum informasi, data, dan teori-teori akademis ke dalam sikap yang otentik. Filsafat, yang bagi kebanyakan orang rumit, dari rahim pemikirannya terlahir menjadi buah kata yang ranum, segar, dan bergizi. Menarik untuk disantap sekaligus bermanfaat untuk kehidupan. Saya banyak belajar menulis dari Magnis. Saat bekerja di Majalah Basis, saya selalu antusias untuk menyunting tulisan-tulisannya. Sebagai pembelajar-pemula filsafat sosial kala itu, saya merasa sangat dimudahkan dalam belajar. Tulisan-tulisannya selalu lapang. Nyaris tak ada belukar yang perlu dipangkas.

Penulis buku Pemikiran Karl Marx yang kontroversial ini juga meneguhkan saya untuk terus bertekun di jalur literasi. Dalam buku yang saya beli 15 Januari 2001 itu ia menulis tentang beda filsuf-filsuf, “Auguste Comte atau Martin Heidegger mengubah cara para filosof berpikir, tetapi Marx mengubah cara manusia bertindak.” Menyitir itu, saya berpendapat, demikian pula Magnis. Ia bukan saja menghasilkan tulisan yang mengubah cara berpikir, melainkan tulisan yang membangunkan orang untuk bertindak. Ini dapat dilihat dari respons banyak pihak, baik setuju maupun menolak, atas tulisan Magnis berikut ini:

Ladies and Gentlemen of the Appeal of Conscience Foundation (ACF),

I am a Catholic Priest and professor of philosophy in Jakarta. In Indonesia we learnt that you are going to bestow this year’s World Stateman Award to our President Susilo Bambang Yudhoyono because of his merits regarding religious tolerance.

This is a shame, a shame for you. It discredits any claim you might make as a an institution with moral intentions.
How can you take such a decision without asking concerned people in Indonesia? Hopefully you have not made this decission in response to prodding by people of our Government or of the entourage of the President.

Do you not know about the growing difficulties of Christians to get permits for opening places of prayer, about the growing number of forced closures of churches, about the growth of regulations tha make worshipping for minorities more difficult, thus about growing intolerance on the grassroot level?

And particularly, have you never heard about the shameful and quite dangerous attitudes of hardline religious groups towards so called deviant teachings, meaning members of the Achmadiyah and the Shia communities, and the government of Susilo Bambang Yudhoyono just doing nothing and saying nothing to protect them? Hundreds of their people have under Susilo Bambang Yudhoyono’s presidentship been driven out of their houses, they still live miserably in places like sports halls, there have allready Achmadis and Shia people been killed (so that the question arises whether Indonesia will deteriorate to conditions like Pakistan dan Iran [favor of President G. W. Bush] where every months hundreds of Shia people are being killed because of religious motivations)?

Do you not know that President Susilo Bambang Yudhoyono during his up to now 8 1/2 years in office has not a single time said something to the Indonesian people, that they should respect their minorities? That he has shamefully avoided responsibility regarding growing violence towards Achmadiyah and Shia people?

Again, whom did you ask for information before making you award choice? What could be your motivation to bestow upon this President a reward for religious tolerance who so obviously lacks any courage to do his duty protecting minorities?

I have to add that I am not a radical, not even a “human right extremist” (if such exist). I am just appaled about so much hypocrisy. You are playing in the hands of those – still few – radicals that want to purify Indonesia of all what they regard as heresies and heathen.

Franz Magnis-Suseno SJ

 


“Tuan-tuan dan Puan-puan dari Appeal of Conscience Foundation (ACF),

Saya seorang pastor Katolik dan profesor Filsafat dari Jakarta. Kami di Indonesia mendengar bahwa Anda akan memberikan Penghargaan Negarawan Dunia tahun ini kepada Presiden kami, Susilo Bambang Yudhoyono karena jasanya dalam merawat toleransi beragama.

Rencana itu sangat memalukan, dan mempermalukan Anda sendiri. Itu dapat mendiskreditkan klaim apapun akan Anda buat sebagai sebuah institusi berlandaskan moralitas.

Bagaimana mungkin Anda dapat mengambil keputusan seperti itu tanpa meminta masukan dari kami yang mengalaminya langsung Indonesia? Mudah-mudahan Anda tidak membuat keputusan tersebut sekadar untuk menanggapi desakan dari orang-orang yang dekat dengan Pemerintah kami ataupun rombongan di sekitar Presiden.

Apakah Anda tidak tahu tentang kesulitan umat Kristen untuk berkembang dan mendapatkan izin membuka tempat ibadah, tentang meningkatnya jumlah penutupan paksa terhadap gereja-gereja, tentang banyaknya regulasi yang membuat kaum minoritas lebih sulit beribadah kepada Tuhan, serta intoleransi tumbuh begitu pesat di tingkat akar rumput? Dan secara khusus, apakah Anda tidak pernah mendengar tentang sikap memalukan dan sangat berbahaya dari kelompok agama garis keras terhadap apa yang disebut ajaran sesat, seperti jemaah Ahmadiyah dan warga Syiah? Serta pemerintah yang dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono tidak melakukan apa-apa dan enggan mengatakan sepatah kata pun untuk melindungi mereka?

Ratusan orang yang hidup di bawah kepemimpinan presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah diusir dari rumah mereka, mereka masih hidup sengsara di tempat-tempat pengungsian seperti gedung olahraga, bahkan sudah ada jemaah Ahmadiyah yang dibunuh dan warga Syiah yang tewas (sehingga muncul pertanyaan apakah Indonesia akan memburuk kondisinya seperti di Pakistan dan Irak [seperti yang dikatakan Presiden GW Bush] di mana setiap bulan ratusan orang Syiah dibunuh dengan dalih agama)?

Tidakkah Anda juga tahu bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sejak pertama kali menjabat sampai 8,5 tahun kini, di istananya belum pernah satu kali pun ia mengatakan sesuatu kepada rakyat Indonesia, bahwa kaum radikal harus menghormati kaum minoritas?  ia telah mempermalukan diri sendiri dengan menghindari tanggung jawab terhadap meningkatnya kekerasan yang menimpa jemaah Ahmadiyah dan warga Syiah?

Sekali lagi, siapa sih yang Anda mintai informasi sebelum membuat keputusan terkait penghargaan Anda tersebut? Apa yang menjadi motivasi Anda untuk memberikan penghargaan itu kepada Presiden terkait toleransi beragama padahal ia sangat jelas tidak memiliki keberanian sedikitpun untuk menunaikan tanggungjawabnya melindungi kaum minoritas?

Saya harus menambahkan bahwa saya bukan radikal, juga bukan “ekstrimis hak asasi manusia” (jika ada istilah seperti itu). Saya sekadar menunjukkan bahwa begitu banyak kemunafikan. Anda dipermainkan oleh mereka – yang jumlahnya masih sedikit – kaum radikal yang ingin memurnikan Indonesia dari apa saja yang mereka anggap sebagai ajaran sesat dan kafir.

Franz Magnis-Suseno SJ”

 

Saya mendukung Magnis: menolak penghargaan negarawan dunia dari ACF untuk SBY!

 

Kembalikan Indonesia sebagai bangsa yang toleran, rumah yang nyaman untuk semua, padang terbuka untuk kegembiraan seluruh makhluk.

 

Salam bergerak,

@AAKuntoA

http://aakuntoa.com | aakuntoa@solusiide.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *