Mahasiswa Menyontek

Ujian kecil melatih menangi ujian besar. Bagaimana potret ujian kecil anda?

Sambil minum kopi toraja tanpa gula, malam ini saya merenung. Saya menimbang-nimbang betul apakah perlu saya menulis ini. Adakah kebaikan dari pesan yang ingin saya kirimkan? Hati kecil saya mengatakan, “Ya, sebaiknya saya tulis dan bagikan.”

Tertulislah ini.

Siang tadi saya tertegun. Saya tersenyum namun sejatinya gundah. Saya diam namun hati berontak.

Beberapa mahasiswa terang-terangan menyontek di depan saya. Sedari awal saya sudah mencium gelagat. Ada yang mencoba duduk tidak di tempatnya demi mendekati teman yang lain. Dengan pertanyaan, “Nomor kursimu berapa?” dia beralih sendiri.

Jurus-jurus kuno pun kemudian berseliweran. Meregangkan otot sambil memutar badan ke belakang jadi jurus sakti menyabet jawaban teman dalam hitungan detik. Sakti rupanya. Pinjam kalkulator juga jadi jurus menyalin angka yang sudah disiapkan kawan. Tak biasa menghitung manual, kertas buram yang disediakan pun hanya berisi gambar-gambar karikatur.

Saya duduk di kursi pengawas ujian sambil membaca buku Lead with A Story karangan Paul Smith. Sementara mata memilin kata, telinga saya mendongak mendengarkan suara-suara berbisik menjalin kode berbagi jawaban. Saat terlalu berisik barulah saya memicingkan mata ke sumber suara. Tertatap mereka lalu pura-pura menguap. Jurus dasar padepokan kaipang.

Seisi kelas tertawa ketika peristiwa tangkap mata ini berlangsung. “Waduh, saya yang malu,” ujar saya sambil menutup mata dengan tangan kanan. Saya berharap candaan ini memupus petualangan kanak-kanak gaya “copy cat” mereka.

Rupanya saya keliru. Mereka makin menjadi-jadi. Saking merasa amannya, ada yang melakukan aksi karikatural ini: menjulurkan kepala mendekati lembar jawaban teman. Saya bayangkan, di kepala mahasiswa tersebut sedang terbayang leher jerapah yang begitu panjang untuk menjangkau buah di pucuk-pucuk pohon. Dengan imajinasi aeronautical pula teman yang di sebelah memutar lembar jawaban sedemikian rupa sehingga mencapai derajat keterbacaan yang sempurna. Kerja sama yang kompak.

Puncaknya, atraksi berteknologi visual modern berkelebat. Saat adegan ini, saya membayangkan suhu pendingin ruangan tiba-tiba terpelanting menjadi 20 derajat Celsius di bawah nol. Mulut saya beku: ada mahasiswa yang menjulurkan gadgetnya tepat di atas lembar jawaban mahasiswa lain. Jepret! Jawaban pun terpindai utuh ke perangkat digital. Jari-jemari pun lincah memperbesar tampilan lalu menyalinnya ke lembar jawaban.

Jaga ujian kali ini jadi ujian bagi saya. Menegur, melaporkan, atau mendiamkan?

Saya kenal mereka semua. Saya tahu kesungguhan mereka belajar selama ini. Saya hanya menduga, mungkin ujian kali ini mereka sedang tidak siap. Mungkin terlalu banyak urusan sebagai pengusaha sehingga waktu sebagai mahasiswa terkuras habis.

Seharusnya saya melaporkan mereka. Aturan ujian siang tadi sangat terang. Terbuka, artinya boleh buka catatan. Bukan bertanya pada teman, apalagi mencontek jawaban. Sanksinya juga tertulis besar: kerja sama dianggap GUGUR.

Namun saya tak melakukan. Sedari awal saya tak menegakkan aturan. Catatan khusus di lembar berita acara pun saya kosongkan seolah tak terjadi apa-apa.  Di luar kelas, saya berbicara pelan kepada salah satu dari mereka. “Lain kali jangan begitu ya…,” pinta saya lirih. “Maaf Om, semalam saya tidak belajar,” jawabnya tak kalah lirih. Saya merasa ia tahu kesalahannya.

Saya tidak akan melaporkan nama-nama mereka yang hadir dalam cerita ini. Pun jika ditanya, saya akan memilih tidak menyebutkan. Saya memilih jalan lain, yakni menyapa lewat cerita ini. Saya yakin cerita ini akan sampai di anda—yang tadi saya sebut sebagai mereka. Saya percaya, sebagai calon pengusaha, anda paham bahwa bukan cara seperti itu yang akan mengantarkan anda ke gerbang sukses.

Besok masih ada ujian. Dalam konteks ujian, percaya pada kemampuan diri sendiri lebih baik…

Tabik pengusaha muda!

@AAKuntoA

CoachWriter | www.solusiide.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *