Makin Berkibar Makin Mantap

Sejatinya, saya masih terus bergulat dengan penting-tidaknya menyusun resolusi awal tahun. Seperti tahun baru 2016 ini, ada kerinduan untuk merumuskan resolusi. Urung. Saya tak membuatnya. Persis seperti tahun-tahun sebelumnya.

Di tahun-tahun lalu, saya tak pernah merancang resolusi, apalagi memvisualkan sesuatu sebagaimana afirmasi yang kerap dilakukan banyak orang. Saya memilih untuk menjalani hidup secara mengalir saja. Pergantian tahun lebih kerap saya habiskan dengan tidur ketimbang melek, apalagi berpesta. Jika pun pernah hadir di pesta, namun saya akan sudah lelap terlebih dulu sebelum ingar-bingar.

Tegangan ini kembali hadir. Keputusan akhir: tetap juga tidak menghasilkan resolusi. Ada sesuatu yang mengizinkan saya tidak melakukan. Pencapaian di masa lalu lebih dari yang saya bayangkan.

Dalam pekerjaan, karier saya melesat melampaui yang saya bayangkan. Memang, awalnya lambat. Ketika mulai bekerja sebagai wartawan sewaktu sekolah di SMA, kemudian lanjut ketika kuliah, karier saya lambat sekali. Waktu itu yang saya lihat memang karier orang lain yang sudah menjulang tinggi. Belum saya sadari waktu itu bahwa sementara mereka sudah melejit, saya sedang menata pondasi. Belum waktunya berkarier. Masih saatnya mencari dan mengumpulkan pengalaman.

Barulah setelah merantau karier saya melesat. Pulang ke Jogja, berturut-turut, pekerjaan yang menghampiri saya. Tanpa surat lamaran, saya langsung diberi kedudukan yang tinggi di perusahaan.

Pikir-pikir, posisi-posisi puncak dalam perusahaan saya raih tidak begitu saja terjadi. Rupanya, perjalanan hidup saya sebelumnya jadi perhatian. Yakni, bahwa saya bertekun dari bawah sebagai wartawan, editor, dan penulis. Dan pekerjaan-pekerjaan itu sepi dari ingar-bingar. Dibandingkan teman-teman seangkatan, karier saya paling lambat. Bukan hanya itu, sampai sekarang saya selalu bekerja di perusahaan yang miskin. Selain hanya mampu menggaji sebatas upah minimal, perusahaan-perusahaan tersebut tak mampu memberi fasilitas lebih.

Sampai sekarang. Setiap diajak mengelola perusahaan, selalu mulai dari bawah. Merintis.

Inilah rejeki saya. Demikian saya merenung-renung. Membaca banyak referensi, orang seperti saya ini memang spesialis babat hutan. Namanya hutan: rimbun, gelap, dan tak jelas di sebaliknya ada apa. Bahkan juga berbahaya: mungkin ada binatang buas!

Berat sih. Namun, dalam kerangka bersyukur, saya merasakan ini sebagai sebuah kepercayaan. Tidak semua orang bersedia dan sanggup menempuh jalan terjal seperti ini. Tidak semua orang mau miskin di awal dengan janji kaya di belakang. Sebab, miskin itu pasti, kaya itu mimpi.

Begitu fase babat alas terbuka, masuklah pasukan penata. Hutan sudah terbuka namun belum ada fasilitas. Risiko berkurang, tinggal memuluskan jalan dan mendirikan bangunan. Di fase ini pun sedikit orang yang sanggup. Dan saya merasa sampai di fase ini masih mau terlibat.

Setelah pekerjaan babat alas dan penataan selesai, tibalah fase pekerjaan mengelola. Fasilitas sudah komplet. Jalan sudah mulus, ruangan sudah dingin dan wangi, dan tidak lagi berisiko. Di fase ini sistem sudah terbangun, dan pekerja sudah mulai mencicipi janji. Sebagai pembuka jalan, saya tak turut menikmati janji itu. Bagi saya janji itu tetaplah mimpi karena saya kemudian beruntung merintis lagi bisnis yang lain.

Maka, kalau pun secara materi saya miskin, namun secara pengetahuan dan pengalaman mengalami akselerasi kekayaan yang berlimpah. Ini penyeimbangnya. Dan level ini yang kemudian menolong saya untuk menutup lubang kemiskinan sebelah. Secara pribadi saya harus mengembangkan sendiri potensi yang saya miliki untuk mendongkrak ketimpangan tersebut. Dan ini yang menyelamatkan saya selama ini. Berbekal pengetahuan dan pengalaman sebagai penulis, ditambah dengan sertifikasi-sertifikasi yang saya peroleh, saya terus memperkenalkan diri kepada publik sebagai CoachWriter.

Syukurlah, upaya ini terus menemukan jalan. Sebagai CoachWriter, semakin banyak orang yang mempercayakan proses pembelajaran menulis kepada saya. Kepercayaan ini sungguh tinggi nilainya bagi saya. Dan ini cukup mengimbangi ketimpangan di sebelah.

Maka, jika pun ada pertanyaan tentang revolusi, sederhana saja, saya mau terus menaikkan level kepercayaan publik sebagai CoachWriter supaya saya bisa semakin leluasa menolong perusahaan-perusahaan miskin yang berusaha membangkitkan diri menjadi perusahaan yang makmur.

 

Salam kreatif,

@AAKuntoA

www.aakuntoa.com | www.solusiide.com

 

 

1 Comment

Add Yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *