Melepas Sanggul dan Kebaya Kartini

kartiniMasih jamak, peringatan Hari Kartini ditandai dengan lenggak-lenggok peragaan budaya daerah. Entah di sekolah, lembaga pemerintah, maupun kelompok masyarakat, sebatas memaknai Kartini dalam simbol-simbol yang mewakili citra ketradisionalan. Kartini diidentikkan dengan masa lalu yang kuno. Masih relevankah sikap seperti itu?

Baik bahwa Kartini juga dilambangkan sebagai sosok pejuang emansipasi perempuan. Surat-suratnya kepada sahabat-sahabat pena, yakni sahabat-sahabat penanya, yakni Estella H Zeehandelaar, Nyonya Ovink-Soer, Nyonya Abendanon-Mandri, Prof Anton dan Nyonya, Hilda G de Booij, dan Nyonya van Kol, yang kemudian dibukukan oleh JH Abendanon menjadi buku Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang), dirujuk sebagai sumber referensi tentang emansipasi tersebut.

Apakah surat-surat Kartini masih dibaca hingga kini? Apakah perjuangan emansipasi perempuan masih merujuk dari teks tersebut? Pada perikop mana saja surat Kartini selalu relevan untuk dihadirkan ulang pada perayaan hari kelahirannya?

Surat-Surat Pendidikan

Kartini menulis sekitar 100 surat untuk sahabat-sahabatnya. Ia menulis dalam bahasa Belanda. Surat-surat itu ia tulis sebagai pelampiasan ekspresi yang terpendam. Hidup dalam lingkungan berada yang berkecukupan secara ekonomi tak membuat Kartini merasa berkecukupan secara batin. Ia merasa terkekang.

Waktu itu, posisi perempuan masih di bawah laki-laki. Peran sosialnya masih di belakang, kanca wingking. Perempuan sebatas mengurus pekerjaan-pekerjaan domestik seperti memasak, mengurus rumah, momong anak. Inisiatif ditiadakan. Perempuan bekerja atas dasar instruksi laki-laki. Hanya boleh menurut. Tidak boleh bertanya, apa lagi membantah.

Sebagai perempuan berpendidikan tinggi pada waktu itu, Kartini mulai menggugat. Setidaknya dalam batin. Ia mulai sadari bahwa pendidikan membuka pintu lebih luas untuk memperjuangkan emansipasi perempuan dalam bentuk kesetaraan perlakuan hukum, kesamaan mengakses perekonomian, dan kesejajaran status sosial. Pendidikan membuka mata hatinya untuk menemukan cara memperbaiki kondisi masyarakat sekitarnya. Emansipasi membungkus semua perjuangannya.

Menilik gagasan emansipasi Kartini, kita tidak bisa lepas dari aktivitas surat-menyurat yang kemudian dibukukan oleh JH Abendanon dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Surat-menyurat Kartini dengan Stella yang dimulai 25 Mei 1899 ini yang dinilai sebagai surat-menyurat berharga untuk memperjuangkan emansipasi perempuan.

Surat-surat Kartini bertema sederhana. Gagasan besar tentang kesetaraan ditulis dalam cerita-cerita tentang hal-hal kecil yang ia lihat, dengar, dan rasakan di sekitarnya. Tak jauh-jauh, ia menulis tentang perkawinan. Istri Adipati Ario Jayahadiningrat ini menolak dimadu karena ayahnya Adipati Ario Sosroningrat berpoligami. Namun ia tak berdaya dimadu setelah syarat diperbolehkan mendirikan sekolah dikabulkan calon suami.

Dilema batin antara menjaga martabat sebagai perempuan atau berkompromi supaya bisa mengangkat derajat kaum perempuan itu berkecamuk dalam dirinya. Tidak mudah pada saat itu. Bercerita kepada sahabat-sahabat penalah solusinya.

Hal-hal kecil yang terjadi di sekelilingnya jadi bahan cerita di surat. Tentang ayahnya yang sakit ia berdialog tentang bakti kepada orangtua dan panggilan perjuangan ke luar rumah. Tentang pelajaran agama yang tak kunjung ia pahami berkisah tentang nilai-nilai keutamaan yang menjaga pikiran dan sikapnya. Bahasanya menyentuh emosi sekaligus merangsang pemikiran.

 

Bebas dari Perbudakan

Saat menghadirkan kembali surat-surat Kartini di zaman ini, pertanyaannya, apa relevansinya? Saya berpendapat, cita-cita Kartini tentang perubahan sosial lewat pendidikan selalu relevan diperjuangkan. Ada banyak pekerjaan rumah bagi bangsa ini bertautan dengan emansipasi perempuan.

Bahwa emansipasi tak sebatas menempatkan perempuan sebagai presiden, menteri, dan jabatan-jabatan publik lainnya. Bahwa emansipasi juga tak sebatas meraih kesetaraan perlakuan perempuan terhadap laki-laki.

Perlu ada upaya meletakkan kembali emansipasi pada pengertian selain “persamaan hak”, yakni “pembebasan dari perbudakan”. Tentu perbudakan yang dimaksud di sini tak sama persis dengan model kerja paksa secara fisik, melainkan perbudakan terhadap ideologi dan cara berpikir modern. Perbudakan yang perlu dilawan sekarang adalah perbudakan terhadap mitos kecantikan, tahayul tentang konsumtivisme, pemujaan terhadap hedonisme, dan segala model cara hidup yang justru merendahkan pribadi perempuan. 

Ketika surat-surat berbahasa Belanda yang ditulis Kartini dibukukan dan diberi judul, kita belajar bahwa semangat perubahanlah yang menjadikan kita mengenangnya sampai sekarang. Maka, pesan Kartini, kembalilah kepada agenda emansipasi. Boleh berkonde dan berkebaya namun jangan abai membaca.

Semangat rayakan Kartini, perempuan Indonesia.

 

AAKuntoA, CoachWriter di STIEBBANK, Licensed NLP Practitioner

dimuat di Tribun Jogja, Selasa, 21 April 2015

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *