Membaca Tanda Kematian

Uskup Larantuka Mgr Frans Kopong, sedang menghampiri siswi-siswi SMK Pariwisata dan Kelautan Ancop di asrama mereka di Likotuden. Sekolah ini baru berdiri tahun ini.

Uskup Larantuka Mgr Frans Kopong, sedang menghampiri siswi-siswi SMK Pariwisata dan Kelautan Ancop di asrama mereka di Likotuden. Sekolah ini baru berdiri tahun ini.

Berjuluk “sripaholic” (Jw, sripah: kematian), lama-lama saya mulai mencermati tanda-tanda kematian. Juga membaca mana kematian yang pantas dirayakan dan mana kematian yang berujung batu kutukan.

Tidak. Kali ini tidak tentang kematian manusia melainkan kematian organisasi. Tentu, ada manusia di organisasi. Tentu, kematian organisasi tak lepas dari kematian manusianya. Sebab, organisasi hanya ada jika ada manusia di dalamnya, yang menggerakkannya, dan yang kemudian menghentikannya.

Maka, layaknya manusia, kematian organisasi juga bisa ditengarai dari tanda-tanda manusiawinya. Mata melek, bahkan melotot, namun tatapannya kosong, adalah tanda pertama yang mudah dikenali. “Oh, nggak mikirin apa-apa,” kilahnya jika dikageti dengan pertanyaan. Melihat namun tidak melihat apa pun.

Berkeliling Indonesia beberapa tahun belakangan untuk kelas-kelas pelatihan menulis dan komunikasi, saya menjumpai banyak sekolah yang tutup dan nyaris tutup karena abai atas tanda ini sebelumnya. Tak di kota tak di desa, saat rabun mereka menepis peringatan untuk segera operasi mata. “Dunia memang sedang gelap,” tangkis mereka memilih menuding faktor eksternal sebagai biang dari kekaburan pandangan. Mereka tidak tahu persis bahwa kegelapan itu adalah gara-gara sekolah baru atau sekolah lama lain yang bermunculan dan berbenah sehingga menutupi keberadaan mereka yang memilih bergeming.

Ciri kedua, warna kulit memucat. Aliran darah sudah berkurang atau bahkan menghilang. Pada lembaga pendidikan, tandanya kentara: prestasi menurun, pendaftar menyusut, dan hilang dari percakapan arisan ibu-ibu.

Jika dipegang lebih erat, ciri ketiga, denyut nadi melemah dan semakin lenyap. Atau, jika ada, denyutnya tak beraturan. Kadang kencang, kadang hilang. Ini ciri serius: jantung sudah soak. Dalam lembaga pendidikan, ini pertanda yayasan atau prinsipal kehilangan gairah. Lalu seluruh tubuh mendingin. Koma.

Ciri keempat, mulut meracau. Keluar kata namun tak ada makna. Saat sesekali jelas, isinya bukan tentang harapan melainkan litani masa lalu. Atau malah menyebut nama-nama yang sudah tiada.

Dalam organisasi, pendidikan utamanya, ciri keempat ini terbaca dari kacaunya komunikasi yang mereka bangun, baik untuk internal maupun eksternal. Acapkali ujaran bertolak belakang dengan kenyataan. Spanduk mereka mendongak ke langit, kepala guru menunduk ke tanah. Mereka menjanjikan perubahan namun langkah mereka gontai ogah-ogahan. Publik membaca ada saraf yang sudah konslet. Pergilah publik, para orang tua murid, menyelamatkan anak-anak ke sekolah lain yang lebih waras dan penuh harapan.

Sekolah penuh harap itu ada. Nyatanya mereka bermunculan. Di mana-mana ada sekolah baru berdiri, bahkan hingga di pelosok-pelosok. Mereka beroleh sambutan hangat. Upacara pembukaan mereka meriah di atas kubur sekolah-sekolah lawas yang kematiannya tak diketahui.

Siklus kehidupan bekerja. Yang menua saatnya tiada. Dunia untuk yang belia. Atau, sejatinya, tetap terbuka untuk yang tua dan mengenali tanda supaya tidak terkubur.

Larantuka, 27 Juli 2017
@AAKuntoA

 

Incoming search terms:

  • nama siswa smk ancop likotuden
  • tanda kematian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *