“Cintai alam tak harus daki sampai puncak!”

Ki-ka: Regina Safri, Don Hasman, Baning, AA Kunto A (foto: Orca Films)

Pernyataan menohok itu dilontarkan Don Hasman, fotografer 73 tahun yang dikagumi banyak orang. Menohok karena terucap dari sosok yang pernah berjalan mundur saat mendaki Kilimanjaro-Tanzania, gunung berketinggian 5.985 dpl. Itu tahun 1985. Mas Bas, sahabat Don Hasman, secara berkelakar berkomentar, “Om Don biang kemunduran Indonesia!”

Saya sepakat dengan Mas Bas. Om Don—demikian sosok bersahaja ini dikenal—layak dijadikan inspirasi kemunduran Indonesia. Indonesia perlu mundur. Indonesia perlu belajar dari Om Don.

Mundur ke mana? Ke nilai-nilai luhur yang menemani kelahiran bangsa ini. Mundur ke nilai-nilai mulia yang menuntun bangsa ini ke arah agungnya. Adalah Don Hasman yang di kalangan fotografer dan pencinta perjalanan amat dikagumi sebagai sosok yang sederhana, rendah hati, tekun, setia, gemar berbagi, dan lain-lain, dan lain-lain, dan lain-lain…

Tahun 2007, kala usianya jauh melampaui usia pensiun PNS (Pegawai Negeri Sipil), pegawai yang punya jadwal SKJ (Senam Kesegaran Jasmani) tiap Jumat, pegawai yang wajib berdiri di lapangan dan menghormat bendera merah putih di tiap tanggal 17, kala umurnya jauh di atas usia purnatugas TNI (Tentara NIndonesia) – Polri (Kepolisian Republik Indonesia), pegawai negara yang akrab dengan latihan kesamaptaan seperti push-up, sit-up, lari, halang-rintang, renang, pegawai yang ketika baris gemar melantangkan lagu-lagu patriotik, pegawai yang selalu menjawab “Siap!” kala diberi perintah apa pun oleh atasannya, Don Hasman berjalan kaki 1.000 km Saint-Jean-Pied-de-Port, Prancis Selatan ke Cape Finisterre, Spanyol Barat Laut tanpa tunjangan lauk-pauk, tanpa kenaikan pangkat dan golongan, tanpa merengek!

Banyak orang bertanya, dari mana fotografer lepas ini punya uang untuk jalan-jalan. Don Hasman menjawab, “Saya menabung. Tak jarang, tabungan 6 bulan habis untuk sekali jalan.” Di luar itu, “Tanya Mas itu, mengapa ia mau membiayai perjalanan saya ke Lamalera dan Tenganan? Tanya, kenapa mau mengeluarkan uang begitu banyak untuk perjalanan saya?”

Mas itu, yang saya tak perlu sebutkan namanya, yang duduk di bangku belakang, hanya menukas pendek, “Karena suka!”

Pagi ini, 14 Februari 2013, saya menulis catatan khusus tentang ini. Saya bersyukur, oleh teman-teman Orca Films, AFJ (Animal Friends Jogja), IDS (Indonesia Dragonfly Society), dan kelompok pencinta lingkungan lain, diberi kesempatan membawakan acara pemutaran film dan diskusi “Lost” dan “Don” bareng Don Hasman, Regina Safri (Antara), dan Mas Baning di Institut Francais-Indonesie (Lembaga Indonesia Prancis), Jogja, Jumat, 8 Februari 2013 lalu.

Tema kita tentang cinta. Regina, yang akrab disapa Rere, mengungkapkan cintanya dengan memotret kehidupan orangutan. Ia pergi ke Borneo, meninggalkan Jogja, berbekal seluruh tabungan, plus hasil menjual barang-barang berharga di kos yang ia punya, bermodal kamera dan seransel kenekadan. Hanya demi cintanya pada orangutan. Sekitar tujuh bulan ia bolak-balik Jogja-Kalimantan demi mendapatkan foto yang menggugah. Fotografer Kantor Berita Antara ini pun menuangkan cintanya, dan berbagi untuk dunia, ke dalam buku Orangutan: Rhyme & Blues.

Baning mengungapkan cintanya secara berbeda. Ia petani. Ia aktivis pertanian. Dalam sikap hidupnya, alam ini harus dijaga sesuai ritme alam itu sendiri. Bukan sesuai kehendak manusia semata. Alam punya siklus. Alam punya rantai. Alam punya hukum. Dengan keyakinan ini, ia menempatkan tikus, serangga, ular, laba-laba, bukan sebagai hama, melainkan sahabat. Pantang membunuh binatang-binatang itu di lingkungan rumahnya. Tikus dibiarkannya hidup. Biar kucing dan ular yang memakannya. Burung-burung ia biarkan memakan padi di belakang rumahnya. “Saya percaya, burung-burung tidak akan menghabiskan semuanya. Alam itu adil. Pasti cukup untuk saya,” ujarnya mantap.

Begitu pun Om Don. “Di hadapan alam semesta, manusia ini begitu kecil,” yakinnya. Maka, ia melakukan perjalanan. Melakukan, lafalkan dengan tenan, me-laku-kan. Mlaku, orang Jawa bilang. Hidup adalah laku, pencarian, peziarahan, bukan tujuan. Karenanya tepat ketika Adam Herdanto menjuduli film-nya “Don. A Journey. Not A Destination”.

Dan bagi Don, rupanya “travelling” yang ia tempuh selama ini merupakan perjalanan spiritual. Ia laksana sufi. Setiap subjek foto yang hendak ia ambil, ia ajak bicara. Setiap subjek, tak hanya setiap manusia. Ya manusia, ya binatang, ya pohon-pohon, ya lautan… Don selalu datang jauh lebih awal jadwal acara. Ia berjalan lebih depan dari yang lain. Tiada lain, supaya ia bisa berkenalan, berbincang, dan bersahabat dengan lingkungan yang hendak ia abadikan gambarnya.

Dalam film, dan dalam kesaksian sahabat-sahabatnya, tampak bagaimana Don begitu rendah hati berbincang-bincang dengan siapa pun yang ia temui. Ia menyapa lebih dulu. Ia bertanya. Ia mendengarkan. Ia mencatat. Ia tampak mengagumi setiap detil yang ia temui.

Pakaian adat ia kenakan ketika memotret acara adat. Garis batas pemotretan ia patuhi benar. Ia berjalan cepat, mengambil sudut yang bebas, supaya tidak mengganggu fotografer yang lain. Itu cara dia mencintai objek fotonya.

Doktor Suputa, ahli serangga dari UGM (Universitas Gadjah Mada), yang hadir dan pernyataannya dikutip dalam film “Lost” mengungkapkan dengan bahasa lain, “Mencintai binatang tidak harus dengan mengurung binatang. Banyak orang bilang mencintai binatang, padahal sebenarnya justru menyiksa.” Senada dengan Om Don, “Ambil saja gambarnya, dan biarkan burung-burung itu terbang tinggi.”

Saya sepakat. Mencintai binatang tak berarti mengurungnya, merantainya, mengandangkannya, menjinakkannya, lalu mengasingkannya dari ekosistem dan habitat asalnya. Binatang berhak hidup liar. Binatang berhak lepas-bebas di hutan. Burung-burung berhak mengangkasa. Mereka juga berhak hidup merdeka!

Selamat Hari Kasih Sayang… Sayangi binatang selayaknya kita ingin disayangi….

 

Salam hangat,

@AAKuntoA

[http://aakuntoa.com; aakuntoa@solusiide.com]

 

2 Comments

Add Yours
  1. 1
    Don Hasman

    Apa yang kalian tulis sangat benar, baik dan berguna untuk dipahami banyak orang. Terima kasih & salam hormat. Berkarya terus demi kebaikan. Aktif, kreatif dan produktif tanpa harus itung2an untung rugi (sebagaimana kebiasaan pengusaha/pedagang & politisi licik).

    • 2
      AA Kunto A

      Terima kasih Om Don, sudah berkenan mengunjungi rumah saya ini. Terima kasih atas inspirasi yang tidak berkesudahan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *