Mendorong Jurnalisme Damai

Algoritma artificial intelligence sudah bisa membaca tone positif dan negatif. Tapi mesin ini belum bisa membaca metafora,” Nezar Patria menggelitik.

Anggota Dewan Pers ini bercerita tentang internet, media online, dan jurnalisme damai dua hari lalu di Satunama. Ia membeberkan fenomena pecinta dan pembenci Jokowi dan Prabowo pada pemilihan presiden 2014 lalu. Dengan kata kunci tertentu mudah mengelompokkan mereka.

Anomali terjadi pada Haji Lulung. Saat ia dibully di media sosial karena menyebut UPS sebagai USB, ternyata citranya justru terekam positif. Padahal banyak pernyataan yang menyindir anggota DPRD yang getol menyerang Ahok tersebut. “Ternyata mesin tidak mengenali kata-kata satir,” kekehnya. Dan Nezar juga sedang menyindir, publik yang tak bisa mengenali informasi-informasi satir di media, lebih-lebih media sosial, tak ubahnya mesin.

Memang, metafora adalah level berbahasa yang baru bisa dijangkau oleh mereka yang rasa-berbahasanya halus. Metafora menembus nalar kritis. Dan mesin belum sanggup mencapai level itu. Hiks, ibarat pungguk merindukan bulan, seperti mesin yang ogah belajarlah manusia yang tak paham metafora…

Dan tentang metafora, lanjut mantan wakil pemimpin redaksi CNNIndonesia.com yang kini bekerja untuk The Jakarta Post ini, jurnalisme damai merupakan perspektif baru yang selayaknya makin dikembangkan di Indonesia. “Media kita perlu didorong menyuarakan kebaikan,” imbaunya.

Jurnalisme profetik menemukan kemendesakannya di tengah ancaman perpecahan yang kerap meletup di daerah. Nezar membuka data, konflik sosial yang beberapa kali terjadi di beberapa daerah di Indonesia, sedikit banyak diwarnai oleh keterlibatan pers. Ada pers yang berpihak di salah satu kelompok yang bertikai, ada pula pers yang malah mengompori makin meluasnya konflik.

Konflik Tolikara, Papua, beberapa waktu lalu, contohnya, berekses luas akibat ada media yang tergesa-gesa menyebarluaskan berita tanpa terlebih dahulu memverifikasi kebenaran informasi yang diperoleh. Kehausan untuk menjadi yang pertama, yang tercepat, di era digital ini, menjebak beberapa media bersemangat “kabarkan secapatnya, revisi belakangan”.

Sungguh membahayakan. Lebih-lebih di era media sosial sekarang. Banyak pengguna media sosial tidak kritis ketika menerima dan meneruskan informasi. Mereka asal menyebarkan saja tanpa mempertimbangkan dampaknya. Bisa dibayangkan, dengan jumlah pengguna sosial lebih dari 72 juta (Facebook), 50 juta (Twitter), dan 5 juta (Path), informasi apa pun mudah sekali menyebar.

Saatnya jurnalisme kembali menempatkan diri dalam diskursus kebangsaan. Sudah saatnya media kembali menjadi kontrol sosial yang bijaksana. Dan sudah saatnya pula masyarakat mengawasi media supaya kebebasan pers yang dimengerti sebagai kebebasan publik mendapatkan informasi (yang bermutu) kembali diperoleh.

Dalam konteks ini, HarianBernas.com yang hadir sebagai koran inspirasi, mendapatkan peneguhan dari mantan korban penculikan orde baru ini. Bernas berada di jalur yang tepat, di ruang ketika publik membutuhkan lebih dari sekadar informasi, di saat publik membutuhkan panduan untuk hidup berbangsa lebih damai.

Dan jurnalisme damai bukan berarti jurnalisme yang tidak mau dan berani mengangkat konflik. Bukan sama sekali. Jurnalisme damai justru penting hadir dalam masyarakat yang berkonflik untuk memediasi upaya mencari solusi. Ya, jurnalisme damai fokus ada resolusi. Perspektif ini yang perlu dikampanyekan secara massif.

Publik pun perlu lebih dewasa. Bangsa ini tidak akan besar jika rakyatnya gemar bertikai. Bangsa ini akan besar jika rakyat juga cerdas dalam memilah informasi, cerdas dalam menyaring informasi, dan cerdas dalam meneruskan informasi. Pada masyarakat yang seperti inilah media mendapatkan dukungan.

 

@AAKuntoA

Penulis Buku “7 Steps of Writing Coaching”

Pemimpin Redaksi HarianBernas.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *