Mengapa Marah?

Marah itu pilihan. Tak marah itu keputusan. Latih respon yang tepat!

Justru ketika heboh tentang Florence sudah surut, saya sodorkan pemikiran ini. Sudah mengendap, tak lagi meledak-ledak. Sudah berjarak, tak lagi larut dalam situasi. Sebagai praktisi komunikasi yang aktif bergaul di media sosial, saya berpendapat, kita perlu melihat kembali secara jernih apa yang sudah terjadi dan apa yang sebaiknya kita benahi.

Ini penting saya sodorkan mengingat masyarakat kita banyak yang suka ribut pada saat terjadi sebuah kejadian namun enggan merefleksikan kembali ketika tidak terjadi apa-apa. Akibatnya jelas, kehebohan-kehebohan yang sama berulang seolah-olah kita tidak pernah belajar dari yang sudah-sudah. Lelah sekali berada di tengah masyarakat yang enggan belajar.

Oleh karena itu, di saat tidak terjadi apa-apa seperti sekarang inilah kita bisa duduk santai untuk belajar secara terang-benderang. Tanpa emosi, tanpa darah yang mendidih. Hati dingin, darah sudah mengalir lancar dan merata ke seluruh tubuh. Datar, kritis secara objektif.

Memilih Respon

Kasus Florence tempo hari adalah objek pembelajaran yang baik. Sekadar sedikit mengingat, Florence menulis kata-kata tertentu di media sosial hingga memancing kemarahan bagi sebagian pengguna media sosial lain. Juga memicu kemurkaan publik yang tidak terkoneksi di media sosial. Saya sengaja menulis “kata-kata tertentu” dengan dua maksud. Pertama, untuk menetralkan ingatan kita pada peristiwa tersebut. Kedua, sebagai cermin dari pilihan respon yang saya ambil menanggapi kasus tersebut.

Kedua maksud tersebut saya tunjukkan sebagai salah satu cara meredam emosi tatkala kita berada di tengah angin ribut informasi yang menyesakkan. Saat kasus Florence mencuat, sebagaimana ketika kasus-kasus lain pernah melintas, saya memilih untuk diam sejenak, mencerna, menimbang, dan baru berkomentar ketika tiba waktunya. Tidak setiap kejadian harus ditanggapi segera. Kalau pun menanggapi, pastikan kita paham betul substansi tanggapan dan implikasinya. Saat sudah siap, sampaikan tanggapan dengan niatan untuk pembelajaran.

Secara NLP (Neuro-Linguistic Programming), saya merespon peristiwa Florence dengan teknik anti-generalisasi, distorsi, dan penghapusan. Teknik ini efektif untuk mengendalikan kita dari cara merespon yang tidak tepat. Dengan teknik tersebut, saya menyatakan, “Tidak semua yang dikatakan Flo benar.” (anti-generalisasi). Saya bisa menyatakan, “Saya bukan bagian dari pihak-pihak yang dituduhkan Flo.” (distorsi). Dan saya bisa pula menghapus pernyataan Flo dengan cara tidak mengizinkan pikiran dan mata saya membaca apa yang ditulis Florence. Penghapusan ini berlangsung sampai dengan saya menulis artikel ini: tak sedikit pun saya menuliskan kembali apa yang sudah ditulis Florence. Risikonya, sebagian dari anda yang tidak mengikuti kasus ini akan bingung mempertanyakan kasus apa yang saya rujuk, sedangkan bagi anda yang mengikuti kasus ini akan tersenyum simpul sambil menghadirkan kembali ingatan akan peristiwa itu.

Langkah berikutnya, saya belajar mengendalikan diri dalam berkomunikasi tatkala membaca pemikiran Harold D. Lasswell (Cangara, 2004) tentang komunikasi. Pertama, komunikasi berfungsi sebagai media manusia beradaptasi. Kedua, komunikasi berfungsi sebagai media kontrol. Ketiga, komunikasi sebagai media transformasi sosial.

Media Transformasi Sosial

Pemikiran Lasswell tidak baru namun selalu relevan. Pun di zaman media sosial sekarang. Media sosial semestinya menjadi media yang mengantarkan penggunanya beradaptasi dengan dunia sekitarnya, dengan orang lain, meski orang lain itu adalah akun maya. Kedua, sebagai media kontrol, yakni mestinya kita bisa mengendalikan pembicaraan publik dengan menghadirkan tanggapan tertentu sesuai dengan maksud kita. Di media sosial kita bisa mengungkapkan apa pun. Sekaligus, kita bisa mengendalikan apa yang akan dikatakan atau tidak dikatakan orang.

Ketiga, dan ini terutama, adalah penting menempatkan komunikasi sebagai media transformasi sosial. Peristiwa Florence alih-alih memicu kemarahan, sejatinya merupakan momentum yang pas untuk merangkul publik kembali kepada nilai-nilai baik tertentu yang berlaku di masyarakat. Media sosial bisa kita kontrol untuk menyuarakan semangat kekeluargaan, pemaafan, dan toleransi.

Apa guna media sosial jika hanya untuk mengumpat? Tidak ada manfaatnya sama sekali. Hanya menggerus semangat hidup damai.

Mengubahnya sederhana. Saat berkomunikasi di media sosial, selalu pikirkan masak-masak pesan apa pun yang akan kita lontarkan, lebih-lebih jika pesan tersebut lahir waktu kita emosi. Bisa jadi, penerima pesan juga emosi, bahkan lebih emosi. Urungkan mengunggah pesan yang berpotensi menimbulkan gaduh yang tak perlu.

Pada sisi berseberangan, sebagai penerima pesan atau pembaca media sosial, perlu kiranya selalu menyaring informasi apa pun yang berseliweran. Tidak semua pesan perlu dibaca, apalagi ditanggapi. Kendalikan respon kita. Sebab, apa pun yang terjadi, dampak dari komunikasi kembali kepada respon penerimanya.

Pikiran kita mengenal apa yang disebut sebagai sistem representasi internal. Publik awam menyebutnya persepsi. Dan persepsi bukanlah kenyataan. Sayangnya banyak orang meyakini bahwa persepsi tentang sesuatu peristiwa dianggap sebagai kenyataan sebenarnya. Padahal tidak. Buktinya saya dan banyak orang tidak terpancing dengan pernyataan Florence. Sederhana saja, saya dan banyak orang yang tidak terpancing ini melihat apa yang dituliskan Florence tidak semenyeramkan apa yang dipikirkan kebanyakan orang lain. Saya senyum-senyum saja menyikapinya.

Sudahkah anda senyum di media sosial?

 

Salam senyum,

@AAKuntoA 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *