Mengapa Saya Tak Marah Dikambinghitamkan?

Tak Marah Jadi Kambing HiSejatinya, saya enggan menuliskan ini. Namun baiklah, saya tuliskan juga. Dan setelah saya timbang-timbang dari sisi mana saya menulisnya, inilah yang keputusan saya:

Waktu itu hujan rintik-rintik… *halah*

Terdengar kabar, akan ada peluncuran dbbc.space. Peluncuran diagendakan di sela seminar “Menjadi Pengusaha Tangguh” yang diadakan oleh DBBC (De Britto Business Community, 27 Februari 2016. DBBC, seperti namanya, adalah komunitas alumni SMA Kolese de Britto yang berkecimpung sebagai pengusaha, atau lagi pengen jadi pengusaha, lagi gundah antara jadi pengusaha atau tetap jadi karyawan, atau sedang berusaha punya komunitas.

Seperti anda yang sudah tahu, saya lulusan sekolah itu. Artinya, mereka semua teman saya. Lebih dari itu, mereka teman-teman gokil saya. Maklum, sekolah laki-laki itu gudangnya orang-orang gokil, yang ukuran paling longgarnya adalah doyan bercanda.

Seorang teman, yang panitia, suatu hari menghubungi saya. Ia meminta saya mengirimkan jurnalis untuk meliput acara. Saya iyakan.

Pada hari ‘h’ saya urung mengirim reporter. Saya datang sendiri sebagai reporter. Sekalian jumpa dengan banyak teman, pikir saya.

Sampai di lokasi, setelah bersapa-sapa dengan beberapa teman, saya dihampiri panitia. Secara bergantian mereka meminta saya untuk maju ke depan, nanti, untuk meluncurkan dbbc.spase.

Saya menolak. Kapasitas saya waktu adalah reporter yang hendak meliput. Saya bayar biaya konsumsi. Tidak ada mandat bagi saya untuk melakukan apa yang mereka minta. Kalau pun saya tahu isinya karena juga menjadi pengisi “blog keroyokan tersebut”, namun pembicaraan tentang peluncuran itu sama sekali saya tidak tahu.

Karena penolakan saya tidak keras—karena toh permintaan itu juga tak membahayakan, mereka pun memaksa saya untuk mau. Dan karena yang memaksa adalah teman-teman saya sendiri, yang saya kenal, dan acaranya tidak mencurigakan, saya pun akhirnya mau.

Tiba gilirannya, saya diminta maju. Sebelum maju, saya dibisiki, “Peluncurannya nanti di bagian akhir. Kamu maju aja cerita tentang apa pentingnya menulis bagi pengusaha.”

Saya mengangguk.

Sampai di depan, bersanding dengan ketua alumni, saya didaulat berbicara dalam format perbincangan (talk show). Saya di atas panggung, moderator di bawah, sejajar dengan peserta. Moderatornya lucu dan seru.

Saya menyimak.

Moderator bertanya, saya menjawab. Begitulah talk show. Artinya, saya berbicara berdasarkan pertanyaan moderator. Karena tidak ditanya tentang dbbc.space, dan karena sudah dipesan begitu sebelum naik panggung, maka saya pun tak menyinggungnya. Di luar menjawab pertanyaan tentang dunia kepenulisan, saya hanya menyebutkan bahwa acara hari itu sudah saya unggah langsung di koran tempat saya bekerja. Ya, sesuai dengan tujuan awal saya, datang sebagai jurnalis.

Saya turun.

Kembali duduk, menyimak acara lanjutan, dan ikut membubarkan diri separipurna acara: dbbc.space urung diluncurkan. Saat bertanya, saya hanya mendapatkan jawaban bahwa waktunya tidak cukup. Kompensasinya…. Dan saya tak begitu menyimak karena itu bukan domain saya.

Saya pulang.

Hujan sudah reda. Namun pembicaraan tentang peluncuran yang urung itu justru deras. Teman yang menitipkan peluncuran bertanya kenapa peluncuran dibatalkan. Panitia menjawab. Tak berkesudahan, tak memuaskan. Sindir-menyindir di grup pun menyusul sesudahnya.

Saya abai.

Baru ketika nama saya disebut, saya mulai picingkan kuping. “Itu salah Kunto. Dia malah cerita tentang perusahaan tempatnya bekerja.” Begitu singkatnya.

Saya diam.

Geli atas tuduhan itu, saya tak menanggapi. Saya tahu saya tidak bersalah. Percuma berkomentar atas sesuatu yang menurut saya tidak perlu, bahkan saru!

Saya tertawa.

Rene Girard bilang, saya jadi “kambing hitam”. Kitab suci menulis, mereka sedang memraktikkan adegan “cuci tangan” Pilatus. Atau ini bagian dari apa yang disebut—salah satunya oleh—Karl Popper sebagai konspirasi.

Munculnya nama-nama itu bikin saya geli. Saya teringat masa-masa belajar ilmu politik ketika kuliah di jurusan sosiologi. Teringat juga akan teks-teks filsafat kekuasaan ketika menjadi editor majalah kebudayaan dan penerbit buku politik. Juga teringat masa-masa menjadi penulis politik di koran dan buku. Duh, sombong amat: bacaan-bacaan itu terlampau kompleks untuk menanggapi celometan mereka yang sedang unjuk politik di panggung arisan peronda.

Saya membatin.

“Jika saya sampai bicara terlalu panjang atau menyimpang, berarti yang goblok siapa dong? Bukankah tugas moderator mengarahkan dan bahkan memberhentikan diskusi?” Itu saya ucapkan dalam hati saja. Sebab, kalau saya teruskan, saya bisa menggoblok-goblokkan yang lain: manajer panggung, panitia. Dan kalau itu saya lakukan, saya yang akan dikatain goblok. Lalu goblok berjamaah.

Saya tergelitik.

Justru ketika dbbc.space ditutup, saya tergelitik untuk menulis ini. Saya hanya teringat syair Mars De Britto ini:

“Meskipun terpencar hidupmu di kelak kemudian waktu, ingat selalu di dalam hatimu ialah De Britto contohmu.”

Saya anggap perbedaan pendapat, perselisihan, atau omongan di belakang ini sebagai “terpencar hidupmu”. Dan sebagai saudara satu almamater, saya yakin, terpencar bukan berarti mau saling meniadakan. Walaupun terpencar, pulangnya ke kandang yang sama: De Britto.

Kedua, pendidikan di SMA Kolese de Britto itu khas: lulusannya unik. De Britto tidak mencetak lulusan dengan karakter yang sama. De Britto menempa muridnya untuk hidup sesuai dengan jati dirinya. Jika jati diri itu yang dipilih, bertanggung jawablah atas pilihan itu. Bersungguh-sungguhlah: berpolitik, berbisnis, berintrik, berkawan, dan apa pun. Selebihnya, hormati keunikan itu. Maklumi bahwa ada yang bermental suka jalan terang, jalan gelap, dan remang-remang.

Ketiga, ini yang paling penting. Kenapa saya tidak marah ketika dikambinghitamkan? Sederhana. Di De Britto kami terbiasa memanggil teman dengan sebutan penghuni-penghuni kebun binatang. Nama-nama ini melekat di E-KTP kami bagian belakang: babi, asu, munyuk, bulus, kebo. Jadi, kalau hanya dikambingkan itu kastanya masih ningrat. Iyo to, Su!

@AAKuntoA
CoachWriter | www.solusiide.com

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *