Mengemas Cleopatra

Siapa yang memuja kecantikan badani akan terlipat oleh keriput waktu. Komodifikasi lagi-lagi menjangkiti publik. Tanda apa?

Ratu Mesir yang masyur itu bernama Cleopatra. Kecantikannya tiada dua. Berabad-abad sesudahnya, dunia masih memuja. Kecantikan perempuan-perempuan modern pun disandingkan pada parasnya. Kisah cintanya dengan Mark Anthony kemudian melegenda sebagaimana Romeo-Juliet.

Cleopatra simbol kesempurnaan tubuh wanita. Mark Anthony hanyalah satu nama yang disebut, dan kemudian dikenal, sebagai lelaki beruntung yang boleh memeluk kesempurnaan itu setelah menyingkirkan Julius Caesar. Di luar, banyak yang sebatas mengagumi dan memimpikan. Tak lelaki tak wanita.

Tak sebatas itu, para pemuja Cleopatra itu pun mulai memantas-mantaskan diri. Mereka bersolek menyerupai sang jelita. Mereka berdandan demi sang pujaan.

Di luar, para pengagum pun berdendang girang. Cleopatra, pujaan mereka, hidup lagi setelah kehidupannya di tahun 69 SM. Cleopatra, yang hidup di masa perang Parthia, seolah bangkit lagi di era digital.

Terbaru, Cleopatra bangkit lewat sesosok wanita cantik yang dinobatkan sebagai ketua rukun warga di Yogyakarta. Media arus utama heboh memberitakan. Publik sibuk membincangkan. Tak jauh-jauh dari mempercakapkan kecantikan wajah, bukan program kerja, apalagi ideologi sang tokoh.

Begitulah. Belakangan berpesta kabar tentang kemolekan. Fenomena ini oleh para sosiolog dilabeli sebagai fetisisme komoditas. Dalam pandangan industri budaya, pemikir Theodor Adorno, fenomena ini jaman menjangkiti “masyarakat komoditas”. Kali ini, komoditas yang sedang digandrungi adalah kecantikan.

Dalam cara pandang ini, bisa dipahami jika belakangan kalangan industri gencar menggelontorkan produk yang berbalut kemasan cakep. Iklan-iklan di berbagai media dipenuhi dengan sosok-sosok rupawan demi melambungkan imajinasi akan pesona baru yang bakal diraih konsumen jika membelinya. Berbingkai semangat mengejar gaya hidup, konsumen pun berebut menggapai tawaran yang memanjakan sensasi untuk dipuja dan dikagumi.

Orang lupa, William Shakespeare tak menciptakan karya sastra ini hanya mengandalkan kemolekan luar Cleopatra. Ia kisahkan, Cleopatra adalah seorang jenius yang menguasai selusin bahasa dan lihai berhitung karena kepandaiannya menguasai matematika. Adakah sisi ini ada dalam komodifikasi kecantikan saat ini?

Lebih dari itu, kisah Cleopatra menjadi semakin melegenda karena di dalamnya diadegankan tentang tragedi dan komedi. Tak melulu roman. Tanpa tragedi dan komedi, Cleopatra hanyalah cerita picisan dengan cetakan stensilan. Dan banyak media gemar menghambur-hamburkan rubriknya untuk memajang kabar picisan seperti ini. Rezim rating dan share telah menyeret sebagian media untuk mendaur ulang legenda Cleopatra ini dengan menghadirkan sosok-sosok yang mirip dengan sang legenda.

Demikian pula. Industri yang hanya menonjolkan kemasan, tanpa mengutamakan manfaat dan nilai tambah produk, akan menghasilkan sampah belaka. Dan sebagaimana kecantikan, produk yang dijual mengandalkan kemasan saja akan berakhir keriput di ingatan pelanggan.

 

Salam kecantikan,

CoachWriter @AAKuntoA

www.solusiide.com | aakuntoa@solusiide.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *