Menguji Pemimpin, Untuk Orang Lain atau Diri Sendiri?

Menguji Pemimpin Menguji Pengikut

Pada zamannya, ada figur otoritatif yang berdehem saja pengikutnya sudah bergerak. Bahkan, pemimpin membisu pun pengikut sudah riuh membincangkan lalu menebak-nebak kira-kira pemimpin mereka sedang orasi apa di langit-langit mulutnya.

Figur yang demikian pun beragam watak. Ada yang bersikukuh diam, supaya pengikutnya berpikir keras bagaimana menafsirkan mimik pemukanya. Ada yang sesekali mendehem, sambil menyertakan beberapa cuil kata kunci, supaya pengikutnya ada peregangan otot sehingga lincah jika sewaktu-waktu digerakkan sungguh-sungguh. Ada juga pemimpin baper, sedikit-sedikit curhat, supaya pengikutnya tak sempat rehat dan terus gelisah.

Pengikut tak ubahnya. Ada yang kritis atas sikap pemimpinnya, ada yang patuh pada apa pun deheman pemimpinnya, ada yang hiperpatuh. Yang kritis hati-hati dalam mencerna sikap pemimpinnya. Mereka akan menalar ujaran pemimpinnya dan menalar dalam kerangka apa ujaran itu dilontarkan. Baru bergerak mereka ini jika ajakan pemimpinnya masuk akal.

Pengikut yang patuh terikat pada kontrak di depan, entah kontrak bilateral maupun kontrak komunal. Diandaikan ada, bunyinya begini, “Pemimpin saya baik, bertujuan baik, dan menjadikan saya baik. Apa pun yang dia minta dari saya akan saya penuhi.” Mirip kontrak pegawai yang siap ditugaskan ke mana pun itu.

Nah, yang unik pengikut hiperpatuh. Patuhnya berlebihan. Tak diminta saja bergerak. Pemimpin baru menjentikkan telunjuk saja sudah diterjemahkan sebagai perintah panjang untuk turun ke medan pertarungan. Pengikut ini bakal langsung balik kanan merengkuh teman-temannya seolah pegang SK delegatus. Pengikutnya-pengikut lebih garang. Mereka himpun teman-temannya berbekal fotokopi SK yang tak pernah diterbitkan itu. Pengikutnya-pengikut begitu girang, merasa diakses langsung oleh pemimpin besar.

Pemimpinnya melanjutkan gerak badan di rumah. Ada yang sengaja supaya sekadar dilihat pengikut. Ada yang sengaja supaya diikuti. Dan, ini yang ganjil, ada yang gerak badan untuk dirinya sendiri, berharap keringat merontokkan kolesterol.

:: tulisan ini sebagai ucapan: “Selamat Hari Guru. Semoga tidak jadi guru kolesterol.”

25 November 2016
www.AAKuntoA.com

#hariguru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *