Menjual Diri

150408 Curriculum Vitae

Image pinjam di sini.

Namanya daftar riwayat hidup. Tulislah secara hidup. Jika datar-datar saja, dingin-dingin saja, jadilah daftar riwayat mati.

Menjadi moderator seminar itu menyenangkan. Seperti hari ini. Saya diminta menjadi moderator dalam seminar tentang penjualan.

Menariknya, sebelum pembicara utama naik panggung, pembicara pembuka lebih dulu tampil. Pembicara pembuka ini pejabat sebuah bank. Materi yang ia bawakan tentang kondisi ekonomi makro hingga mikro, dalam skala global, nasional, hingga regional. Sangat bagus untuk menambah wawasan para penjual yang hari ini menjadi peserta mayoritas. Sepakat dengan apa yang ia sampaikan, penjual juga mesti paham situasi geopolitik, situasi sosial masyarakat, potret kultural pelanggan, dan seterusnya. Tidak melulu jualan.

Dan cerita tentang seminar juga tidak melulu tentang materi seminar. Walau materi seminar kali ini sangat bagus dalam kacamata saya, karena mengupas banyak kata kunci untuk membuka berbagai kebuntuan penjualan yang acap mengerangkeng para penjual sehingga menghambat pencapaian target, namun saya mau bercerita hal lain.

Sehari sebelum acara berlangsung, saya mendapatkan email dari panitia. Sesuai subjeknya, email tersebut berisi biodata (curriculum vitae) pembicara. Bungah hati saya menerima informasi yang sudah saya tunggu-tunggu ini. Sebagai moderator, penting bagi saya mengenal siapa pembicara yang saya moderasi. Semakin saya mengenal sosok pembicara, semakin mudah bagi saya mengenalkan pembicara tersebut kepada hadirin. Jika saya mengenal dekat, maka saya tidak perlu membacakan biodata—sebagaimana kerap dilakukan moderator yang tidak paham cara menguasai panggung. Bagi saya, biodata bukan untuk dibacakan, melainkan untuk diceritakan. Dengan bahasa saya, atau bahasa khas pembicara, bukan bahasa daftar riwayat hidup.

Namun, begitu file saya buka, urung bungah saya. Saya mendapati sederet informasi yang menyedihkan. Sekelas kepala cabang sebuah bank, data yang disajikan dalam daftar riwayat hidup sangat terbatas. Selain informasi umum tentang nama, status, dan alamat kantor, hanya ada informasi tentang pendidikan yang ditempuh dan riwayat pekerjaan. Itu pun sangat umum: pernah kuliah di universitas tertentu, dan pernah menduduki jabatan tertentu.

Saat saya komunikasikan dengan panitia, disebutkan bahwa CV tersebut dibuatkan oleh sekretaris sang pejabat. Jika ini benar maka sekretaris tersebut perlu belajar bagaimana menyusun CV yang lebih lengkap dan “menjual”.

Saya sebut “menjual”, selain karena seminar hari ini tentang penjualan juga karena pada dasarnya CV adalah etalase untuk menjual diri. Pada CV itulah terpampang siapa diri orang tersebut, apa saja pengalaman bekerja dan hidupnya, apa saja prestasi yang pernah ditoreh, dan termasuk informasi tentang hobi untuk menghadirkan keutuhan sebagai pribadi. Saya sendiri selalu menandaskan soal prestasi apa yang pernah dicatat. Ini penting karena forum seminar sangat membutuhkan potret pembicara yang memang kompeten di bidangnya dan layak dengar paparannya. Seminar adalah ajang menjual bagi pembicara. Dan juga bagi moderator seperti saya.

Karena seminar adalah juga ajang menjual bagi moderator, maka saya tak berpangku tangan mendapati sejumput informasi sangat minim tentang pembicara tersebut. Saya tidak mau hanya menjadikan data kering tentang pembicara di hadapan peserta seminar. Pun, saya tidak mau mengolok-olok pembicara yang tidak piawai menyusun CV. Ketidakpiawaian ini biarlah saya simpan di belakang layar. Kalau pun sekarang saya bagikan di sini, saya telah terlebih dulu menyamarkan identitas pembicara tersebut. Sebab, yang lebih penting adalah pembelajaran apa yang bisa kita petik dari pengalaman ini.

Google menjadi pintu harapan saya. Kepadanya saya bertanya siapakah sosok yang akan saya hantarkan di seminar hari ini. Nama lengkap pembicara saya ketikkan lengkap. Alamak, sedikit sekali berita tentangnya dari media massa lokal. Rupanya sosok ini tak cukup populer di kalangan media. Akun media sosial yang mencantumkan namanya pun saya klik. Ia pernah membuka akun twitter, dan ketika saya cek kebenarannya di sela seminar, hanya dua kali ia sempat mencuit. Habis itu tiarap. Media sosial lain pun demikian. Dalam batin saya, ini memang orang bank yang bukan penjual. Coba ia penjual tulen maka google akan dengan mudah menyuguhkan informasi tentangnya.

Tak kurang akal, karena informasi yang saya unduh amat minim, saya menghubungi beberapa teman wartawan bisnis. Lumayan, walau tidak ada yang mengenal secara dekat pembicara ini, ada informasi tambahan dari mereka. Memang tak spektakuler namun sosok ini cukup memiliki rekam jejak yang baik di industri tempat ia berkarir. Rekam jejak baik bukan berarti prestasi yang menonjol. Soal prestasi masih terbayang-bayangi prestasi perusahaan daripada prestasi pribadinya. Atau, bisa juga, karena saya belum menemukan sumber informasi yang terpercaya yang punya informasi tentang prestasinya.

Beginilah salah satu cara saya ketika mendapatkan mandat sebagai moderator seminar. Saya selalu mengupayakan untuk menguasai informasi tentang pembicara dan materi yang akan dibawakannya. Ini penting untuk beberapa hal. Pertama, meyakinkan kepada audiens bahwa pembicara yang saya moderasi sungguh kompeten di bidangnya. Kedua, menumbuhkan kepercayaan dan kebanggaan bagi pembicara karena kemampuan moderator menjunjung mereka secara akurat. Ketiga, memastikan seminar berakhir secara sempurna, yakni ketika materi tuntas dan peserta mengunduh pelajaran berharga sesuai dengan ekspektasi mereka.

Semoga pengalaman saya ini juga berharga untuk anda supaya semakin pantas sebagai pembicara seminar, narasumber simposium, panel ahli, moderator, dan pembicara publik lainnya. Pastikan CV anda “berbunyi”. Saat CV anda menjual, panggung meninggikan anda. Sebaliknya, saat CV anda abal-abal, panggung akan menjungkalkan anda.

 

Salam CV,

CoachWriter @AAKuntoA

www.solusiide.com | aakuntoa@solusiide.com

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *