Menolak Bodoh

Ruangan itu saya tinggalkan begitu saja. Gerah rasanya berada di sana. Bukan karena pendingin udara tak bekerja selayaknya. Sama sekali bukan. Bincangan di dalamnyalah yang jadi sebab.

Pagi itu hari pertama sebuah pelatihan menulis. Peserta dosen-dosen dari beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta. Pembicaranya dosen dari perguruan tinggi terkemuka di Bandung. Pembicara satu lagi peneliti dari sebuah lembaga penelitian milik pemerintah di Jakarta. Tajuk acaranya lebih kurang tentang “menyusun proposal penelitian”.

Tampak mentereng namun tak sedikit pun memantik api penasaran saya. Entah kenapa, sejak lama saya tak pernah antusias dengan model penelitian a la planet akademis. Nyinyir, ya?

Menurut pendapat saya, meneliti dan menulis itu mengemukakan gagasan. Mimbar akademik adalah pijakan utama, yakni bahwa proses dan hasil karya tersebut menampakkan semangat kebebasan berpikir dan berpendapat. Terhormat sekali sejatinya.

Secara esensial, penelitian merupakan pertanggungjawaban manusia sebagai makhluk berpikir. Ya, manusia diakui kemanusiaannya karena kegiatan berpikirnya. Tesis pasaran yang kerap dikutip adalah cogito ergo sum cetusan Rene Descartes. Pengikut teori evolusi Darwin akan menimpali pendapat ini dengan tesis Aristoteles yang menyajajarkan manusia sebagai hewan berpikir (animal rationale)

Setelah saya pikir-pikir, sambil membuktikan kemanusiaan saya, saya memutuskan setuju dengan tesis-tesis tersebut. Persetujuan ini tanpa menisbikan bahwa di luar manusia juga ada makhluk yang berpikir. Merujuk, salah satunya, pada penelitian Irene Pepperberg di tahun 1977, bahwa betet abu-abu Afrika ternyata bisa diajak berkomunikasi. Hewan yang semula dianggap hanya bisa melakukan “itu-itu saja”, ternyata mampu berpikir untuk melakukan sesuatu di luar kebiasannya. Gajah disebut-sebut juga hewan cerdas yang menunjukkan bahwa ia berpikir. Bagaimana dengan hewan lain? Pertanyaan ini menunjukkan adanya olah pikir. Bagaimana dengan makhluk lain? Berpikir lagi!

Dan, membantah Darwin, makhluk-makhluk itu bukan kerabat manusia. Kata Darwin, kerabat manusia hanyalah ordo Primates.

Sadar sebagai manusia, yang salah satu kemampuannya adalah berpikirlah yang mengantarkan saya hengkang dari ruang pelatihan itu. Pikir saya, adalah bodoh membiarkan diri larut dalam kerja-kerja salah tersebut.

Saya memutuskan menolak bodoh! Tak akan saya membiarkan diri hanyut dalam proses yang menjauhi tugas kemanusiaan tersebut. Lewat tulisan ini, saya pun hendak memperluas ajakan supaya tak ada lagi yang larut dalam proses penjinakan itu.

Dalam pemikiran saya, penelitian, yang kemudian erat tautannya dengan penulisan, adalah sepenuhnya kegiatan berpikir. Proses dan hasil pemikiran tampak dalam menetasnya ide, pertama-tama, baru kemudian pembuktian ilmiah dan gerbong di belakangnya.

Penelitian, secara epistemologis, mestinya, berangkat dari ide. Ide terumuskan dalam topik penelitian, tujuan yang hendak dicapai dari penelitian, dan dampak penelitian pada masyarakat. Setelah ide tajam, barulah berbicara prosedur menempuhnya. Metodologi itu instrumen untuk menguji ide.

Forum dua hari itu memulai dari prosedur, yang setelah saya runtut, tidak bermuara ke ide. Alih-alih, forum tidak akan menghasilkan penelitian yang bermanfaat. Bagaimana tidak, sedari awal, materi yang disodorkan adalah aturan dalam penulisan judul, spasi, margin kiri-kanan-atas-bawah, jenis huruf, dll. Bukannya tidak penting namun, menurut saya, tata cara seperti itu urusan nanti. Hal remeh-temeh seperti itu bisa dikerjakan tidak sambil berpikir! Serahkan pada tukang ketik pinggir jalan juga kelar!

Kemajuan dunia tidak pernah dihasilkan dari pekerjaan teknis. Idelah pangkal setiap perubahan besar. Civitas academica, dalam hemat saya, mestinya mengambil peran besar, beride brilian, untuk perubahan dunia, bukan sedangkal berburu dana hibah, yang hasil penelitiannya teronggok di ruang arsip, steril dari akses publik, dan karenanya tidak berdampak apa-apa pada masyarakat. Menyedihkan!

Jangankan perubahan dunia, dengan metode cuci-otak lewat forum-forum seperti itu, akademisi terjauhkan dari tugas mulianya mencerdaskan bangsa. Mengekor prosedur keliru tersebut justru menyeret para akademisi patuh-budak pada rezim administrasi pendidikan yang membodohkan. Jangankan bertekun mencari kebenaran, terhadap kesalahan saja tumpul nyali.

Jika pendidik tunduk-bodoh, kepada siapa bangsa ini berguru?

 

Salam,

@AAKuntoA | aakuntoa@solusiide.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *