Menulis Bukan Hobi Saya

Menulis bukan hobi saya“Mas, ikut di kepengurusan asosiasi ya…,” ajak seorang teman pengusaha.

Siap, Pak. Apa kontribusi yang bisa saya berikan?

“Ya sesuai dengan pekerjaan Mas Kunto: humas,” terangnya.

Persisnya, humas seperti apakah yang dimaksud?

“Ya yang ngisi website, undang wartawan dalam konferensi pers, dan bikin press release,” lanjutnya.

Tidak. Saya menolak.

Dulu saya langsung terima penawaran seperti ini. Dulu saya pikir bagus bisa berorganisasi sambil mempraktikkan pekerjaan saya. Salah satunya humas itu. Pikir saya, kesesuaian dengan bidang pekerjaan akan membuat saya berkembang.

Nyatanya tidak. Alih-alih berkembang, saya mengalami jenuh luar biasa. Saya tidak menemukan pembeda antara pekerjaan dan hobi. Ya, berorganisasi adalah hobi saya. Bukan pekerjaan. Sebagai hobi, berorganisasi saya lakoni dengan gembira, total, dan tak mencari penghasilan di sana. Malah, sering kali, di organisasi, saya keluar uang lebih untuk “nomboki” keberlangsungan organisasi. Jadi, organisasi itu bukan tempat mencari penghidupan, melainkan tempat kita mengabdikan kehidupan.

Tentang penghidupan bagaimana? Urusan masing-masing anggota organisasi. Urusan saya.

Ini menariknya. Pekerjaan saya menulis. Saya menulis, baik atas nama pribadi, maupun atas nama klien. Saya juga mendampingi klien menulis, baik sebagai CoachWriter dalam sesi writing coaching, maupun sebagai trainer atau pembicara publik di kelas menulis.

Pekerjaan ini profesional. Salah satu ukurannya, saya dibayar atas pekerjaan yang saya selesaikan. Tidak murah. Saya dikenal sebagai penulis dan pelatih menulis yang mahal, baik bagi klien maupun bagi rekan sejawat yang menekuni profesi ini. Atau bayar mahal atau gratis sekalian untuk kalangan atau penakaran tertentu.

Mengapa mahal?

Pertama, menulis itu proses yang tak mudah. Beda dengan berbicara yang secara natural bisa langsung dipraktikkan sejak bayi, menulis mensyaratkan ketekunan khusus untuk bisa menguasainya.

Kedua, klien punya ekspektasi tinggi dari hasil menulisnya. Ekspektasi ini hanya bisa dijangkau dengan alat ukur yang kompleks.

Ketiga, menulis itu butuh persiapan yang khusus. Butuh membaca, butuh menyiapkan bahan, butuh berpikir, butuh menganalisis…butuh matang sebelum memasaknya. Dan saya selalu melakukan ini untuk setiap pekerjaan menulis. Walau menulis itu mudah, namun proses menulis itu tidak selalu mudah. Jika data yang terkumpul belum lengkap, sulit untuk segera menulis. Pun jika belum yakin akan isi tulisan, ketika selesai menulis pun tidak mudah untuk segera memublikasikannya.

Maka, saya enggan menerima permintaan menulis yang “gratisan”. Bukan berarti saya menolak jika tak ada bayaran. Saya banyak menulis tanpa dibayar. Dan itu saya lakukan karena pemberi pekerjaan menempatkan pekerjaan ini serius, tidak sambil lalu. Atau, tulisan itu saya untuk sumbangan sosial.

Permintaan “gratisan” yang saya minta adalah permintaan yang bernada menyepelekan. “Mas Kunto kan sudah biasa menulis, jadi kami minta untuk menulis,” nada seperti ini saya anggap sembrono. Dia hanya melihat sisi kebiasaan, tidak paham bahwa di balik kebiasaan itu ada kebiasaan askesif yang tidak ringan. Dia tidak tahu bahwa sebelum menulis saya gelisah menemukan ide dan angle. Dia tidak paham bahwa saat menulis otak kiri dan otak kanan beradu, antara godaan untuk mengalisis secara kritis dengan mengalir saja secara kreatif. Tak mudah mendamaikan pikiran itu.

Maka, jika ada kepengurusan atau kepanitiaan, saya minta mengerjakan hal-hal yang bukan pekerjaan harian saya. Biasanya, saya justru minta dilibatkan dalam pekerjaan-pekerjaan fisik: angkat kursi hingga jadi sopir jemput-antar. Itu pekerjaan yang mengasyikkan, yang tak menuntut saya harus berpikir keras seperti menulis. Saya tinggal melaksanakan.

@AAKuntoA
CoachWriter | www.solusiide.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *