Menulis, Mimbar Kebebasan Akademik Guru

Evan Christoper Situmorang sedang jadi pembicaraan. Siswa SMP Flora, Pondok Ungu, Bekasi tersebut dikabarkan meninggal usai mengikuti MOS (masa orientasi siswa). Entah benar entah tidak, tragedi ini jadi pembicaraan publik.

Ada pihak yang menginginkan kegiatan semacam ini dihapuskan. Mereka berpendapat, tidak ada gunanya perpeloncoan semacam ini. Dimensi kekerasan ditengarai lebih dominan daripada dimensi edukasi.

Di seberang, ada pihak yang berpendapat bahwa MOS merupakan kegiatan penting untuk membekali siswa aspek-aspek yang diperlukan selama menempuh pendidikan di sekolah. Beragam argumentasi dilontarkan untuk memperkuat pendapat mereka.

Di tengah perdebatan tersebut, saya menyoroti sikap para guru. Sejauh saya amati, tidak banyak guru yang mengemukakan pendapat perihal peristiwa seperti ini. Yang banyak berpolemik justru masyarakat umum yang kemudian beroleh tanggapan dari pejabat pendidikan. Guru seolah diam atas ontran-ontran yang menyangkut diri mereka ini. Jagat opini di media massa sepi dari pembelaan para guru.

Secara khusus, saya perlu sampaikan tentang ini mengingat pentingnya posisi dan pendapat guru di tengah masyarakat. Guru, bagaimana pun, masih didengarkan pendapatnya, dan diharapkan pendapatnya dapat dipercaya. Bukan hanya pendapat di depan kelas, di depan peserta didik, melainkan pendapat di tengah khalayak luas.

Pertanyaannya, apakah guru berani? Sepengamatan saya, belum banyak guru yang berani berpendapat. Bahkan, di depan kelas saja mereka sekadar menyampaikan materi yang mestinya mereka ajarkan. Sesuai silabus. Tidak lebih. Alih-alih mengkritisi, menambahkan saja tidak. Sesuai panduan. Aman.

Baru sedikit guru yang berani tampil ke permukaan, menulis opini di media massa. Dari yang sedikit itu, lebih sedikit lagi yang pendapatnya luar biasa. Rerata melontarkan pendapat yang biasa-biasa saja, normatif, yang memang sesuai norma belaka. Terobosan baru nyaris tidak muncul.

Padahal, UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen membuka luas ruang berekspresi. Namanya kebebasan mimbar akademik. Kebebasan ini mengizinkan guru mengekspresikan pikiran berbasis keilmuan yang ia kuasai. Bukan hanya di dalam lingkup sekolah, namun lebih luas lagi menjangkau publik lewat media massa, salah satunya.

Seperti tentang MOS dan kejadian-kejadian ikutan yang kerap menyertai, guru mestinya berani berdiri tegak menyampaikan pendapatnya jika memang mereka merasa benar. Sangat disayangkan, contohnya, beberapa sekolah menghentikan MOS akibat didatangi menteri dan diperintahkan menghentikan. Tidak ada upaya pembelaaan dari kalangan guru jika memang kegiatan yang mereka selenggarakan, atau mereka awasi di sekolah, memang dapat dipertanggungjawabkan. Mestinya guru berani berargumentasi, teguh dalam pendirian. Tentu, jika salah memang sebaiknya menghentikan.

Esoknya, kita tidak menemukan opini guru yang menegakkan pendirian untuk membela apa yang mereka lakukan. Entah, mungkin mereka takut. Mungkin sungkan. Mungkin juga tidak tahu harus berpendapat bagaimana. Atau, dalam konteks menulis opini di media massa, mereka tidak tahu efek seperti apa yang bakal ditimbulkan jika pendapatnya dibaca publik. Mereka tidak tahu bahwa berpendapat di media massa besar pengaruhnya bagi pemikiran publik dan pengambilan keputusan penyelenggara negara.

Atas potret seperti itulah, sebagai pengelola media massa, kami menggagas pelatihan menulis opini untuk guru. Kami ingin para guru berani berpendapat, berani berargumentasi, dan berani mempengaruhi pembicaraan publik dengan pemikiran yang baru dan bermutu. Pelatihan yang akan kami adakan minggu depan merupakan kali kedua. Kali pertama mendapatkan sambutan bagus sehingga kami perlu menyelenggarakan terus-menerus.

Jika ada yang bertanya secara spesifik apa yang bakal guru-guru dapatkan dengan mengikuti pelatihan menulis, dapat saya sampaikan bahwa pelatihan menulis sangat penting untuk menata pola pikir, melatih daya kritis, dan menyampaikan pendapat secara sistematis. Menulis opini tak sekadar rasan-rasan seperti di kerumuman jagongan. Menulis opini adalah pembicaraan yang terstruktur, mulai dari perumusan masalah, penguraian, hingga pengajuan solusi. Ini yang kemudian bisa disebut sebagai perwujudan kebebasan mimbar akademik, yakni berpendapat yang bertanggung jawab.

Dengan menulis, guru menjangkau publik lebih luas. Dengan menulis, guru menaikkan kelas sebagai pemikir yang dipercaya. Dengan menulis, guru memasuki kedalaman alam pikir yang membawanya lebih bijaksana. Keteladanan seperti ini yang penting bagi peserta didik, yakni ketika guru mengajarkan keberanian berpendapat lalu dilanjutkan dengan pemberian contoh lewat tulisan, peserta didik menemukan titik kepercayaan kepada gurunya. Jika tidak menulis, sulit bagi peserta didik menemukan kesesuaian omongan dengan tindakan gurunya.

Harap kemudian disadari, bahwa di tengah arus informasi yang begitu cepat, peserta didik membutuhkan sosok guru yang inspiratif. Salah satu inspirasi yang dibutuhkan peserta didik yang tumbuh sebagai generasi peralihan adalah keberanian. Guru yang menulis dapatlah mereka tatap sebagai guru yang berani, guru yang boleh dicontoh, guru yang boleh menjadi sumber inspirasi.

Jadi, siapa guru yang mau menegakkan pendapat tentang MOS dan aktivitas pendidikan lain di sekolah? Siapa guru yang membela Evan?

 

@AAKuntoA

CoachWriter, Pemimpin Redaksi HarianBernas.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *