Menulis Seasyik Ini…

Untuk mahasiswa baru, di hari-hari awal kuliah, saya langsung melatih mereka menulis. Semua mahasiswa, tidak terkecuali. Ini tradisi baru di perguruan tinggi, yang mewajibkan mahasiswa memiliki kompetensi sebagai penulis. Tidak mudah mengenalkan budaya menulis ini kepada mahasiswa yang di jenjang pendidikan sebelumnya tidak pernah dibiasakan menulis. Namun, saya berpikir sebaliknya, yakni bagaimana mengubah persepsi tersebut, yakni bahwa menulis itu mudah. Tulisan di bawah adalah tahapan yang saya tempuh untuk meyakinkan mahasiswa betapa menulis adalah aktivitas yang mudah dan menyenangkan. Saya melakukannya dalam diam. Tidak sedikit pun saya berbicara. Begitupun peserta. Mereka diam. Semua komunikasi lewat tulisan. Ini yang saya tulis di layar lebar:

Sebagaimana belajar berenang, tidak ada pilihan lain selain nyebur ke kolam. Juga, untuk belajar menulis, tidak ada jalan lain selain ambil pena, siapkan kertas, dan mulai menulis.

Maka, mulai sekarang, sampai saya perintahkan yang lain, tutup mulut, dan mulai menulis!

Sudah siap?

Tutup mulut, buka pikiran, bentangkan imajinasi!

Anda boleh bicara, dengan tutup mulut!

Anda boleh tertawa sekeras-kerasnya, dengan mulut terkatup!

Menulis itu senyap saat melakukannya. Kelak, baru akan meriah ketika kita sudah menghasilkan karya. Orang akan bertepuk tangan untuk tulisan kita. Sekarang, anda boleh bertepuk tangan: dalam hati.

Kelak kita akan terkenal berkat tulisan kita. Kelak. Impikan dari sekarang. Bayangkan, orang bersuka cita menyambut peluncuran buku kita. Mereka mengelu-elukan kita, meminta tanda tangan kita, dan menyebelahi kita untuk minta foto bareng. Ups, sekejap kemudian, mereka sudah memasang foto bersama kita di PP BB, di profile twitter mereka masing-masing. Mereka bangga berfoto bersama kita.

 

Ambil posisi duduk yang nyaman. Senyaman-nyamannya. Boleh mengubah arah duduk jika itu membuat anda jauh lebih nyaman. Nyamankan duduk, nyamankan diri, semua ide akan terbuka untuk anda.

Jika tulisan ini terlalu kecil, dekatkanlah diri anda sedekat mungkin dengan layar. Jika anda tidak paham dengan apa yang saya tuliskan, bertanyalah: dengan tulisan!

Mengangguklah jika paham: dengan tulisan! Tersenyum lebarlah jika tulisan ini menggelitik: dengan tulisan!

Kabarkan ke kiri-kanan anda tentang apa yang anda baca ini: pun dengan tulisan!

Sudah siap menulis? Tuliskan SIAP JADI PENULIS HEBAT besar-besar di kertas putih anda—jika kertasnya putih. Jangan biarkan kertas itu pucat tanpa goresan pena anda. Jangan pula jadikan tangan anda kaku hanya gara-gara tidak menulis.

Anda bingung? Tuliskan kebingungan anda. Ini dunia sunyi yang semuanya berkata-kata dengan tulisan. Ah, tidak hanya tulisan kata rupanya. Menggambar pun boleh. Panggil emoticon yang pernah anda kenal untuk menandai bahwa anda sedang tertawa, atau mengerlingkan mata, atau menggelengkan wajah tanda parno.

Sekarang, dengan kehebatan anda, dengan kebesaran pikiran anda, dengan kelembutan perasaan anda, hadirkan dalam imajinasi anda, 5 tahun lagi, anda sudah menjadi pengusaha seperti apa. Sesukses apa anda lima tahun lagi. Sebahagia apa keluarga anda 5 tahun lagi. Sebangga apa teman-teman anda. Semata-mata hanya karena mereka mensyukuri kesuksesan anda.

Yuk kita lanjutkan… sambil mendengarkan musik boleh lho. Putar musik yang ada dalam kepala anda. Dengarkan baik-baik supaya anda semakin nyaman dalam menulis.

Menulis apa? Ya, menulis tentang figur sukses anda lima tahun lagi. Apa nama perusahaan anda lima tahun lagi? Di mana lokasi kantor anda? Berapa ratus karyawan yang mesti anda sapa “selamat pagi” setiap anda turun dari mobil dan menuju ruang presiden direktur? Eh, benarkah anda jadi presiden direktur? Jangan-jangan…

Akhir bulan, mungkin di tanggal 25, atau tanggal 26 jika 25 jatuh di hari minggu, berapa angka rupiah yang mesti anda tanda tangani di atas cek untuk menggaji ratusan karyawan itu? Seratus juta? Tiga miliar? Apa yang anda rasakan sekarang ketika membayangkan semua itu?

“Terima kasih Bu. Uang gajian ini bisa saya gunakan untuk membayar utang di warung,” ujar Kunto, satpam kantor. Ah, rupanya selama ini dia suka ngebon hanya untuk makan saja. Dia yang tak bisa kelola uang, atau gajinya yang kurang banyak?

Apa yang anda rasakan ketika hidup anda menjadi berkah bagi banyak orang? Selebar apa senyum anda? Sebinar apa sorot mata anda. Sedalam apa simpuh sembayang anda?

Di penghujung tahun, selayaknya orang-orang sukses, anda boleh mengambil waktu untuk cuti. Seminggu boleh, sebulan boleh. Terserah anda, wong anda yang punya perusahaan. Mau liburan ke mana? Mengajak siapa? Wow, keren, ada yang berlibur di kutub selatan! Nah gitu donk, orang kaya kok liburannya ke Pasar Senen. Maaf, Pasar Senen bukan tempat berlibur menghabiskan duit. Pasar Senen buat buka usaha, meraup cash in flow. Hei, itu kan istilah waktu kuliah di kampus lima tahun yang lalu.

Cukup? Letakkan alat tulis anda, bersanding dengan doa-doa anda. Duh… susahnya menyuruh berhenti! Pada keenakan nulis rupanya. Hoiiiii… berhenti nulis hoiiii…

Katanya menulis itu susah, kok disuruh berhenti aja susah! Bohong berarti kalau ada yang bilang menulis itu susah.

Malah ada yang nulis, “Ketagihan Pak.” Wah repot ini, bisa-bisa menulis disejajarkan dengan narkoba karena bikin ketagihan. Siap-siap ditangkep hansip!

Pritttttt!!!! Sudah ya. Yang sudah angkat tangan. Yang belum angkat kaki! *ngusirmodeon*

 

Baik. Saya mengundang anda, secara bergantian, membacakan apa yang sudah anda tulis. Tentu, kali ini, anda boleh buka mulut. Omong keras malahan.

Nah, yang nggak maju tetep tutup mulut ya!

Silakan, siapa mau maju duluan? Heh, jangan rebutan!

Baca aja yang sudah ditulis Bung! Nggak usah pake pengantar!

Boleh menulis “tepuk tangan”.

Boleh menggambar “tangan bertepuk”.

Plok… plok… plokk…

Silakan langsung maju saja…

 

Stop!

Stop!

Kesempatan berlaku bagi yang maju lebih dulu. Silakan anda duduk.

Begitulah hidup. Silakan duduk!

Dalam hidup, kesempatan harus diperjuangkan! Direbut! Hanya yang berani memperjuangkan beroleh kesempatan!

Dalam hidup, waktu begitu terbatas. Tidak setiap saat kita berkesempatan membacakan apa yang kita tulis. Padahal, bisa jadi, banyak orang akan terinspirasi oleh tulisan kita.

Fakta lain: kita tidak pernah tahu apakah besok kita masih hidup! Maka, hanya mereka yang menulis yang bisa meninggalkan cerita tanpa kehadiran si penuturnya.

Sekarang, bayangkan, anda sudah mati. Wow, ngeri ya? Jangan khawatir, kan anda sudah menulis.

Ulurkan tulisan anda ke teman di sebelah kanan. Mintalah teman anda membaca dan mengomentari.

Baca dengan khidmat lagi hening. Torehkan komentar anda dengan jujur, apa adanya. Anda suka, tulis “wow, gue banget nih tulisan”. Anda kagum, tulis “kapan ya bisa ketemu penulisnya”.

Selesai? Geser ke teman sebelah lagi.

Ambil di ujung sana….

Yuk, baca cepat, komentar spontan… baca lagi… komentar lagi…

 

Saat menuliskan komentar, anda boleh meninggalkan nama, no hp, alamat email… siapa tahu perkenalan hari ini menjadi berkah di kemudian hari. Siapa tahu anda orang pertama yang akan diundang dalam pembukaan cabang ke-2.000 teman anda.

Yup, cukup. Anda boleh buka mulut sekarang…

 

Salam hebat,

@AAKuntoA

http://aakuntoa.com | aakuntoa@solusiide.com

5 Comments

Add Yours
  1. 1
    RiRi

    Saya juga kepengen bisa nulis Pak Kunto, tapi kok setiap pegang pena saya malah ga bisa nulis, padahal sebelumnya saya sudah berangan angan ingin menulis apa,,, hmm saya malu kalo cerita saya jelek..tulisan saya engga rapi, engga bisa dibaca alur ceritanya…

    • 2
      AA Kunto A

      Ada banyak cara menulis selain dengan pegang pena. Cara-cara yang mudah dan menyenangkan itu pasti anda punya. Dengan cara mudah dan menyenangkan itu pula rasa malu berganti menjadi bangga punya cerita unik dan menarik. Rayakan menulis!

  2. 3
    Kurnia

    Saya ingin sekali menulis dengan baik.tapi seringnya alur cerita ‘mosak masik’,meloncat kesana kesini.mungkin tulisan bergantung pada pola pikir/pendidikan?

  3. 4
    Sigit Kurniawan

    Alternatif menulis selain pegang pena adalah komputer atau mesin tik. Hi hi hi…intinya, menulis memang asyik, Kun. Menjadi penulis dan bukan tukang ketik. Demikian katamu, Jumat pekan lalu di Royal Ambarrukmo saat sore ancang-ancang rubuh di kota Jogja!

  4. 5
    AA Kunto A

    Mas Kurnia… Saya percaya setiap hal dalam hidup kita ini bertaut. Pola pikir dan pendidikan tentu salah satu yang mempengaruhi cara menulis kita. Pengaruh itu lebih tepat jika saya sebut “mewarnai”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *