Menulis untuk Siapa?

 

Saat ini saya sedang selesaikan buku 7 Steps of Writing Coaching. Saya menulisnya di sela-sela libur Lebaran, mengunjungi saudara dan tetangga untuk memohon maaf dan meminta sangu (hehehe), dan menikmati emping di dalam kaleng biskuit (hehehe lagi…)

Terketuk jawilan Coach Tjia Irawan di FB Indonesia Service & Sales Excellence Club, saya bagikan tulisan ini. Hmmm, sebagai penulis, pelayanan prima apa ya yang semestinya saya berikan? Dan, kepada siapa pelayanan prima saya unjukkan? Secara khusus, pertanyaan ini saya ajukan kepada diri saya sendiri bertautan dengan judul 7 Steps of Writing Coaching.

Selain akan saya terbitkan sendiri di penerbit milik saya, ada kemungkinan pula naskah akan saya tawarkan kepada penerbit lain yang berskala nasional, entah di grup Gramedia, grup Agromedia, atau grup Tiga Serangkai. Sedang saya timbang-timbang penerbit mana yang lebih luas menjangkau pembaca.

Naskah sudah siap. Sebelum saya kirim, tim saya sedang membaca ulang, memastikan isi lengkap sesuai janji di judul, tidak ada salah ketiak (eh, maksud saya salah ketik), serta ilustrasi memadai dan menarik. Supaya mempercepat persetujuan redaksi penerbit, tim kreatif saya juga sedang menyiapkan desain sampul yang ciamik, plus desain isi yang manis dibaca. Jika penerbit setuju, dan tidak ada revisi, kopi keras (hard copy) naskah segera bisa mendarat di meja redaksi penerbit untuk diteruskan selekasnya ke percetakan.

Oh ya, sebelum redaksi dicecar tim pemasaran tentang potensi penjualan buku saya, saya sudah siapkan bekal untuk redaksi tentang hal-ikhwal seputar tema buku ini. Riset pasar siap saya sertakan: penjualan buku tema sejenis, trend judul dan sampul, harga, ukuran, dan persebaran serapan pembeli. Saya bayangkan, tim pemasar langsung mengangguk ketika disodori naskah saya. Dan tersenyum sumringah, tentu saja, membayangkan segera mengunduh tambahan omset di bulan depan.

“Saya juga siap roadshow keliling kota dan desa untuk meluncurkan buku ini,” imbuh saya di surat pengantar kepada redaksi. Saya lampiri surat tersebut dengan jadwal pelatihan menulis yang sudah direncanakan beberapa klien. Jadwal itu akan terbaca sebagai: ini lho “captive market”-nya.

Di seberang sana, terbayang pula wajah-wajah pembaca yang duduk santai di sofa rumahnya, entah rumah kontrakan atau rumah dinas (glek!), menikmati lembar demi lembar buku yang berangkat dari pengalaman empirik saya meng-coaching penulis-penulis tersebut. Sebatang pena menemani mereka, untuk mereka corat-coretkan di buku yang memang semacam buku kerja  ini. “Ini yang saya butuhkan,” bisik mereka dalam hati, sambil diam-diam tangan mereka mengetikkan suara hati itu ke media sosial. Tersebar luas deh bisikan hati itu. Sampai-sampai seisi kota, yang sudah lama menantikan buku panduan paling enteng wujudkan mimpi menulis mereka, berbondong-bondong ke toko buku membeli buku setipis kurang dari 200 halaman ini. Yang malas ke luar rumah memilih untuk membeli secara online.

Sebulan sesudahnya, saya beroleh protes dari penerbit dan toko buku. Mereka kewalahan menerima naskah yang dikirim oleh penulis-penulis yang dalam waktu singkat berlomba-lomba merampungkan naskahnya memraktikkan panduan di buku 7 Steps of Writing Coaching. Karena penerbit panen naskah, dan menerbitkannya, toko buku kewalahan menjualnya. Mereka heran, musim paceklik buku yang kabarnya diakibatkan oleh beralihnya pembaca ke buku elektronik, malah bikin mereka kebanjiran pembeli.

Saat melamunkan kenyataan ini, sekonyong-konyong Thukul Arwana menjulurkan monyongnya, “Puas?”

 

Selesaikan menulis,

@AAKuntoA | CoachWriter

www.solusiide.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *