Muke Lu Jauh

Tahun 2014 ini kita memasuki yang disebut “tahun politik”. Magnet politik seakan begitu kuat menyedot perhatian kita semua. Tiada jeda untuk pembicaraan di luar itu. Jika pun ada jeda langsung diseret-seret ke politik.

Syahdunya, politik yang diagung-agungkan saat ini adalah politik awang-awang. Jauh citra dari pencitraan. Disparitas kenyataan terhadap harapan begitu lebar. Melompat ke seberang tak punya daya, bertahan pun sudah berjinjit di pelupuk jurang. Mungkin hanya rahmat yang bisa menyelamatkan.

Bagaimana tidak. Nilai tukar rupiah kita sudah terjun bebas, tembus di atas Rp 12.000 terhadap dolar Amerika Serikat. Terbuai oleh goyang oplosan bareng Soimah, nyaris tak ada yang mengeluhkan hantaman ekonomi ini. Para pebisnis pun tak kompak dalam menghalau tamparan yang bertubi-tubi memerah-padamkan tubuhnya. Bagaimana tak lebam. Buntut dari pelemahan rupiah dan berjayanya kartel impor, dunia bisnis dijerat dengan BI rate yang mencekik, yakni 8%, yang berimbas pada seretnya sektor kredit. Sudah tenggorokan tercekat, kita dibocori gas yang harganya meledak 68% untuk takaran 12 kg. Semoga iman masih sanggup memagari kita dari amuk.

Sudah begitu, para politisi berani-beraninya mengobral janji. Kebanyakan tanpa rekam jejak yang jelas sekonyong-konyong menawarkan formula manjur atasi sekam di atas. Bukan berani, tapi nekad. Dari kacamata bisnis, sudah jelas distribusinya macet, kosong, bahkan tak ada kepastian ketersediaan, kok berani-beraninya promosi. Super heboh pula kampanyenya. Jelas, bagi warga yang cerdas, promosi seperti itu bukan hanya tidak menjawab kebutuhan riil akan kestabilan harga, keringanan akses keuangan, dan ketersediaan barang, melainkan tipu daya yang menyesatkan.

Terang, terhadap kesenjangan itu, yang wajib diselesaikan dulu adalah distribusi ketenangan dan kepastian. Tak perlu mempertentangkan secara diametral pilihan politik-ekonomi kita yang cenderung menceburkan diri ke sistem pasar bebas, dalam kadar tertentu, negara perlu turun tangan memastikan kelancaran distribusi ini. Negara punya kepentingan akan suksesnya hajatan demokrasi-politik pemilu soalnya sehingga kendali terhadap beberapa kebuntuan ini bisa menguraikan.

Jika tidak dikelarkan secara tepat, aktivitas promosi bukan hanya mubazir namun berbalik menyerang, jadikan tahun politik ini  tahun kebangkrutan bangsa. Jangan sampai derita defisit neraca transaksi berjalan kita yang sudah meradang 27 bulan terakhir di angka 3,78% dari PDB makin memerosok. Jika itu terjadi, jangan salahkan kalau ada anak muda gaul menghardik sarkastis, “Muke lu jauh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *